Penutupan Taman Nasional, Cara Bijak Lindungi Kera Besar dari Covid-19
Klikhijau.com - Suasana mencekam masih menerjang. Entah kapan akan usai. Manusia dikepung cemas dan takut. Untungnya, dunia satwa masih bebas dari serbuan Covid-19. Jika saja terjadi, betapa merepotka...
Klikhijau.com - Suasana mencekam masih menerjang. Entah kapan akan usai. Manusia dikepung cemas dan takut. Untungnya, dunia satwa masih bebas dari serbuan Covid-19. Jika saja terjadi, betapa merepotkannya. Maka penutupan Taman Nasional (TN) adalah salah satu langkah yang dianggap bijak. Apalagi ada beberapa satwa atau primata, khususnya kera besar dianggap rentan terpapar virus corona.
Meski belum ada satwa yang diidentifikasi terpapar virus corona atau Covid-19. Namun, langkah antisipasi telah di lakukan dibeberapa taman nasional di Afrika. Mereka menutup untuk sementara sebagai langkah pencegahan untuk melindungi kera besar dari wabah virus corona, termasuk gorilla
Sebagaimana diketahui bahwa gorila dan anggota lain dari keluarga kera besar dapat terkena demam dan penyakit pernapasan lainnya yang ditularkan dari manusia. Karenanya para ahli konservasi alam menyerukan tindakan mendesak untuk melindungi kerabat terdekat manusia, kera besar seperti orang utan, gorilla hingga simpanse dari ancaman virus corona.
[irp]
Maka menutup taman nasional yang menjadi rumah bagi kera besar dianggap sebagai langkah pencegahan yang baik. Apalagi mereka merupakan spesies langka dan terancam punah.
Selain langka, para ilmuwan juga menganggap primata, termasuk gorilla gunung kemungkinan rentan terhadap komplikasi yang timbul dari virus corona. Para ilmuwan mengatakan wabah yang sedang melanda dunia telah mengirimkan peringatan besar. Penyakit menular kini masuk tiga teratas dalam daftar ancaman terhadap beberapa kelompok kera besar.
"Kita tidak tahu apa efek virus ini terhadap mereka dan ini berarti kita harus mengambil langkah waspada. Ini untuk mengurangi risiko kera-kera besar terpapar virus corona," kata Profesor Serge Wich dari Liverpool John Moores University, Inggris, seperti yang dimuat Viva.
Wich juga menyarankan agar menghentikan kegiatan wisata sudah dilakukan di banyak negara, termasuk mengurangi riset dan sangat berhati-hati dalam menerapkan program pengembalian kera besar ke habitatnya.
“Juga secara potensial menghentikan kegiatan penjelajahan di habitat kera besar yang membuat manusia berdatangan ke sana, dan berpeluang membuat kera-kera ini terpapar virus, terinfeksi dan memungkinkan terjadinya penularan sesama mereka,” sarannya.