Menularkan Spirit Hidup Hijau Versi penuh
Berita Lingkungan

Merajut Jembatan Aksi Iklim, Toraja Belajar Ketahanan Komunitas dari Desa ProKlim Bulukumba

Oleh Arman Jaya 01 Sep 2026 00:22 4 menit baca

Klikhijau.com - Di tengah lanskap pesisir Bulukumba yang menghadap Samudra Hindia, sebuah narasi ketahanan iklim berbasis komunitas tengah dirajut. Bukan dari seminar mewah atau deklarasi tingkat tinggi, melainkan dari tanah yang diolah, dari pupuk organik yang diracik tangan, dan dari semangat gotong royong warga Desa Salassae.

Kisah inilah yang membawa rombongan Yayasan Motivator Pengembangan Masyarakat (MPM) Tanah Toraja, Sulawesi Selatan, dalam sebuah kunjungan belajar yang sarat makna. Mereka datang untuk menggali langsung praktik Program Kampung Iklim (ProKlim) yang telah mengukir Salassae sebagai mercusuar adaptasi dan mitigasi perubahan iklim di tingkat tapak.

Kunjungan ini merupakan bagian dari refleksi tahunan Yayasan MPM, organisasi yang telah berdiri sejak 1983 dan gigih mendampingi komunitas adat di Tanah Toraja, Luwu Timur, hingga Sulawesi Barat.

Fokus utama mereka saat ini adalah memperkuat kelompok masyarakat di Lembang-lembang (desa adat) Toraja dalam menghadapi tantangan iklim. Karena itulah, Desa Salassae menjadi tujuan krusial.

Salassae, melalui Komunitas Swabina Pedesaan Salassae (KSPS), berhasil meraih Trophy ProKlim Utama pada 2017 dan predikat ProKlim Lestari pada 2019 dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK). Predikat Lestari ini menandakan keberlanjutan dan kemandirian desa dalam menjalankan aksi iklim secara konsisten.

Armin Salassa, Ketua Kemitraan Agroekologi sekaligus pendiri dan pembina KSPS, menjadi narasumber utama yang hangat dalam sesi belajar ini. Dengan gaya bertutur yang membumi, ia memaparkan perjalanan panjang KSPS.

Bermula dari kesadaran akan degradasi lingkungan dan tantangan pertanian, warga Salassae memilih jalan mandiri. Mereka tidak menunggu bantuan datang, melainkan bergerak menciptakan solusi dari dalam komunitas.

"ProKlim bagi kami bukan sekadar label, melainkan cara hidup. Kami belajar dari alam, untuk alam," ujar Armin, suaranya dipenuhi keyakinan. Ia menjelaskan bagaimana sejak awal, KSPS mendorong petani beralih ke praktik pertanian organik, mengelola sampah, menanam pohon, hingga mengembangkan sumber energi terbarukan sederhana.

Puncak dari sesi belajar tersebut adalah demonstrasi pembuatan nutrisi pertanian alami. Abdul Wahid, salah seorang petani anggota KSPS, dengan cekatan memperagakan proses meracik pupuk cair dan pestisida nabati yang mereka gunakan sehari-hari.

Ia menunjukkan bahan-bahan yang mudah ditemukan di sekitar desa, seperti sisa tanaman, air cucian beras, hingga kotoran ternak, yang diolah menjadi ramuan ampuh penyubur tanah dan pengendali hama.

Di tengah gempuran pupuk kimia yang merusak kesuburan tanah dan kesehatan petani, praktik di Salassae ini menjadi bukti nyata bahwa pertanian berkelanjutan bukan hanya mungkin, tetapi juga sangat menguntungkan. Lingkungan lestari, hasil panen sehat, dan biaya produksi yang lebih hemat, itulah imbalannya.

Ruth Tandi Ramba, Direktur Yayasan MPM, menjelaskan bahwa kunjungan ke Salassae ini adalah upaya konkret untuk berbagi pengalaman tentang aksi iklim berbasis komunitas antarwilayah.

"Kami melihat Salassae sebagai laboratorium hidup di mana masyarakat berhasil menerjemahkan isu iklim yang kompleks menjadi tindakan nyata di tingkat desa," kata Ruth.

Ia menambahkan, pengalaman Salassae, terutama dalam pertanian ramah lingkungan dan pengelolaan sumber daya alam, sangat relevan untuk komunitas di Toraja yang juga menghadapi tantangan serupa, khususnya dalam menjaga kearifan lokal dalam mengelola lahan dan hutan.

Dari 31 peserta yang terdiri dari staf kantor dan pendamping lapangan Yayasan MPM, terlihat antusiasme tinggi untuk menyerap setiap detail. Pertanyaan-pertanyaan teknis seputar pembuatan pupuk hingga strategi mobilisasi komunitas mengalir deras. Ini bukan hanya pertukaran informasi, melainkan transfer energi, semangat, dan keyakinan bahwa perubahan positif bisa dimulai dari skala terkecil.

Selain menyelami praktik ProKlim di Salassae, rombongan Yayasan MPM juga menyempatkan diri berkunjung ke kawasan adat Ammatoa Kajang di Desa Tana Toa. Di sana, mereka mendalami lebih jauh tentang kearifan lokal masyarakat adat dalam menjaga hutan dan lingkungan, sebuah nilai yang resonan dengan filosofi keberlanjutan di Salassae. Kedua kunjungan ini memperkaya perspektif Yayasan MPM tentang bagaimana tradisi dan inovasi dapat berpadu untuk menciptakan ketahanan ekologis.

Menutup sesi, Armin Salassa berharap kerja sama antara komunitas di Bulukumba dan Toraja dapat terus berlanjut.

"Isu iklim dan ketahanan pangan adalah persoalan kita bersama. Semakin banyak komunitas yang berbagi dan saling menguatkan, semakin tangguh kita menghadapi masa depan," ujarnya. Harapan itu menjadi undangan untuk terus merawat jembatan pengetahuan dan solidaritas antarkomunitas.

Kisah dari Salassae ini menjadi pengingat bahwa solusi iklim sejati seringkali berakar dari tanah dan tangan-tangan masyarakat lokal.

Mereka adalah penjaga pertama bumi, inovator yang tak terdokumentasi, namun dampaknya nyata. Mungkinkah semangat dan praktik serupa tumbuh subur di setiap lembang Toraja, di setiap desa di Indonesia, menjadi benteng kolektif kita menghadapi krisis iklim? Jawabannya ada pada kemauan kita untuk belajar, berbagi, dan bertindak bersama.

Topik terkait
Toraja Bulukumba Armin Salassa Iklim Komunitas Pertanian Alami Salassae Proklim