Perempuan Punya Kekuatan Khas dalam Perlawanan Kasus Lingkungan
Klikhijau.com - Perempuan bukan hanya korban dari kerusakan lingkungan, tetapi juga pemegang kekuatan besar dalam melawan ketidakadilan ekologis. Dalam banyak kasus, mereka berada di garis depan perla...
Klikhijau.com - Perempuan bukan hanya korban dari kerusakan lingkungan, tetapi juga pemegang kekuatan besar dalam melawan ketidakadilan ekologis. Dalam banyak kasus, mereka berada di garis depan perlawanan—bukan karena pilihan, tetapi karena kehidupan mereka yang paling terdampak.
Keterlibatan perempuan dalam advokasi lingkungan lahir dari pengalaman langsung dan keterikatan yang kuat terhadap alam sebagai sumber kehidupan, bukan sekadar wacana. Hal ini ditekankan Rahmawati, aktivis perempuan sekaligus lawyer yang banyak terlibat dalam kasus-kasus lingkungan pada Webinar yang digelar Klikhijau, Rabu (30/4/2025).
Dalam kerangka ekofeminisme, perempuan dipandang memiliki kedekatan historis dan emosional dengan alam. Pemikiran ini menyoroti bahwa penindasan terhadap perempuan dan eksploitasi terhadap alam berasal dari akar sistem yang sama: patriarki dan dominasi kekuasaan.
Dalam sistem ini, perempuan dan alam dianggap lemah, bisa dieksploitasi, dan tidak layak dilibatkan dalam pengambilan keputusan. Namun kenyataannya, perempuan memiliki kekuatan luar biasa—baik dalam pengetahuan lokal, keberanian vokal, maupun kekuatan solidaritas.
“Contoh kekuatan ini terlihat jelas ketika perempuan, khususnya ibu-ibu, turun langsung ke jalan dalam aksi protes. Kehadiran mereka sering kali lebih kuat dampaknya dibandingkan laki-laki, karena membawa narasi yang menyentuh dan tidak mudah diabaikan. Mereka mampu menggerakkan simpati publik, sekaligus menunjukkan bahwa suara yang selama ini dipinggirkan justru memiliki kekuatan moral yang besar. Dalam konteks ini, perempuan tidak hanya hadir sebagai pendukung, tetapi sebagai pemimpin perjuangan,” cerita Rahma.
[irp]
Rahma menambahkan, kekuatan perempuan juga terletak pada cara mereka mengorganisir komunitas, membangun solidaritas, dan menyampaikan pesan melalui berbagai pendekatan, mulai dari kampanye digital hingga aksi massa. Mereka memadukan empati dan ketegasan, menggunakan pengalaman hidup sebagai alat perlawanan, dan menyuarakan perubahan dari ruang yang paling kecil sekalipun.
“Namun, perjuangan ini tidak lepas dari tantangan. Ketimpangan hukum, diskriminasi struktural, dan kurangnya ruang dalam pengambilan keputusan masih menjadi hambatan besar. Karena itu, penting bagi perempuan untuk terus diberi ruang, akses, dan dukungan agar kekuatan mereka semakin diakui dan berdampak,” tuturnya.
Pada akhirnya, perlawanan lingkungan tidak akan lengkap tanpa perempuan. Mereka bukan hanya bagian dari solusi—mereka adalah pusatnya.
"Keberanian, ketekunan, dan kebijaksanaan perempuan adalah fondasi kuat dalam menjaga bumi dan memperjuangkan keadilan ekologis," tutupnya.
[irp]