Perihal Bekantan dan Kunjungan Wamenhut ke TWA Pulau Bakut
Klikhijau.com – Bekantan atau yang juga dikenal dengan nama monyet Belanda merupakan limpahan keanekaragaman hayati Pulau Kalimantan (Borneo). Primata yang hanya ditemukan di Kalimantan ini termasuk...
Klikhijau.com – Bekantan atau yang juga dikenal dengan nama monyet Belanda merupakan limpahan keanekaragaman hayati Pulau Kalimantan (Borneo). Primata yang hanya ditemukan di Kalimantan ini termasuk sub famili Colobinae yang memiliki sistem pencernaan seperti hewan ruminansia.
Satwa dengan nama ilmiah Nasalius lavartus ini memiliki keunikan tersendiri, perut sangat besar yang terbagi menjadi empat bagian dan dipenuhi bakteri yang memfermentasi makanan sehingga memungkinkan primata ini memperoleh energi dengan mencerna dedaunan.
Ukuran perutnya yang besar sebagai akibat dari kebiasaan mengkonsumsi makanannya yang selain mengonsumsi buah-buahan dan biji-bijian mereka juga memakan dedaunan yang menghasilkan banyak gas pada waktu dicerna.
Sistem pencernaannya yang khusus dan teradaptasi dengan hutan menyebabkannya kurang mampu hidup di areal terbuka atau habitat buatan.
[irp]
Makanan utama bekantan adalah daun-daunan, bunga, buah-buahan mentah dan biji-bijian. Bekantan membantu regenerasi hutan dengan menebarkan biji-bijian yang dimakannya.
Keunikan lain yang dimiliki bekantan adalah hidungnya yang besar terutama pada individu jantan. Hal ini diduga berkaitan dengan pengaturan suhu tubuh. Karena hidungnya inilah, bekantan dikenal juga sebagai Monyet Belanda.
Panasnya hutan rawa pesisir dan ukuran tubuh bekantan yang cukup besar serta rongga fermentasi dalam perutnya menghasilkan panas yang menyebabkan bekantan kesulitan untuk menjaga suhu tubuhnya.
Hidung yang besar menyediakankan ruang yang lebih luas untuk membuang panas tubuh. Selain itu, hidung tersebut juga menjadi daya tarik seksual karena betina lebih menyukai jantan berhidung besar.
[irp]
Bekantan jantan berukuran lebih besar dari betina. Ukurannya dapat mencapai 75 cm dengan berat mencapai 24 kg. Bekantan betina berukuran sekitar 60 cm dengan berat 12 kg.
Penyebaran bekantan sangat terbatas di hutan rawa pesisir terutama mangrove, hutan rawa gambut serta hutan di sekitar sungai besar (riparian). Keberadaan bekantan terancam akibat degradasi habitat dan perburuan.