Menularkan Spirit Hidup Hijau Versi penuh
Kolom

Metamorfosis Manggala Tanpa Sekat, Dari Gerakan Warga Menuju Peradaban Ekologis

Oleh Mashud Azikin 11 Oct 2026 07:14 13 menit baca

Klikhijau.com - Ada gerakan yang lahir dari kegelisahan politik, ada yang tumbuh karena kepentingan ekonomi, dan ada pula yang bermula dari sesuatu yang tampak sederhana: warga berkumpul, berolahraga, berjabat tangan, lalu sepakat untuk saling menjaga. Namun, sejarah gerakan warga sering memperlihatkan satu hal: ketika keakraban menemukan tujuan bersama, ia dapat tumbuh melampaui alasan awal kelahirannya.

Manggala Tanpa Sekat bermula dari ikhtiar merawat persaudaraan di tengah masyarakat yang majemuk. Kini, gagasan itu menyimpan kemungkinan untuk melangkah lebih jauh: menjadi gerakan ekologis yang mempertemukan hubungan sosial dengan kepedulian terhadap lingkungan. Sebab, setelah manusia belajar hidup berdampingan, pertanyaan berikutnya adalah bagaimana mereka menjaga ruang hidup yang sama.

Di situlah metamorfosis sebuah gerakan menemukan maknanya. Persaudaraan tidak lagi sekadar urusan siapa mengenal siapa, melainkan kesanggupan menanggung akibat dari tindakan masing-masing terhadap kehidupan.

Dari senam sehat menuju kesadaran bersama

Pada pagi 7 Oktober 2021, warga Komunitas Sehat Manggala menjalankan kegiatan rutin mingguan: senam sehat. Di sela-sela kegiatan itu, mereka menandatangani dukungan terhadap Gerakan Manggala Tanpa Sekat, dengan semboyan, “Dari Manggala Kota Makassar Kita Bina Keakraban Berwarganegara.”

Peristiwanya tampak sederhana. Tidak ada panggung besar atau pidato panjang yang mengharuskan warga mengenakan pakaian terbaik. Ada tubuh-tubuh yang bergerak mengikuti irama, perjumpaan yang menghangatkan suasana, dan kesepakatan untuk membangun kehidupan bertetangga yang lebih akrab.

Namun, di balik kesederhanaan itu tersimpan gagasan kewargaan yang penting: masyarakat tidak harus menunggu negara menyelesaikan semua persoalan sebelum mulai bekerja bersama.

Komunitas Sehat Manggala merupakan salah satu inisiator gerakan yang melibatkan 12 komunitas di Kecamatan Manggala, Kota Makassar. Gerakan ini didedikasikan untuk menjalin keakraban warga yang berasal dari latar belakang suku, agama, budaya, profesi, dan status sosial yang beragam.

Pada masa pandemi Covid-19, ketika kehidupan masyarakat dihantam krisis kesehatan, tekanan ekonomi, dan keterbatasan interaksi sosial, gagasan tersebut memperoleh makna yang mendesak. Hubungan saling menopang menjadi sumber daya sosial yang membantu masyarakat bertahan ketika kehidupan sehari-hari kehilangan kepastiannya.

Manggala Tanpa Sekat lahir dari kesadaran bahwa warga membutuhkan satu sama lain. Akan tetapi, sejarah sebuah gerakan tidak semestinya berhenti pada alasan yang melahirkannya. Ketika krisis berlalu, persaudaraan membutuhkan pekerjaan baru agar tidak kehilangan relevansinya.

Pertanyaannya sederhana: setelah warga berhasil membangun keakraban, untuk apa kekuatan sosial itu digunakan?

Jawabannya dapat ditemukan pada persoalan yang setiap hari hadir di sekitar mereka: sampah, saluran air, ruang hijau, kualitas permukiman, dan hubungan manusia dengan alam. Semua itu bukan semata-mata urusan teknis pemerintah, melainkan bagian dari kehidupan bersama yang membutuhkan keterlibatan masyarakat.

Dari sinilah Manggala Tanpa Sekat mempunyai peluang mengalami metamorfosis: dari gerakan sosial yang mempertemukan manusia menjadi gerakan ekologis yang mengorganisasi kepedulian terhadap ruang hidup.

Alam tidak mengenal sekat

Dalam kehidupan sosial, sekat mudah ditemukan. Ia hadir dalam prasangka antarkelompok, perbedaan pilihan politik, jarak ekonomi, bahkan kebiasaan menghindari tetangga yang dianggap tidak sejalan. Sekat membuat seseorang merasa bahwa persoalan orang lain bukan urusannya.

Alam mempunyai cara yang berbeda dalam memperlakukan manusia. Air hujan yang jatuh di satu halaman dapat mengalir ke halaman tetangga. Sampah yang dibuang ke selokan dapat menyumbat drainase dan merugikan orang-orang yang tidak mengenal pelakunya.

Udara yang tercemar tidak meminta kartu identitas sebelum memasuki paru-paru manusia. Air yang membawa pencemaran tidak berhenti mengalir hanya karena warga di sepanjang alirannya berbeda agama, profesi, atau pilihan politik.

Ekologi mengajarkan bahwa kehidupan tersusun oleh hubungan yang saling memengaruhi. Rumah tangga tidak pernah sepenuhnya terpisah dari lingkungannya. Demikian pula, sebuah komunitas tidak dapat menghindari akibat dari perilaku kolektif masyarakat di sekitarnya.

Di sinilah filosofi Manggala Tanpa Sekat memperoleh dimensi ekologis. Jika gerakan ini berusaha meruntuhkan sekat di antara manusia, langkah berikutnya adalah memperluas perhatian dari hubungan sosial ke keberlanjutan lingkungan.

Sampah bukan hanya urusan petugas kebersihan. Drainase bukan semata-mata tanggung jawab pemerintah. Pohon bukan sekadar penghias jalan. Sungai dan saluran air bukan tempat untuk menyingkirkan sesuatu yang tidak lagi kita kehendaki.

Semuanya merupakan bagian dari ruang hidup bersama. Namun, perubahan cara pandang tidak cukup dengan mengubah slogan. Ia harus menjelma menjadi perubahan perilaku, kelembagaan, dan cara masyarakat mengambil keputusan. Gerakan ekologis tidak diukur dari seberapa sering warga berbicara tentang lingkungan, melainkan dari seberapa jauh mereka bersedia mengubah kebiasaan yang merusaknya.

Manggala dan persoalan yang dekat dengan rumah

Sebagai bagian dari Kota Makassar yang terus berkembang, Kecamatan Manggala menghadapi tantangan perkotaan yang berkaitan dengan persampahan, drainase, perubahan penggunaan lahan, dan kebutuhan ruang terbuka hijau. Persoalan-persoalan itu tidak selalu tampil dalam bentuk bencana besar. Sering kali ia tumbuh perlahan, tersembunyi di balik kebiasaan sehari-hari yang dianggap biasa.

Sisa makanan dicampur dengan plastik. Sampah dibuang ke saluran air karena dianggap lebih praktis. Lahan terbuka berubah fungsi tanpa cukup perhatian terhadap daya resap air. Bibit pohon ditanam dalam sebuah kegiatan, lalu dibiarkan menghadapi musim kemarau tanpa perawatan.

Setiap tindakan tampak kecil jika dilihat secara terpisah. Namun, ketika dilakukan berulang kali oleh banyak orang, tindakan-tindakan itu membentuk persoalan ekologis yang jauh lebih besar.

Ambil contoh sampah rumah tangga. Aktivitas memasak, berbelanja, dan mengonsumsi makanan menghasilkan sisa organik serta berbagai kemasan. Ketika semuanya dicampur, sampah menjadi lebih sulit diolah. Sampah organik yang sebenarnya dapat dimanfaatkan berubah menjadi beban pengangkutan dan pembuangan.

Manggala Tanpa Sekat dapat menjadikan persoalan ini sebagai pintu masuk gerakan ekologis. Dua belas komunitas yang menjadi bagian dari inisiatif awalnya mempunyai modal sosial untuk membangun percontohan pemilahan sampah dari rumah. Satu kelompok dapat mendampingi pengolahan sampah organik menjadi kompos, kelompok lain mengembangkan pengumpulan material yang dapat didaur ulang, sementara kelompok lainnya memperkuat edukasi keluarga dan anak-anak.

Bayangkan sebuah RT memulai program dengan melibatkan 30 rumah tangga. Warga memisahkan sisa makanan dan dedaunan dari plastik, kertas, serta material lain yang dapat didaur ulang. Setelah beberapa bulan, mereka mencatat berapa banyak sampah yang berhasil diolah, berapa yang disalurkan untuk daur ulang, dan berapa yang masih harus dibuang sebagai residu.

Angka 30 rumah tangga tersebut merupakan ilustrasi rancangan percontohan, bukan klaim bahwa program itu telah terlaksana. Namun, skala kecil semacam ini justru memperlihatkan bagaimana perubahan dapat dimulai secara masuk akal.

Gerakan ekologis tidak selalu membutuhkan pengerahan massa. Ia membutuhkan kebiasaan yang dapat dipertahankan.

Dari selokan menuju kesadaran tentang air

Persoalan drainase memberikan pelajaran serupa. Genangan di kawasan perkotaan dapat berkaitan dengan berbagai faktor: kapasitas saluran yang terbatas, sedimentasi, sampah, perubahan tutupan lahan, hingga kondisi infrastruktur. Karena itu, penyebab setiap lokasi harus diperiksa, bukan sekadar ditebak.

Di tingkat warga, langkah awal dapat dilakukan melalui pemetaan titik-titik saluran yang kerap tersumbat atau mengalami genangan. Warga mencatat lokasi, waktu kejadian, dan kondisi yang ditemukan, kemudian menyampaikan laporan kepada pemerintah kelurahan serta instansi teknis terkait.

Kerja bakti membersihkan saluran tetap penting. Namun, kegiatan itu tidak boleh menjadi ritual yang berulang tanpa perubahan perilaku. Saluran yang dibersihkan hari ini akan kembali tersumbat jika sampah terus dibuang sembarangan. Sebaliknya, warga yang sudah menjaga kebersihan tidak akan memperoleh hasil optimal jika kerusakan infrastruktur dan keterbatasan kapasitas saluran dibiarkan.

Manggala Tanpa Sekat dapat menjadi jembatan antara pengetahuan warga dan kewenangan pemerintah. Warga menyediakan informasi dari lapangan, menjaga kebersihan lingkungan, dan mengawasi tindak lanjut. Pemerintah menyediakan layanan, melakukan pemeriksaan teknis, memperbaiki infrastruktur, dan memastikan penanganan berjalan sesuai kewenangannya.

Pembagian ini penting. Keterlibatan warga tidak boleh dijadikan alasan bagi pemerintah untuk mengurangi kewajibannya. Sebaliknya, kewajiban pemerintah juga tidak dapat dijadikan pembenaran bagi masyarakat untuk terus mengabaikan perilaku yang merusak lingkungan.

Persoalan ekologis membutuhkan keduanya: masyarakat yang berperilaku tertib dan pemerintahan yang menjalankan fungsinya.

Menanam pohon, merawat peradaban

Penghijauan merupakan contoh lain bagaimana keakraban sosial dapat berkembang menjadi tindakan ekologis. Warga dapat bekerja sama menanam tanaman peneduh, mengembangkan kebun keluarga, dan memanfaatkan ruang yang memungkinkan untuk menambah vegetasi.

Namun, menanam pohon bukanlah tujuan akhir. Tujuannya adalah menghadirkan pohon yang tumbuh, bertahan, dan memberikan manfaat bagi lingkungan.

Jumlah bibit yang ditanam dalam satu hari memang mudah dicatat. Tetapi jumlah pohon yang bertahan hidup setelah enam bulan atau satu tahun jauh lebih bermakna. Ukuran keberhasilan juga mencakup siapa yang merawatnya, bagaimana kebutuhan air dipenuhi, dan apakah lokasi penanaman sesuai dengan karakter tanaman.

Sebuah pohon yang tumbuh karena dirawat bersama dapat menjadi simbol perubahan hubungan warga dengan ruang hidupnya. Warga tidak lagi sekadar menggunakan lingkungan, tetapi mengambil bagian dalam keberlangsungannya.

Kegiatan ini dapat mempertemukan berbagai generasi. Anak-anak belajar mengenali tanaman dan siklus alam. Orang tua berbagi pengalaman tentang lingkungan. Kaum muda dapat membantu mendokumentasikan pertumbuhan pohon dan mengembangkan pencatatan sederhana. Kebun komunitas bahkan dapat menghubungkan penghijauan dengan ketahanan pangan keluarga.

Dari kegiatan semacam itu, warga belajar bahwa lingkungan bukan latar belakang pasif bagi kehidupan manusia. Lingkungan adalah sistem penopang kehidupan yang membutuhkan perhatian terus-menerus.

Pohon yang ditanam tanpa perawatan hanyalah proyek sesaat. Sebaliknya, pohon yang tumbuh melalui pemeliharaan berkelanjutan menjadi pendidikan ekologis yang berlangsung setiap hari.

Dari modal sosial menuju modal ekologis

Sosiolog Robert D. Putnam menggunakan konsep modal sosial untuk menjelaskan peran jaringan, kepercayaan, dan norma timbal balik dalam membantu masyarakat mencapai tujuan bersama. Dalam konteks Manggala Tanpa Sekat, modal sosial itu terlihat pada kemampuan mempertemukan komunitas, membangun kepercayaan, dan menciptakan ruang perjumpaan lintas identitas.

Modal tersebut dapat menjadi fondasi bagi tindakan ekologis.

Dua belas komunitas tidak harus melakukan pekerjaan yang sama. Mereka dapat berbagi peran berdasarkan kemampuan dan sumber daya yang dimiliki. Ada kelompok yang memperkuat edukasi persampahan, ada yang mengembangkan kebun pangan, ada yang mendorong penghijauan, dan ada pula yang memfasilitasi pemantauan lingkungan.

Pembagian peran tidak perlu kaku. Yang penting, seluruh kegiatan terhubung dalam agenda bersama dengan sasaran yang jelas.

Satu kawasan percontohan, misalnya, dapat dipilih untuk menjalankan program selama enam bulan. Bulan pertama digunakan untuk memetakan persoalan dan menentukan indikator keberhasilan. Bulan kedua dan ketiga menjadi masa pelaksanaan pemilahan sampah, edukasi, serta pembenahan lingkungan yang dapat dikerjakan secara swadaya. Tiga bulan berikutnya digunakan untuk mengevaluasi hasil dan memperbaiki kekurangan.

Berapa rumah tangga yang berpartisipasi? Berapa kilogram sampah organik berhasil diolah? Berapa pohon yang bertahan hidup? Berapa titik rawan sampah yang berhasil dikendalikan? Apakah partisipasi warga meningkat?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut membuat gerakan dapat mengukur dirinya sendiri.

Sebab, keramaian kegiatan tidak selalu menunjukkan keberhasilan. Sebuah acara bisa dipenuhi peserta, didokumentasikan dengan baik, dan ramai di media sosial, tetapi belum tentu menghasilkan perubahan lingkungan. Foto bersama merupakan dokumentasi; lingkungan yang lebih sehat adalah hasil yang harus diperjuangkan.

Modal sosial baru berubah menjadi modal ekologis ketika kepercayaan di antara warga menghasilkan tindakan yang memperbaiki kualitas ruang hidup bersama.

Persaudaraan yang diuji oleh sampah

Persaudaraan mudah diucapkan ketika orang berkumpul dalam suasana menyenangkan. Ujiannya muncul ketika kepentingan sehari-hari berbenturan.

Seseorang dapat mengaku mencintai lingkungan, tetapi masih membuang sampah ke saluran air. Sebuah keluarga dapat rajin mengikuti kerja bakti, tetapi enggan memilah sampahnya sendiri. Warga dapat bersepakat menjaga kebersihan, tetapi keberatan ketika diminta mengubah kebiasaan yang sudah berlangsung bertahun-tahun.

Karena itu, gerakan ekologis tidak cukup mengandalkan imbauan moral. Ia membutuhkan keteladanan, pendidikan, aturan yang adil, dan mekanisme pertanggungjawaban.

Rumah tangga yang telah memilah sampah harus memperoleh kepastian bahwa sampah terpilah tidak kembali dicampur dalam proses pengangkutan. Warga yang mengolah sampah organik perlu mendapatkan pendampingan agar prosesnya aman dan hasilnya bermanfaat. Pelaku usaha yang menghasilkan sampah dalam jumlah besar harus menjalankan kewajiban pengelolaannya sesuai ketentuan.

Pemerintah juga harus menyediakan layanan persampahan dan infrastruktur lingkungan yang memadai. Tidak adil meminta warga mengubah perilaku apabila sistem pengangkutan, fasilitas pengolahan, dan pengawasan tidak mendukung perubahan tersebut.

Tanggung jawab ekologis bukan pemindahan beban pemerintah kepada warga. Ia merupakan pembagian peran yang jelas antara pemerintah, masyarakat, dan pelaku usaha.

Filosofi tanpa sekat juga bukan berarti menghapus semua batas. Batas antara sampah organik dan anorganik justru perlu ditegaskan. Batas antara hak warga atas lingkungan yang sehat dan tindakan yang merusak lingkungan harus dijaga. Yang perlu diruntuhkan adalah sekat egoisme dan kebiasaan saling melempar kewajiban.

Jangan berhenti sebagai seremoni

Setiap gerakan warga menghadapi risiko yang sama: kehilangan energi setelah antusiasme awal berlalu. Ketika penggerak utama sibuk, relawan berkurang, atau perhatian publik berpindah, kegiatan dapat berhenti tanpa meninggalkan perubahan yang berarti.

Manggala Tanpa Sekat perlu mengantisipasi risiko itu melalui pelembagaan gerakan.

Pertama, menetapkan agenda ekologis bersama dengan target yang realistis. Program dapat dimulai dari sejumlah RT percontohan untuk pemilahan sampah, pengolahan organik, dan penghijauan berbasis warga.

Kedua, membangun sistem pencatatan sederhana dan terbuka. Data tidak harus rumit, tetapi harus cukup untuk menunjukkan perkembangan dan kekurangan program.

Ketiga, memperkuat kaderisasi. Gerakan yang sehat tidak boleh bergantung pada satu atau dua orang. Anak muda, perempuan, tokoh agama, pendidik, pelaku usaha, dan kelompok warga lainnya perlu memperoleh ruang untuk mengambil peran.

Keempat, membangun kemitraan dengan pemerintah, perguruan tinggi, dunia usaha, dan organisasi masyarakat tanpa kehilangan orientasi pada kepentingan publik. Setiap kemitraan harus memiliki tujuan, pembagian tugas, serta manfaat yang dapat dievaluasi.

Kelima, membangun mekanisme pertanggungjawaban. Tujuan, penggunaan sumber daya, capaian, dan kendala perlu diketahui para anggota. Kepercayaan yang menjadi modal awal gerakan tidak akan bertahan tanpa tata kelola yang baik.

Pemerintah kecamatan dan kelurahan dapat membantu menghubungkan inisiatif warga dengan program pembangunan lingkungan. Dinas Lingkungan Hidup dapat memberikan pendampingan teknis, sedangkan perguruan tinggi dapat membantu menyusun indikator dan mengevaluasi hasil. Dengan dukungan itu, gerakan warga tidak harus bekerja sendirian, tetapi juga tidak kehilangan inisiatifnya.

Tujuannya bukan menjadikan Manggala Tanpa Sekat sebagai pelaksana pekerjaan pemerintah. Tujuannya adalah membangun masyarakat yang mampu mengenali persoalan, mengorganisasi tindakan, mengawasi kebijakan, dan mempertahankan perubahan.

Metamorfosis menuju peradaban ekologis

Metamorfosis tidak selalu berarti meninggalkan masa lalu. Dalam kehidupan sosial, perubahan yang bermakna justru mempertahankan nilai inti sambil memperluas kemampuan menghadapi tantangan baru.

Pada 2021, ketika pandemi masih membayangi kehidupan masyarakat, Manggala Tanpa Sekat menawarkan persaudaraan sebagai jalan untuk memperkuat daya tahan warga. Nilai itu tetap relevan. Namun, ketahanan masyarakat tidak hanya ditentukan oleh kemampuan menghadapi krisis kesehatan atau ekonomi. Ia juga ditentukan oleh kualitas lingkungan tempat masyarakat hidup.

Permukiman yang bersih, air yang tidak tercemar, drainase yang berfungsi, ruang hijau yang terpelihara, dan pengelolaan sampah yang tertib merupakan bagian dari ketahanan sosial. Ketika lingkungan memburuk, kelompok rentan sering kali menanggung dampak lebih berat. Karena itu, kerja ekologis juga merupakan kerja keadilan sosial.

Manggala Tanpa Sekat memiliki peluang menjadikan kebersamaan sebagai tenaga penggerak bagi agenda tersebut. Senam sehat dapat menjadi pintu masuk untuk memperkuat perjumpaan. Pertemuan warga dapat menjadi ruang menyepakati tindakan. Kerja bakti dapat berkembang menjadi pendidikan lingkungan. Kebun komunitas dapat menjadi tempat belajar tentang pangan, tanah, air, dan hubungan manusia dengan alam.

Namun, peluang itu baru menjadi kenyataan ketika gagasan bertemu dengan kerja yang terukur. Gerakan harus berani menguji dirinya sendiri: apakah hubungan yang dibangun benar-benar mengubah perilaku? Apakah warga semakin tertib mengelola sampah? Apakah ruang hidup menjadi lebih sehat? Apakah kelompok yang selama ini terpinggirkan memperoleh kesempatan yang sama untuk terlibat?

Pertanyaan tersebut penting agar Manggala Tanpa Sekat tidak berhenti sebagai romantisme tentang kebersamaan. Gerakan ini harus mampu memperlihatkan bahwa hubungan sosial dapat menghasilkan perbaikan ekologis yang nyata.

Pada akhirnya, keberhasilannya tidak semata-mata diukur dari berapa banyak komunitas yang pernah menyatakan dukungan. Ukurannya adalah apakah warga yang berbeda latar belakang mampu bekerja sama menghadapi persoalan yang sama, mengubah kebiasaan yang merusak lingkungan, dan membangun tata kelola yang lebih bertanggung jawab.

Mungkin inilah makna terdalam dari semboyan “Dari Manggala Kota Makassar Kita Bina Keakraban Berwarganegara.” Keakraban bukan tujuan yang selesai ketika orang saling mengenal. Ia merupakan permulaan dari tanggung jawab yang lebih besar: menjaga sesama manusia, menjaga lingkungan, dan memastikan bahwa generasi berikutnya masih memiliki ruang hidup yang layak.

Dari satu rumah yang memilah sampah, satu saluran yang dirawat, satu pohon yang tumbuh, dan satu kelompok warga yang belajar bekerja bersama, sebuah gerakan ekologis menemukan bentuk nyatanya. Perubahan tidak harus menunggu sebuah kota menjadi sempurna. Ia dapat dimulai dari lingkungan kecil yang bersedia belajar, bekerja, dan memperbaiki diri.

Semoga ikhtiar ini mendapat rida Allah SWT. Namun, doa dan niat baik perlu menemukan wujudnya dalam tindakan nyata. Mencintai sesama tidak cukup dengan merawat hubungan antarmanusia; cinta itu juga harus tampak dalam cara kita memperlakukan tanah, air, pohon, udara, dan seluruh kehidupan yang berbagi rumah bersama kita.

Manggala Tanpa Sekat pada akhirnya bukan sekadar ajakan untuk hidup tanpa jarak, melainkan panggilan untuk bertindak tanpa melempar beban. Dari keakraban lahir kepercayaan, dari kepercayaan tumbuh kerja bersama, dan dari kerja bersama terbuka kemungkinan untuk membangun peradaban ekologis.

Sebab, peradaban tidak hanya diukur dari seberapa baik manusia memperlakukan sesamanya, tetapi juga dari seberapa bijaksana ia merawat dunia yang menopang kehidupannya.

Topik terkait
Manggala Tanpa Sekat Komunitas ekologi gerakan