Nasib Masker Kini Berada di Gerbang Antara

Klikhijau.com –  Masker kini jadi barang wajib dikenakan ke mana-mana. Ia setia bertenggek di wajah menutupi hidung dan mulut. Satu orang setidaknya memiliki lebih dari satu masker. Memakai masker,...

Nasib Masker Kini Berada di Gerbang Antara
Bacakan Artikel

Menurut data BBC, secara global masyarakat dunia memakai 129 miliar masker. Tidak hanya itu terdapat 65 miliar sarung tangan plastik sekali pakai pula setiap bulannya sejak adanya pandemi.

Mirisnya, sampah masker dan sarung tangan selama pandemi Covid-19 menjelma menjadi gelombang baru ancaman bagi lingkungan setelah polusi plastik.

[irp]

Bisa jadi ancaman bagi kesehatan

Bisa dibayangkan bagaimana banyaknya masker yang mungkin terbuang ke lingkungan. Menurut penelitian yang dipublikasikan di jurnal Frontiers of Environmental Science and Engineering semisal dalam satu bulan, jika harinya berjumlah 31 hari, maka penggunaan rata-rata masker sekali pakai sekitar 2,8 juta masker per menit.

Etty Riani, pengamat lingkungan dari FPlk Institut Pertanian Bogor (IPB) Bidang Keahlian Ekotoksikologi membeberkan, limbah masker selain melindungi dari ancaman Covid-19, juga bisa jadi ancamana bagi kesehatan apabila tidak dikelola dengan prosedur yang benar.

Etty juga mengungkapkan jika ada masalah lain yang kerap terjadi, yakni bahayanya masker bekas yang didaur ulang dengan cara yang tidak higienis.

“Limbah medis harusnya dimusnahkan, yang seringkali bermasalah adalah diolah kembali, sayangnya, mereka (pendaur ulang) melakukan itu tanpa memperhatikan keselamatan penguna dan dirinya sendiri,” katanya seperti dimuat di Republika 2020 lalu.

Limbah masker tidak hanya mengancam kesehatan manusia dan lingkungan, tetapi juga menjadi ancaman serius bagi satwa. Bahkan  sepanjang tahun 2020, ditemukan banyak  banyak bukti jika masker bekas mampu menjerat  satwa, semisal burung dan penyu telah ada mati karena masker.

Elvis Genbo Xu seorang ahli toksik dari Universitas Denmark Selatan mengatakan, masker jika terbuang ke lingkungan bisa menghasilkan sejumlah besar partikel berukuran mikro, yakni ukurannya lebih kecil dari 5 mm dalam hitungan minggu. Kemudian pada fragmen lebih lanjut akan menjadi nanoplastik yang ukurannya lebih kecil dari 1 mikrometer.

"Seperti halnya sampah plastik yang lain, masker sekali pakai juga bisa  menumpuk dan melepaskan zat kimia dan biologi berbahaya, di antaranya bisphenol A, logam berat, serta mikro-organisme patogen," ujarnya.

Bagaimana mengatasinya?

Ada beberapa cara mengatasi limbah masker agar tidak mengancam kesehatan dan mencemari lingkungan. Misalnya seperti yang disarankan Etty, yakni pemerintah harus menyiapkan insinerator dengan suhu di atas 1.000 derajat celcius guna memusnahkannya.

Karena menurutnya  insinerator dengan suhu yang lebih kecil dari 1.000 derajat celsius bisa menimbulkan masalah baru, yakni pencemaran udara.

Lanjut ke Halaman 3
Pilih Halaman: