Peka dan Resah, Kunci Utama Tumbuhkan Perilaku Ramah Lingkungan
Klikhijau.com – Pertemuan singkat saya dengan tiga gadis remaja tadi siang. Kian menebalkan kesimpulan saya perihal perilaku ramah lingkungan. Ketiga gadis remaja itu, Nurnabilla Syfadewi Attaya (N...
Klikhijau.com – Pertemuan singkat saya dengan tiga gadis remaja tadi siang. Kian menebalkan kesimpulan saya perihal perilaku ramah lingkungan.
Ketiga gadis remaja itu, Nurnabilla Syfadewi Attaya (Nabila 16), St Rahma Rahim (Rara), dan Nawarrah Liyana Zafira Aminanti (Liyana) bukanlah gadis remaja pemuja mager alias malas gerak.
Keresahaan dan kepekaan kepada lingkunganlah yang menyebabkan ketiganya tidak masuk dalam golongan kaum rebahan seperti yang melanda banyak remaja.
Ketika ketiganya melihat tisu begitu mudah ditemukan di ruang kelasnya atau di toilet sekolah. Ketiga siswa yang masih di duduk di bangku kelas 2 SMA Islam Athirah itu berinisiatif untuk melakukan sesuatu.
[irp]
Ketiganya kemudian mencari cara bagaimana bisa mengatasi masalah tisu. Caranya adalah mereka banyak membaca, mencari referensi agar bisa menyelamatkan Bumi dan lingkungan dari ancaman tisu, juga menyelamatkan pohon yang jadi bahan baku pembuatan tisu.
Hasil pencarian mereka meruncing pada tanaman liar eceng gondok. Eceng gondok adalah tanaman yang mudah ditemukan, menjamur di musim hujan memenuhi kanal-kanal Makassar.
Mereka memilih eceng gondok karena memiliki serat yang tinggi, serat adalah bahan utama pembuatan tisu.
Setelah uji coba tiga kali dan gagal, pada percobaan keempat mereka akhirnya berhasil menciptakan tisu dari eceng gondok.
“Kami spontan menangis begitu hasil penelitian kami berhasil,” ujar Nabila, Rabu, 19 Februari 2020
Inovasi itu mengantarkan mereka menyabet juara dua di Bandung pada lomba di bidang lingkungan. Mereka mengalahkan banyak pesaing, yang juga terdiri dari mahasiwa utusan beberapa perguruan tinggi.
Kenapa ketiga gadis remaja itu mampu menciptakan dan memikirkan untuk membuat inovasi produk ramah lingkungan, karena mereka resah melihat penggunaan tisu yang tinggi di masyarakat.
“Awalnya karena kami lihat penggunaan tisu cukup tinggi, terus bahan baku tisu adalah pohon. Bayangkan berapa pohon harus ditebang untuk memenuhi kebutuhan tisu,” ungkap Liyana diamini kedua temannya.