Apa yang Bisa Kita Pelajari dari Jepang tentang Kebersihan?

oleh -771 kali dilihat
Apa yang Bisa Kita Pelajari dari Jepang tentang Kebersihan?
Seorang petugas membersihkan jalan di Jepang/foto-IDN Times
Irhyl R Makkatutu

Klikhijau.com – Bukan Jepang kalau tidak selalu memukau tentang sikap mereka terhadap kebersihan. Bukan cuma di negara mereka, tetapi mereka selalu menunjukkan di luar ketika berada di negara lain. Beberapa kejadian yang mungkin sempat kita tahu karena sempat viral.

Pendukung Timnas Jepang memunguti sampah-sampah mereka ketika pertandingan usai, entah timnya menang atau kalah pada perhelatan Piala Dunia di Brazil (2014) dan Rusia (2018). Tindakan terpuji ini tidak hanya ditunjukkan oleh suporter mereka, tetapi para pemainnya sendiri. Ruang ganti para pemain bersih dari satu sampah pun. Kondisinya sama seperti semula.

Kordinator General FIFA, Priscilla Janssens, bahkan men-tweet, “What an example for all teams!”, yang kemudian menjadi viral.

Atau beberapa jemaah haji dari Jepang ketika melaksanakan ritual keagamaan ke Mekkah memunguti sampah-sampah yang dibuang oleh para jemaah dari negara-negara lain.

KLIK INI:  Hasilkan Rp. 12 Juta, Ini yang Dilakukan Bank Sampah Cendana Dharma Wanita BLI KLHK

Atau yang paling ekstrim mungkin, ritual para petugas Shinkansen (kereta api cepat) yang membersihkan ruang kereta hanya dalam tujuh menit. Bahkan atraksi ini menjadi tontonan tersendiri bagi para turis.

Saat kuliah di Amerika Serikat, saya menyaksikannya sendiri. Saya memiliki beberapa teman dari Jepang. Kami seapartemen. Dapur kami adalah dapur umum. Dengan begitu saya bisa melihat perilaku mereka terhadap kebersihan.

Jika saya atau yang lain biasa menumpuk barang-barang di meja dapur ketika masak, berbeda dengan mereka yang dari Jepang. Mereka tidak akan menumpuknya.

Keadaan kompor dan meja akan sebersih sebelum dan sesudah mereka masak. Meski mereka tahu jika di tempat kami ada petugas yang yang berkewajiban membersihkan dapur.

KLIK INI:  Masaro, Solusi Mudah Pengelolaan Sampah Organik

Padahal mereka ini masih remaja. Rata-rata teman saya itu adalah mahasiswa awal yang datang ke Amerika untuk belajar Bahasa Inggris selama dua bulan. Remaja seusia mereka biasanya seusia mereka di Indonesia sebagaimana beberapa teman Indonesia yang saya kenal justru rajin membuang sampah di jalanan atau ketika diajak membersihkan sampahnya di kantin akan berceloteh,

“Adaji petugasnya. Di gaji pula. Biar ada kerjanya.”

Kebersihan adalah rutinitas

Apa yang membuat orang-orang Jepang begitu peduli dengan kebersihan meskipun mereka tidak sedang berada di negaranya? Meski tidak ada yang mengawasi? Atau ketika tempatnya tidak menuntut kebersihan setingkat kebersihan di negaranya?

“Selama 12 tahun bersekolah, dari SD sampai SMA, kebersihan adalah bagian dari rutinitas kami.” Setidaknya begitulah pendakuan Maiko Awane, asisten direktor di salah satu kantor pemerintah di Jepang sebagaimana dikutip dari BBC.

KLIK INI:  Tolong, Jangan Panggil Saya "Kamu Bau!"

Sebagai sebuah rutinitas yang dibiasakan, rutinitas tersebut menjadi semacam kewajiban yang membuat mereka merasa tidak nyaman jika melakukannya. Rutinitas itu pula yang menumbuh menjadi kesadaran hingga mereka besar.

Bisa jadi kadang mereka ogah untuk membersihkan. Namun, karena sistem budaya yang telah terbangun sekian lama membuat mereka merasa tidak enak hati.

Mereka telah dibiasakan menjaga kebersihan. Dan bukan hanya di sekolah tetapi juga keluarganya di rumah. Anak-anak mereka diajarkan untuk membersihkan ruangannya.

Kebiasaan ini berlanjut tidak hanya di ruangan dan rumahnya ketika besar tetapi meluas menjadi tanggung jawabnya dalam skala lebih besar di masyarakat dan negara.

Mereka tidak ingin meninggalkan kesan buruk kepada orang lain. Mereka tidak ingin dipandang sebagai bukan orang terdidik yang tidak peduli dengan lingkungan dan orang lain.

KLIK INI:  Inovasi Alat Makan dari Gandum, Sebuah Upaya Selamatkan Lingkungan