Menularkan Spirit Hidup Hijau Versi penuh
Berita Lingkungan

Menutup Jejak Hijau: Perjalanan Magang, Literasi, dan Panggilan Jiwa di Kaki Gunung Lompobattang

Klikhijau.com – Perjalanan magang saya di Klikhijau menjadi salah satu proses mendalam dan berharga, juga menjadi yang paling berkesan selama menjalani proses perkuliahan sebagai mahasiswa sosiologi d...

Oleh Putri 25 May 2026 04:20 6 menit baca
Klikhijau.com – Perjalanan magang saya di Klikhijau menjadi salah satu proses mendalam dan berharga, juga menjadi yang paling berkesan selama menjalani proses perkuliahan sebagai mahasiswa sosiologi di Universitas Negeri Makassar (UNM). Magang yang awalnya kupikir hanya belajar menulis berita lingkungan atau mengikuti kegiatan-kegiatan sosial, tetapi rupanya juga tentang bagaimana saya harus memahami manusia, alam, dan hubungan keduanya dengan lebih dekat dari beberapa kegiatan luar ruangan yang saya ikuti, berbagai dinamika sosial dan isu lingkungan yang terus berkembang, saya menemukan banyak pelajaran yang tidak saya dapatkan di ruang kelas. Selama masa magang, saya terlibat dalam berbagai kegiatan lingkungan, diskusi sosial, hingga kampanye kesadaran ekologis. Saya belajar bahwa menjaga lingkungan bukan hanya tugas aktivis atau pemerintah, tetapi menjadi tanggung jawab semua orang, terutama generasi muda. Lewat Klikhijau, saya melihat bagaimana media dapat menjadi alat penyadaran sosial yang kuat. Bukan hanya menyampaikan informasi, tetapi juga menggerakkan hati dan kepedulian masyarakat terhadap lingkungan hidup. [irp] Hari-hari terakhir saya dalam masa magang, saya memasuki pedesaan yang berrrrghhh sejuknya, mengikuti kegiatan peringatan International Day for Biological Diversity di Desa Kindang, Kecamatan Kindang, Kabupaten Bulukumba.
Pengalaman penuh warna
Perjalanan dari Makassar menuju Kindang menjadi pengalaman yang penuh warna bagi saya. Kami menempuh perjalanan panjang melewati hamparan sawah, perbukitan hijau, dan jalanan yang perlahan membawa kami mendekati kaki Gunung Lompobattang. Udara yang semakin sejuk dan suasana desa yang tenang membuat perjalanan itu terasa berbeda dari aktivitas perkotaan yang biasa saya jalani. Di sepanjang perjalanan, saya mulai membayangkan bagaimana masyarakat yang hidup di sekitar kawasan pegunungan memiliki hubungan yang sangat dekat dengan alam. Mereka hidup berdampingan dengan hutan, sungai, dan keanekaragaman hayati yang menjadi bagian penting dari kehidupan sehari-hari. Perasaan saya saat itu campur aduk antara penasaran, kagum, dan haru. Saya merasa sedang menuju sebuah ruang belajar baru yang tidak hanya memberikan pengetahuan, tetapi juga pengalaman batin. [irp] Sesampainya di Kindang, saya melihat suasana yang begitu hidup. Anak-anak muda berkumpul dengan membawa buku bacaan mereka masing-masing. Mereka datang bukan karena kewajiban, melainkan karena kesadaran dan keinginan dari dalam diri mereka sendiri. Hal itu menjadi sesuatu yang sangat menarik bagi saya. Di tengah era digital dan kehidupan modern yang serba cepat, masih ada anak muda yang memilih duduk bersama untuk berdiskusi, membaca, dan berbicara tentang lingkungan. Salah satu kalimat yang paling saya ingat dalam kegiatan itu datang dari Anis Kurniawan. Ia mengatakan bahwa anak-anak muda yang hadir datang karena panggilan jiwa. Kalimat itu sederhana, tetapi sangat dalam maknanya. Mereka hadir dengan keikhlasan dan keterbukaan hati untuk ikut menjaga lingkungan, serta belajar memahami alam di sekitar mereka. Bagi saya, itu bukan sekadar kegiatan kecil atau diskusi biasa. Itu adalah bentuk kampanye kesadaran lingkungan yang tumbuh dari masyarakat sendiri. Menurut Arman Jaya, yang bergiat di isu ekososial, pesisir, dan pedesaan, menyebutkan bahwa ruang-ruang belajar seperti Taman Bacaan Masyarakat (TBM) memiliki peran penting dalam membangun kesadaran ekologis generasi muda. [irp] “Anak muda perlu diberikan ruang untuk didengarkan, berdialog, membaca, dan mengenal lingkungan hidupnya sendiri agar tumbuh rasa memiliki terhadap alam dan budaya di sekitarnya. Baginya, gerakan kecil yang dilakukan secara konsisten di desa dapat menjadi kekuatan besar dalam menjaga keberlanjutan lingkungan di masa depan,” jelas Arman.
Tandabaca, ruang tumbuh bersama
Di lokasi kegiatan, saya juga mengenal Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Tandabaca yang digerakkan oleh Idris Makkatutu di Kecamatan Kindang. Selain ruang membaca, juga menjadi ruang tumbuh bagi anak-anak muda desa. Di sana mereka berdiskusi, belajar seni dan budaya, membedah buku, hingga berbicara tentang isu lingkungan dan masa depan daerah mereka. TBM Tandabaca menghadirkan suasana yang hangat dan penuh semangat kolektif. Saya melihat bagaimana literasi dapat menjadi jalan untuk membangun kesadaran sosial. Anak-anak muda di sana tidak hanya diajarkan membaca buku, tetapi juga membaca realitas sosial di sekitar mereka. Mereka belajar memahami pentingnya menjaga alam, menghargai budaya lokal, dan membangun solidaritas antarsesama. Sebagai mahasiswa sosiologi, pengalaman itu membuat saya semakin memahami bahwa lingkungan hidup tidak bisa dipisahkan dari kehidupan sosial masyarakat. Sosiologi mengajarkan bahwa manusia dan lingkungan saling memengaruhi satu sama lain. Ketika lingkungan rusak, maka kehidupan sosial masyarakat juga ikut terdampak. Sebaliknya, ketika masyarakat memiliki kesadaran ekologis yang baik, maka lingkungan akan lebih terjaga. Saya juga mulai memahami bahwa kampanye lingkungan tidak selalu harus dilakukan dengan cara besar dan formal. Kadang, perubahan justru lahir dari ruang-ruang kecil seperti taman baca, diskusi sederhana, atau kegiatan bersih-bersih yang dilakukan bersama-sama. Hal-hal kecil itu perlahan membentuk kesadaran kolektif dan melahirkan generasi muda yang peduli terhadap lingkungannya. [irp] Melalui kegiatan tersebut, saya menyimak banyak hal, saya juga menyadari banyak hal tentang keanekaragaman hayati yang sering terlewatkan dalam kehidupan sehari-hari. Seperti yang disampaikan dalam diskusi, burung-burung yang bermigrasi ternyata memiliki peran penting dalam memindahkan bibit tanaman dari satu tempat ke tempat lain. Alam bekerja dengan caranya sendiri untuk menjaga keseimbangan kehidupan. Namun sering kali manusia lupa untuk memperhatikan dan menjaganya.
Klikhijau, ruang aman untuk belajar
Menjelang berakhirnya masa magang di Klikhijau, saya merasakan perasaan emosional yang sulit dijelaskan. Ada rasa sedih karena harus mengakhiri perjalanan yang begitu berarti, tetapi juga ada rasa syukur karena telah dipertemukan dengan banyak orang baik dan pengalaman berharga. Saya merasa bahwa magang ini bukan sekadar program akademik, melainkan perjalanan yang mengubah cara pandang saya terhadap lingkungan, masyarakat, dan kehidupan. [irp] Klikhijau memberikan saya ruang aman untuk belajar, bahkan diberi ruang secara terbuka untuk didengarkan, dari berbagai masalah yang saya temui di lapangan, dari masalah-masalah itu saya diantar memahami untuk memanajerial konflik lalu memecahkannya. Di sana juga saya melihat menulis bukan hanya tentang menyusun kata-kata, tetapi juga tentang menyampaikan kepedulian. Saya belajar bahwa media memiliki peran penting dalam membangun kesadaran publik terhadap isu lingkungan. Di tengah banyaknya informasi yang beredar, media seperti Klikhijau hadir untuk mengingatkan masyarakat bahwa bumi sedang tidak baik-baik saja dan membutuhkan perhatian bersama. Karena itu, saya sangat merekomendasikan masyarakat untuk membaca dan mengikuti KlikHijau. Media ini tidak hanya menyajikan berita lingkungan, tetapi juga menghadirkan cerita-cerita inspiratif tentang komunitas, pendidikan, budaya, dan gerakan sosial masyarakat. KlikHijau membantu kita memahami bahwa menjaga lingkungan bukan sesuatu yang jauh dari kehidupan sehari-hari, melainkan bagian dari tanggung jawab bersama. Bagi generasi muda, membaca KlikHijau juga dapat menjadi cara untuk membuka wawasan tentang pentingnya menjaga alam dan membangun kesadaran sosial. Di tengah tantangan perubahan iklim, kerusakan lingkungan, dan krisis ekologis, masyarakat membutuhkan ruang informasi yang mampu menghadirkan harapan sekaligus pengetahuan. Perjalanan magang ini akhirnya mengajarkan saya satu hal penting, perubahan besar selalu dimulai dari langkah kecil dan kesadaran sederhana. Seperti dari taman baca kecil di kaki Gunung Lompobattang, saya melihat harapan itu tumbuh. Harapan bahwa masih ada anak muda yang peduli, masih ada ruang belajar yang hidup, dan masih ada orang-orang yang bekerja dengan tulus demi menjaga lingkungan dan masa depan bersama. [irp]
Topik terkait
#desa kindang #generasi muda #mahasiswa unm #tandabaca #mahasiswa magang #magang #hari kehati