Perihal Buncis dan Pengalaman Pertama Memanennya
Klikhijau.com – Jam belum menunjukkan angka 7 pagi. Fikar telah mengechat via WhatsApp. Isinya, ajakan untuk memanen buncis. Itu panen pertama dari buncis yang ditanamnya 28 Januari 2024 lalu. Dan...
Klikhijau.com – Jam belum menunjukkan angka 7 pagi. Fikar telah mengechat via WhatsApp. Isinya, ajakan untuk memanen buncis.
Itu panen pertama dari buncis yang ditanamnya 28 Januari 2024 lalu. Dan pada hari Rabu pagi, 20 Maret 2024 telah memasuki masa panen.
Saya mengiyakan saja. Lalu segera meluncur ke Dusun Sapayya, Desa Kindang. Di mana lokasi lahan buncis itu berada.
Lahan buncis itu, adalah bagian dari pengembangan ekowisata Tandabaca di Desa Kindang. Lahannya tidak terlalu luas. Hanya memuat 2 bungkus lebih bibit buncis yang berisi 500 gram.
[irp]
Meski tidak luas, lahan tersebut dikelola dengan sangat baik oleh Fikar, seorang petani milenial Desa Kindang. Boleh dibilang, Fikar adalah salah satu pelopor pertanian hortikultura, khususnya sayur mayur di Desa Kindang, Kecamatan Kindang, Bulukumba.
Karena dikelola dengan baik, maka buncis yang ditanamnya pun tumbuh subur. Buncis itu ditanam di lahan bekas sawah yang telah lama kulang “Tidak digarap”. Hanya ditanami beberapa pohon cengkeh saja yang tumbuh mencemaskan.
Karena pohon cengkehnya antara ingin tumbuh dan enggan. Maka, dialihfungsikanlah menjadi lahan sayur mayur.
Untuk tanaman pertama, jatuh pada buncis. Mengingat masa panennya cepat dan dapat dipanen di bulan Ramadan ini.
Memanen buncis, sebenarnya bukanlah hal pertama bagi saya. Ibu sering menanamnya. Namun, buncis yang ditanam oleh Fikar berbeda dari yang sering Ibu.
Buncis yang sering ditanam oleh Ibu dan masyarakat di Desa Kindang. Masa panennya adalah ketika buahnya telah matang. Tanaman kacang buncis ini telah turun temurun dibudidayakan di Desa Kindang.
[caption id="attachment_30669" align="aligncenter" width="1560"] Lahan buncis yang siap dipanen buahnya-foto/Ist[/caption]
[irp]
Ada dua jenis kacang buncis yang umum dibudidayakan di kampung saya, campe’ lala’ dan campe biasa. Campe’ adalah nama yang disematkan pada buncis oleh masyarakat di kampung saya itu.
Campe’ lala’ berarti buncis yang merambat. Jenis ini harus menggunakan ajir agar bisa tumbuh dengan baik. Sementara campe’ biasa, tidak perlu menggunakan ajir. Namun, ada persamaan keduanya. Masa panennya saat buah atau bijinya telah matang.
Sedangkan buncis yang ditanam oleh Fikar berbeda. Buncis jenis ini yang dikejar bukanlah bijinya, tetapi lapi-lapi (buahnya yang berwarna hijau).
“Ini buncis salju,” kata Fikar perihal jenis buncis yang ditanamnya.
Memanen pertama jenis buncis ini bukanlah perkara mudah. Sebab masih harus dipilih, mana yang layak panen dan mana yang belum. Apalagi ini panen pertama. Berbeda dengan kacang buncis, terkadang dipanen sekaligus saat telah matang bijinya.
Belum lagi memanennya tidak menggunakan tangan kosong, tapi menggunakan gunting. Karena panennya tidak hanya sekali tapi bisa hingga enam kali. Maka harus hati-hati agar tidak tercerabut atau terputus batang dan tangkainya.
[irp]
Selain memanen buahnya, kita juga mesti melakukan pruning, yakni memangkas daunnya yang telah tua atau dianggap menghalangi pertumbuhannya, khususnya pada buah.
“Panen pertama biasanya masih sedikit,” jelas Fikar.
Apa yang dikatakan Fikar memang terbukti. Sebab yang berhasil dipanen pada hari itu. Dengan waktu panen sekitar dua jam lebih dengan 4 orang yang memanen. Hanya mendapatkan dua karung, yakni karung yang biasa digunakan menampung pupuk.