Peneliti Jepang: Konsentrasi Obat tidak Terikat Protein Plasma pada Darah
Klikhijau.com – Peneliti dari Laboratorium Pharmacotherapeutics Molekul, Universitas Kanazawa Jepang, Prof Yukio Kato, menyebut konsentrasi obat tidak terikat protein plasma pada darah. Hal itu dis...
Klikhijau.com – Peneliti dari Laboratorium Pharmacotherapeutics Molekul, Universitas Kanazawa Jepang, Prof Yukio Kato, menyebut konsentrasi obat tidak terikat protein plasma pada darah.
Hal itu disampaikan Prof Kato pada sebuah Webinar bertema "Change in Transporter Mediated Drug Disposition in Non-Injured Organs During Liver/Kidney Failure" yang digelar Fakultas Farmasi Unhas, Jumat 07 Agustus 2020.
Dalam sesi Webinar tersebut, Prof. Yukio Kato memaparkan pengaruh gangguan pada ginjal dan hati di beberapa kondisi patologis terhadap profil beberapa obat dalam tubuh manusia dan hewan.
Sebelum membahas lebih lanjut, Prof Kato menjelaskan pentingnya mengetahui konsentrasi obat yang tidak terikat dengan protein plasma pada darah. Hal ini disebabkan karena obat yang tidak terikat ini akan mempengaruhi timbulnya efek samping pada tubuh.
[irp]
Prof Kato juga menjelaskan tiga hasil penelitian yang berkaitan dengan topik penelitiannya. Salah satunya, penelitian tentang profil farmakokinetika metabolit aktif dari obat antikanker irinotecan, yaitu SN-38 pada pasien gagal ginjal.
Pada penelitian ini, Prof Kato menemukan bahwa pada pasien gagal ginjal terjadi peningkatan konsentrasi SN-38 pada plasma yang mengakibatkan AUC SN-38 meningkat sebanyak 1,7 kali jika dibandingkan dengan pasien yang normal.
"Setelah dilakukan penelitian lanjutan, konsentrasi dan AUC dari SN-38 yang tidak terikat pada protein plasma meningkat masing-masing sebanyak 2,6 kali dan 4,4 kali. Dengan demikian, potensi efek samping yang dihasilkan akan meningkat," jelasnya.
Diketahui, pemeriksaan patologi dalam pengujian mutu obat hewan dilakukan untuk memeriksa dan mengkonfirmasi terhadap adanya kelainan suatu produk obat baik produk biologik seperti vaksin virus dan bakteri maupun produk farmasetik seperti antibiotik dan obat umum. Pemeriksaan patologi yang dimaksud adalah terhadap uji keamanan (safety test) maupun uji potensi (potency test).
[irp]
Penguji di Unit Uji patologi terdiri dari:
1 Orang Dokter Hewan yang memiliki sertifikat penguji obat hewan
1 Orang Paramedik dengan melakukan pemeriksaan yang dilakukan di unit uji patologi antara lain :
-
Pemeriksaan Makropatologi / Nekropsi
- Pemerikaan Histopatologi
-
Pemeriksaan Rabies dengan Metode Histopatologi
-
Konfirmasi Perubahan Patologi Pada Uji Keamanan Vaksin IBD / Gumboro
-
Konfirmasi perubahan patologi pada uji potensi vaksin AI.