Pameran “Spirit Leang-Leang”: Budi Haryawan Hadirkan ‘Our Home’ sebagai Jejak Waktu dan Solidaritas
Klikhijau.com - Napas panjang perjalanan seni rupa Makassar kembali dicatatkan lewat pameran tunggal bertajuk “Spirit Leang-Leang”: Nafas Panjang Perjalanan Seni Rupa Makassar karya Budi Haryawan. Pam...
Klikhijau.com - Napas panjang perjalanan seni rupa Makassar kembali dicatatkan lewat pameran tunggal bertajuk “Spirit Leang-Leang”: Nafas Panjang Perjalanan Seni Rupa Makassar karya Budi Haryawan. Pameran akan digelar selama tiga hari, Jumat hingga Minggu, 1–3 Mei 2026, dan dibuka dengan diskusi pada Jumat, 1 Mei 2026, Pukul 16.00 wita, menghadirkan Syamsuddin Simmau sebagai narasumber.
Dengan mengusung konsep dengan tema, Our Home, Budi Haryawan tidak sekadar memamerkan lukisan. Ia mengajak publik membaca ulang makna “rumah” sebagai ruang waktu, kehadiran, dan ikatan sosial. Konsep ini coba dieksplorasi lewat dua narasi besar dari lukisan Budi: seri Sebuah Tangga di Bawah Sinar Bulan (6 seri) dan seri Jalan–Rumah–Pohon.
Karya utama Our Home sendiri berukuran 107 x 107 cm yang memadukan cat minyak dan akrilik. Komposisi cap tangan dan kaki membentuk pola bunga matahari dengan warna-warna hangat — kuning, oranye, merah — yang kontras dengan latar gelap. “Ini tentang energi kebersamaan. Tentang harmoni peran sosial tanpa diskriminasi,” urai Achmad Fauzi, selaku kurator.
[irp]
Bedah Karya dari Tiga Lensa Filosofis
Dalam narasi kuratorial, Our Home dapat dibaca dengan meminjam tiga pemikir besar:- Ibnu Khaldun – Asabiyyah atau solidaritas kelompok. Cap tangan yang menyatu jadi simbol kekuatan kolektif membangun peradaban.
- Jalaluddin Rumi – Cinta dan kesatuan. Ragam bentuk tangan adalah keragaman jiwa yang bersumber dari satu yang sama.
- Friedrich Nietzsche – Will to Power. Komposisi yang memancar menggambarkan dorongan hidup untuk tumbuh dan menegaskan keberadaan di tengah tantangan zaman.