Penggunaan Masker Sekali Pakai Lahirkan Bukitan Sampah Plastik
Klikhijau.com - Saya punya teman, ia laki-laki. Ia suka membeli masker untuk merawat wajahnya. Teman saya itu laki-laki tulen, maksudnya bukan waria atau gay. Ia menyukai lawan jenisnya. Ia memang...
Klikhijau.com - Saya punya teman, ia laki-laki. Ia suka membeli masker untuk merawat wajahnya. Teman saya itu laki-laki tulen, maksudnya bukan waria atau gay. Ia menyukai lawan jenisnya.
Ia memang suka perawatan, suka melihat wajahnya bersih. Yang ia biasa beli adalah masker sekali pakai, yang kebanyakan kemasannya adalah plastik.
Masalahnya bukan pada perawatan atau maskernya, tapi pada pembungkusnya yang rupanya berperan tinggi dalam produksi sampah plastik
Seorang aktivis lingkungan dan pendiri Package Free Shop, Lauren Singer, mengumumkan bahwa masker lembaran tanpa sadar sama dengan tumpukkan sampah yang dikemas cantik.
[irp]
"Masker adalah sampah, karena tiap lembarnya dibungkus plastik," Ungkap Singer.
Pernyataan Singer itu ditulis oleh Putu Elmira di Liputan6, Jumat 18 Oktober 2019 dengan mengutip dari Vogue.
Telah terlampau sering kita temukan aturan pelarangan penggunaan kantong plastik, sedotan plastik atau botol plastik sekali pakai. Namun, tak ada larangan penggunaan kemasan lain yang berbahan plastik seperti kemasan masker sekali pakai.
Di London Fashion Week, beberapa rumah mode menjanjikan netralitas karbon dan masih banyak lagi aksi konservasi lingkungan. Tapi, mengapa merek kosmetik gencar memroduksi masker sekali pakai yang bekasnya hanya akan menjadi sampah.
[irp]
"Beberapa produk kecantikan seperti makser atau tisu rias sekali pakai menimbulkan sampah yang tidak perlu," kata Susan Stevens, pendiri dan CEO Made With
Keberadaan kemasan plastik pada masker sekali pakai, mengancam kehidupan tanah dan lautan. Stevens menjelaskan, kantong wadah masker biasanya merupakan kombinasi dari aluminium dan plastik yang tidak dapat didaur ulang.
Lembaran plastik kaku di bagian dalam, kemungkinan tidak dapat diproses di pabrik daur ulang. Katanya, paling hanya berakhir di tempat pembuangan sampah, atau paling buruknya akan menggenang di lautan.
Sedangkan maskernya, biasanya dibuat dengan campuran bahan sintetis, seperti nilon, serat mikro plastik, atau poliester. Menurut Jeannie Jarnot, pendiri Beauty Heroes mengatakan dengan jelas,