Paradoks Pandemi, Ekologi dan Ekonomi

Klikhijau.com – Di saat para saintis dunia sibuk meneliti kemungkinan hidup di planet lain. Tetiba pikiran mereka ditarik kembali ke bumi lantaran pandemi. Sebuah pesan, jangankan di planet lain, di b...

Paradoks Pandemi, Ekologi dan Ekonomi
Bacakan Artikel

Amerika di bawah kepemimpinan Trump, justru menarik diri dari perjanjian tersebut karena menganggap membahayakan ekonomi Amerika. Padahal Amerika adalah negara terbesar yang menyumbang emisi gas rumah kaca satu tingkat di bawah Cina.

Penarikan diri yang masuk akal bagi Amerika, mengingat dampak dari pejanjian tersebut adalah mengurangi aktivitas pabrik dan industri yang selama ini menyumbang emisi, (EDGAR Uni Eropa).

Isu lingkungan memang tidak kalah pentingnya dengan isu ekonomi. Mengingat data dari WHO ada 7 Juta orang di seluruh dunia meninggal per tahun akibat polusi udara.

Jadi setelah pandemi Covid-19 berlalu, apakah tren kebijakan dunia akan berubah? Beralih untuk menyelamatkan lingkungan dengan memperlambat pertumbuhan ekonomi?

Tunggu dulu. Kita belum bertanya bagaimana dampak perlambatan ekonomi terhadap masyarakat miskin? Bukankah hidup orang miskin mampu membaik jika ekonomi tumbuh?

Bagaimana dengan nasib buruh jika pabrik penyumbang polusi di tutup? Berapa orang yang akan kehilangan pekerjaan? Sementara dilain sisi beberapa pekerjaan manusia telah diganti dengan mesin pintar.

Mana yang lebih penting? Kepunahan 10 spesies hewan di hutan karena pembukaan lahan atau 10 juta manusia kelaparan tak punya pekerjaan? Begitulah paradoks antara pandemi, ekologi dan ekonomi. Saya kira setelah pandemi berlalu, fokus perhatian manusia harus menjawab pertanyaan-pertanyaan itu.

Pilih Halaman:
  • 1
  • 2