Menularkan Spirit Hidup Hijau Versi penuh
Ragam

Pameran “Spirit Leang-Leang”: Budi Haryawan Hadirkan ‘Our Home’ sebagai Jejak Waktu dan Solidaritas

Klikhijau.com - Napas panjang perjalanan seni rupa Makassar kembali dicatatkan lewat pameran tunggal bertajuk “Spirit Leang-Leang”: Nafas Panjang Perjalanan Seni Rupa Makassar karya Budi Haryawan. Pam...

Oleh Tim Redaksi 30 Apr 2026 14:35 2 menit baca
Klikhijau.com - Napas panjang perjalanan seni rupa Makassar kembali dicatatkan lewat pameran tunggal bertajuk “Spirit Leang-Leang”: Nafas Panjang Perjalanan Seni Rupa Makassar karya Budi Haryawan. Pameran akan digelar selama tiga hari, Jumat hingga Minggu, 1–3 Mei 2026, dan dibuka dengan diskusi pada Jumat, 1 Mei 2026, Pukul 16.00 wita, menghadirkan Syamsuddin Simmau sebagai narasumber. Dengan mengusung konsep dengan tema, Our Home, Budi Haryawan tidak sekadar memamerkan lukisan. Ia mengajak publik membaca ulang makna “rumah” sebagai ruang waktu, kehadiran, dan ikatan sosial. Konsep ini coba dieksplorasi lewat dua narasi besar dari lukisan Budi: seri Sebuah Tangga di Bawah Sinar Bulan (6 seri) dan seri Jalan–Rumah–Pohon. Karya utama Our Home sendiri berukuran 107 x 107 cm yang memadukan cat minyak dan akrilik. Komposisi cap tangan dan kaki membentuk pola bunga matahari dengan warna-warna hangat — kuning, oranye, merah — yang kontras dengan latar gelap. “Ini tentang energi kebersamaan. Tentang harmoni peran sosial tanpa diskriminasi,” urai Achmad Fauzi, selaku kurator. [irp]
Bedah Karya dari Tiga Lensa Filosofis
Dalam narasi kuratorial, Our Home dapat dibaca dengan meminjam tiga pemikir besar:
  1. Ibnu Khaldun – Asabiyyah atau solidaritas kelompok. Cap tangan yang menyatu jadi simbol kekuatan kolektif membangun peradaban.
  2. Jalaluddin Rumi – Cinta dan kesatuan. Ragam bentuk tangan adalah keragaman jiwa yang bersumber dari satu yang sama.
  3. Friedrich Nietzsche – Will to Power. Komposisi yang memancar menggambarkan dorongan hidup untuk tumbuh dan menegaskan keberadaan di tengah tantangan zaman.
Lewat ketiga pemikir besar yang dimunculkan oleh Syamsuddin Simmau dalam naskah pengantar diskusi. Menurutnya secara semiotika sosial, cap tangan dan kaki menjadi penanda kehadiran, kerja, dan perjumpaan manusia. [irp]
Jejak Panjang Budi Haryawan
Budi Haryawan lahir di Makassar, 16 Februari 1970, Budi Haryawan adalah jebolan mahasiswa Pendidikan Seni Rupa IKIP Ujung Pandang angkatan 1989. Budi turut mengasah gaya realis-naturalis di bawah bimbingan almarhum Rusdi Trunajaya. Sejak 1996, ia mendirikan Sanggar Cenderawasih dan aktif di puluhan pameran nasional, mulai 21 Warna (1998), Narasi Zaman (2012), hingga Refleksi 50 Tahun Seni Rupa Makassar (2025). Ia juga dikenal lewat instalasi monumental Leang Leang Spirit di Benteng Fort Rotterdam.
Diskusi Bersama Syamsuddin Simmau
Sajian diskusi pembuka pada Jumat, 1 Mei 2026 akan membedah lebih dalam karya Budi Haryawan bersama Syamsuddin Simmau seorang sosiolog maupa dan aktif dalam perbincangan sosial, lingkungan, dan tentu isu seni kontemporer. Diskusi ini terbuka untuk umum dan menjadi ruang untuk memahami bagaimana seni rupa merekam jejak waktu dan ikatan sosial masyarakat Makassar.
Jadwal:
Pameran: Jumat–Minggu, 1–3 Mei 2026 Diskusi Karya: Jumat, 1 Mei 2026 Narasumber: Syamsuddin Simmau Tempat : Kedai Kopi deskopidi Jl. Kabila Barat No. 19 Kompleks Bukit Baruga Antang, [irp]
Topik terkait
#pameran #seni rupa #spirit leang-leang #our home #telapak tangan #budi haryawan