Menularkan Spirit Hidup Hijau Versi penuh
Berita Lingkungan

Persoalan Lingkungan Menjadi Ruang Belajar Mahasiswa

Oleh Arman Jaya 15 Aug 2026 03:39 7 menit baca

Klikhijau.com - Persoalan lingkungan yang kompleks, mulai dari sampah, krisis iklim tekanan terhadap ekosistem mangrove, hingga kebutuhan memperkuat keterlibatan publik dalam isu lingkungan tidak cukup hanya dibicarakan di ruang kelas. Di tengah persoalan itu, mahasiswa memiliki kesempatan untuk belajar langsung, membaca masalah, merancang program, membangun kolaborasi, melakukan riset, sekaligus menguji pengetahuan akademiknya di lapangan.

Ruang belajar tersebut kini dijalani lima mahasiswa melalui program magang dan Proyek Kemanusiaan Kampus Berdampak (MBKM) di KlikHijau, Mereka terdiri atas tiga mahasiswa Program Studi Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum, Universitas Negeri Makassar (FIS-H UNM), yakni Nur Adriani, Ulfia Kalsum, dan St. Nashwa Wahdania Azis, serta dua mahasiswa Hubungan Internasional Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar (UINAM), Muhammad Yunus dan Reihan Zainal.

Selama sekitar empat bulan pada Semester Ganjil Tahun Akademik 2026/2027, kelima mahasiswa akan belajar di lingkungan kerja media dan organisasi lingkungan. Mereka berkesempatan terlibat dalam perancangan program, riset, kolaborasi, dan berbagai aktivitas yang bersinggungan langsung dengan persoalan sosial dan lingkungan.

KlikHijau bekerja sebagai platform media lingkungan yang mengembangkan kerja jurnalistik sekaligus terlibat dalam edukasi, kampanye, riset, dan kolaborasi di lapangan. Kanal utamanya dijalankan melalui KlikHijau.com dan berbagai media sosial, pengembangan kanal YouTube.

Di luar kerja media, tim KlikHijau terlibat dalam sejumlah isu yang bersentuhan langsung dengan masyarakat. Persoalan sampah menjadi salah satunya, melalui riset dan liputan bersama yang dikerjakan dengan jaringan media dan organisasi.

Isu mangrove juga menjadi bagian dari kerja tersebut, termasuk melalui kelompok daerah yang bergerak pada isu mangrove dan jejaring kolaborasi yang lebih luas.

Bagi mahasiswa, keterlibatan ini membuat persoalan lingkungan dapat dipelajari dalam bentuk yang konkret. Mereka bisa melihat persoalan ekologis melalui teori, juga berhadapan dengan kebijakan, perilaku masyarakat, kepentingan ekonomi, komunikasi publik, hingga kerja organisasi.

Persoalan sampah, misalnya, tidak selesai ketika sampah dipindahkan dari satu tempat ke tempat lain. Di belakangnya terdapat pola konsumsi, kebiasaan warga, tata kelola pemerintah, mata pencaharian kelompok tertentu, kepentingan ekonomi, serta penerimaan masyarakat terhadap kebijakan.

Karena itu, memahami dimensi sosial menjadi bagian penting sebelum sebuah intervensi dirancang.

KlikHijau juga memiliki sejumlah kegiatan yang dapat menjadi ruang belajar lapangan. Di antaranya kawasan dampingan yang diarahkan menjadi ruang edukasi dan kampanye mangrove, pendampingan kelompok masyarakat, serta rencana pengembangan rumah maggot bersama komunitas.

Aktivitas tersebut memperlihatkan bahwa kerja lingkungan tidak berhenti pada produksi informasi. Ada proses membangun hubungan dengan komunitas, merancang program, mengembangkan jejaring, melakukan kampanye, hingga mendampingi kelompok masyarakat.

Kehadiran mahasiswa dari dua bidang keilmuan membuka ruang pembelajaran yang berbeda. Mahasiswa Sosiologi dapat membawa perspektif tentang masyarakat dan dinamika sosial, sementara mahasiswa Hubungan Internasional memiliki latar keilmuan yang berkaitan dengan relasi antaraktor dan dinamika hubungan lintas kepentingan.

Namun, pengalaman di lapangan mempertemukan keduanya pada persoalan yang sama, bagaimana sebuah isu lingkungan dipahami, dikomunikasikan, dan dikerjakan bersama.

Di titik tersebut, kerja kolaboratif menjadi penting.

Direktur KlikHijau Makassar, Anis Kurniawan, mengatakan mahasiswa tidak hanya ditempatkan sebagai peserta magang yang menunggu instruksi. Mereka didorong untuk membangun inisiatif, membaca peluang, berkomunikasi dengan banyak pihak, dan berani mengambil tanggung jawab.

Pola magang semester ini bahkan diarahkan agar mahasiswa terlibat sejak tahap awal penyusunan program.

“Kita membangun sebuah program. Tidak hanya dari idenya, tapi mengelola sumber daya bersama. Nanti kita saling support,” kata Anis.

Mahasiswa yang memiliki kemampuan, keinginan juga dapat diberi kesempatan menjadi koordinator program. Tanggung jawab diberikan secara bertahap sesuai perkembangan mereka selama menjalani program.

Anis mendorong mahasiswa untuk tidak ragu menawarkan gagasan.

“Kalau ada ide apa pun, silakan bersuara. Misalnya, saya tertarik dengan kegiatan ini, bolehkah saya mengajukan ini?,” ujarnya.

Ruang tersebut bukan berarti mahasiswa bebas tanpa tuntutan. Kebebasan berinisiatif tetap disertai tanggung jawab untuk membuktikan bahwa sebuah gagasan layak dikerjakan.

Gagasan Jadi Program

Dosen pembimbing Program Studi Sosiologi UNM, Bahrul Amsal, mengingatkan mahasiswa agar menjadikan masa magang sebagai kesempatan untuk menguji kesiapan sebelum memasuki dunia dengan segala kompleksitasnya, termasuk dunia kerja.

“Untuk masuk ke dunia kerja, manfaatkanlah dengan baik waktu yang kalian miliki selama di KlikHijau,” ujar Bahrul.

Menurut Bahrul, KlikHijau memiliki model, karakteristik, dan pendekatan organisasi yang berbeda dari tempat magang lainnya. Karena itu, mahasiswa perlu memanfaatkan pengalaman tersebut sebaik mungkin.

“Rugi rasanya teman-teman selama di KlikHijau itu tidak memanfaatkan peluang yang sudah ada,” katanya.

Sementara itu, dosen pembimbing lainnya, Alwi Usra Usman, menjelaskan mahasiswa yang mengikuti skema proyek kemanusiaan telah mendapatkan pembekalan mengenai penyusunan program dan perencanaan anggaran.

Mereka datang membawa rancangan awal yang masih dapat disesuaikan dengan kebutuhan mitra.

“Teman-teman yang datang ke sini telah mengikuti pembekalan dan mereka akan menawarkan sebuah program, nanti bisa disesuaikan bersama KlikHijau (sebagai mitra), apakah memang ini relevan dengan program yang sedang berjalan atau tidak,” ujar Alwi.

Dengan demikian, proyek kemanusiaan menjadi ruang negosiasi antara gagasan mahasiswa dan kebutuhan mitra. Program yang baik tidak hanya menarik di atas kertas, tetapi juga harus dapat dikerjakan, memiliki tujuan jelas, memperhitungkan sumber daya, dan memiliki peluang memberi manfaat bagi masyarakat.

Anis menekankan bahwa pendekatan tersebut bertumpu pada kolaborasi dan pelibatan multipihak.

“Semua kegiatan kita itu semangatnya adalah kolaborasi, pelibatan multipihak. Karena di situlah kita belajar, belajar bertemu banyak orang, belajar mengonsolidasikan niatan yang berbeda,” katanya.

Bagi mahasiswa, pengalaman itu menjadi kesempatan memahami bagaimana berbagai aktor dapat memiliki kepentingan dan cara pandang berbeda terhadap satu persoalan.

Pada tahap awal, penguatan kemampuan liputan menjadi salah satu fokus kegiatan mahasiswa.

KlikHijau tengah menggodok produksi liputan lingkungan pada semester ini. Mahasiswa akan diarahkan terlibat dalam proses perencanaan jurnalistik, memahami isu yang akan diliput, hingga mengembangkannya menjadi karya jurnalistik.

Bagi mahasiswa yang memiliki minat menulis, aktivitas tersebut menjadi ruang untuk mengasah kemampuan secara langsung.

Dosen pembimbing Bahrul sebelumnya melihat potensi Nur Adriani yang memiliki ketertarikan pada dunia penulisan. Ketertarikan tersebut dapat dikembangkan melalui aktivitas jurnalistik di KlikHijau, mulai dari observasi, pencarian informasi, wawancara, hingga pengolahan narasi.

Anis juga mendorong mahasiswa membangun kebiasaan mendokumentasikan pengalaman sejak hari pertama.

Ia menyarankan mahasiswa membuat jurnal pribadi selama menjalani program.

“Beli buku catatan khusus, jurnaling selama magang. Dicatat tulisannya, apa yang dikerjakan. Kalau ada rasa-rasa yang kalian rasakan kurang nyaman, itu tulis saja di buku,” ujarnya.

Catatan tersebut dapat menjadi bahan acuan evaluasi perkembangan pribadi sekaligus pintu masuk menuju penelitian.

Alwi berharap observasi mahasiswa sejak bulan pertama dapat berkembang menjadi riset-riset kecil pada bulan berikutnya. Temuan selama berada di KlikHijau bahkan dapat menjadi pijakan untuk menentukan topik tugas akhir atau skripsi.

“Upayakan dari magang ini atau proyek kemanusiaan ini kemudian bisa hadir semacam riset untuk nanti membantu teman-teman ketika penyelesaian tugas akhir,” kata Alwi.

Dengan begitu, 900 jam program MBKM tidak berhenti sebagai hitungan administratif. Waktu tersebut dapat menjadi proses mengumpulkan pengalaman, data, pertanyaan, dan refleksi yang kemudian berkembang menjadi pengetahuan.

Mahasiswa dapat menggunakan pengalaman tersebut untuk membaca bagaimana masyarakat merespons isu lingkungan, bagaimana organisasi membangun gerakan, bagaimana media membentuk percakapan publik, atau bagaimana sebuah program lingkungan diterima oleh komunitas.

Belajar dari Ritme Lapangan

Pengalaman tersebut juga membawa mahasiswa pada ritme kerja yang tidak selalu dapat diprediksi.

Anis menjelaskan bahwa berberapa kegiatan di KlikHijau terkadang menuntut respons cepat. Rapat dapat berlangsung pada malam hari ketika ada kebutuhan mendesak, sementara kegiatan lapangan bisa muncul dengan waktu persiapan yang terbatas.

Ia menitikberatkan, dalam kerja jurnalistik dan kegiatan lingkungan, ketepatan waktu menjadi bagian dari profesionalisme.

Namun, proses tersebut tetap membutuhkan ruang bagi mahasiswa untuk bertanya, menyampaikan kesulitan, menerima koreksi, dan mencoba kembali. Ruang aman yang ditawarkan KlikHijau menjadi penting agar mahasiswa dapat belajar sekaligus menghadapi tuntutan belajar secara bertahap.

Program ini mempertemukan tiga unsur kunci yakni kampus, organisasi, dan persoalan lingkungan.

Kampus membawa teori dan kerangka berpikir. KlikHijau menyediakan ruang kerja serta pengalaman lapangan. Sementara persoalan lingkungan menjadi medan bagi mahasiswa untuk menguji kemampuan membaca realitas sosial.

Selama sekitar empat bulan ke depan, Nur Adriani, Ulfia Kalsum, St. Nashwa Wahdania Azis, Muhammad Yunus, dan Reihan Zainal akan menulis, meliput, mengamati, berdiskusi, merancang program, membangun relasi dengan berbagai pihak, serta berhadapan dengan persoalan yang mungkin tidak mereka temukan di ruang kuliah.

Jawaban atas pertanyaan tentang apa yang dapat dilakukan setelah bertahun-tahun mempelajari teori tidak akan lahir dalam sehari.

Ia bisa muncul dari sebuah liputan, percakapan dengan komunitas, program yang gagal lalu diperbaiki, catatan jurnal yang ditulis larut malam, atau sebuah gagasan yang akhirnya berhasil diwujudkan bersama.

Perjalanan tersebut ditandai dengan kedatangan dan penyambutan kelima mahasiswa di KlikHijau, Makassar. Mereka disambut Direktur KlikHijau Makassar, Anis Kurniawan bersama tim.

Bagi KlikHijau, kehadiran mahasiswa Sosiologi UNM memiliki kedekatan tersendiri karena keterhubungan isu dan kerjasama yang telah beberapa tahun berjalan.

Penyambutan itu menjadi penanda dimulainya perjalanan lima mahasiswa lintas disiplin ilmu untuk belajar persoalan lingkungan, juga tentang bagaimana sebuah persoalan dibaca, dibicarakan, dan dikerjakan bersama.

Topik terkait
Ekologi Sosial Krisis iklim Masyarakat Program Kolaborasi Edukasi