Menularkan Spirit Hidup Hijau Versi penuh
Kolom

Ketika Asap Menjadi Panggung Monetisasi

Oleh Ishak Andi Kunna 26 Aug 2026 02:20 3 menit baca

Klikhijau.com - Hutan sedang terbakar. Langit kehilangan birunya, pepohonan menggeliat dalam bara, dan sekumpulan satwa liar berlari mencari selamat. Di saat yang sama, petugas berbaju merah itu berjalan di tengah kepungan asap. Mereka mendekati api ketika orang lain berusaha menjauhinya. Mereka dikenal sebagai Manggala Agni Kementerian Kehutanan.

Sewaktu mereka sedang berusaha meredam amukan panas, di tempat yang jauh dari panas dan bara, sebagian orang justru sibuk menyalakan api yang "lain"

Mereka mengubah karhutla menjadi panggung ocehan. Narasi diorkestrasi di studio sempit, potongan video dipilih, judul provokatif dipasang, lalu kemarahan ditaburkan kepada publik. Dengan jari yang tetap bersih dari debu arang, mereka berkata bahwa pemerintah tidak hadir, Kementerian Kehutanan (Kemenhut) tidak bekerja, dan para pejabat hanya datang ketika kamera mulai menyala. Bukankah itu sama saja dengan menanyakan, dimana Manggala Agni saat terjadi kebakaran?

Mungkin mereka belum melihat bahwa jauh sebelum karhutla ramai di linimasa, Kemenhut melalui Manggala Agni telah menyusuri kawasan rawan. Mereka memantau titik panas, melakukan patroli dan memberikan peringatan akan dampak El Nino. Lebih dari itu, mereka pun memadamkan api sejak masih kecil, dan selama berhari-hari menghirup asap yang bahkan sulit ditahan selama beberapa menit.

Mungkin pula kita sedikit lupa, bahwa tidak semua kerja negara berjalan di hadapan kamera. Ada perjuangan yang tidak disiarkan langsung. Ada sepatu yang tenggelam di lumpur gambut. Ada pakaian yang basah oleh keringat. Ada mata yang memerah. Ada tubuh yang kelelahan menahan sesak. Tidak ada musik dramatis disana, tidak ada lampu studio, apalagi tombol untuk mengulang adegan ketika api tiba-tiba berbalik arah.

Kritik tentu diperlukan. Bahwa kekuasaan memang tidak boleh dibiarkan berjalan tanpa pengawasan. Masih terdapat pekerjaan rumah untuk menguatkan aksi mitigasi agar resiko kebakaran dapat diminimalkan.

Namun, kritik berbeda dengan hujatan. Kritik mencari kebenaran dan menawarkan perbaikan, sedangkan hujatan hanya mencari sasaran. Jika kritik membawa data secara utuh, maka hujatan bekerja dengan cara memotong kenyataan agar sesuai dengan kemarahan yang ingin dijual.

Karhutla adalah bencana, bukan sekedar komoditas konten. Asap yang membuat anak-anak sesak bukanlah latar dramatis untuk menaikkan jumlah penonton. Kelelahan petugas bukanlah bahan untuk meraih tepuk tangan, dan penderitaan warga tidak etis untuk diperjualbelikan demi tujuan viral. 

Rupanya, ungkapan itu benar adanya "siapa yang bekerja, siapa yang dapat monetisasi."

Jika benar peduli kepada hutan, datanglah dengan tindakan karena doa tidaklah cukup.

"..Luana, tahukah kau bahwa Api pertama membakar pepohonan, tetapi api kedua membakar kepercayaan dan menghanguskan kebenaran dalam kepulan prasangka.."

"..Amor Fati Manggala Agni, Jangan berhenti menjadi orang baik..salut."

Malino, 24 Agustus

Ishak Andi Kunna.

Topik terkait
Manggala agni Karhutla Kebakaran Pemadam Hutan