Perihal Burung Gereja dan Alasan di Balik Penamaannya

Klikhijau.com – Burung gereja. Seingat saya burung dari keluarga Passeridae ini hanya biasa ditemukan di kota atau pinggiran kota. Ia tidak akan terbang jauh hingga ke pelosok kampung atau desa. Mi...

Perihal Burung Gereja dan Alasan di Balik Penamaannya
Bacakan Artikel
Irhyl R  Makkatutu

Aktif menulis dan menyukai kopi di tengah kesibukannya mengaktivasi Taman Baca Masyarakat "tandabaca"

Menariknya, meski memiliki bulu yang indah dan suara yang lucu, nyaris tidak ada yang menjadikan burung ini sebagai peliharaan.

Pemiliki warna garis mata yang hitam dan pipi berwarna putih dengan bercak hitam ini, memliki paruh yang kuat yang bisa memecahkan biji-bijian.

Burung ini mudah dibedakan antara jantan dan betina. Jantan memiliki warna merah bata pada bagian atas kepalanya, ada warna hitam pada bagian tenggorokannya. Sedangkan tepi lehernya berwarna putih, dan bagian perutnya berwarna keabu-abuan.

Sementara burung gereja berjenis kelamin betina memiliki warna yang sama dengan jantan, hanya saja warna sedikit lebih pucat daripada si jantan.

Burung yang memiliki panjang tubuh 14 hingga16 cm ini saat sudah dewasa akan berwarna cokcaah kemerahan dengan kepala cokelat, garis mata hitam dan pipinya putih dengan bercak hitam di tengah pada bagian atasnya. Dan bagian berwarna keabu-abuan dengan nada kecoklatan pada sisi-sisinya.

Jika ditelisik, burung pemilik berat 0,8-1,4 ons ini, mudah temukan hampir di seluruh Indonesia, baik di perkotaan maupun pedesaan, khususnya pada ketinggian 1500 mdpl.

Dilansir dari Kumparan, asal usul nama burung gereja berawal dari keseringannya bertengger dan bersarang di gereja.

Konon ketika kali didatangkan ke Jawa dan Sulawesi. Burung dari ordo Passeriformesini mencari tempat “beristirahat” di dalam sebuah bangunan yang tinggi dan besar.

Dikarenakan tidak bisa terbang terlalu tinggi, dan gereja adalah bangunan yang dianggapnya cocok,  maka mereka memilih bertengger  di gereja.

Karena sering berada di gereja, burung ini lalu bersarang di atap atau langit-langit gereja. Mereka menjadikan gereja sebagai tempat nongkrong.

Karena keseringan itu, akhirnya dinamailah oleh masyarakat burung gereja hingga kini.

Pilih Halaman:
  • 1
  • 2