Meniti Jejak Pembaharu di Rusunawa Mariso, Melihat Cara Muhammad Saleh Menyelamatkan Lingkungan

Meniti Jejak Pembaharu di Rusunawa Mariso, Melihat Cara Muhammad Saleh Menyelamatkan Lingkungan
Ketua TPS3R Rusunawa Mariso, Kota Makassar, Sulawesi Selatan, Muhammad Saleh (kanan), - Foto: Ist
Bacakan Artikel

Keterikatan Muhammad Saleh terhadap kelestarian lingkungan bukanlah hasil instan dari tren pemanasan global modern belakang ini yang ramai dibicarakan, melainkan benih yang tertanam kokoh sejak masa kecilnya.

Jauh sebelum isu krisis iklim menjadi diskursus publik, Saleh muda telah melakoni ritme hidup yang sangat dekat dengan kebersihan ruang publik.

Setiap pagi, sebelum melangkah ke sekolah, ia sudah menyapu jalanan kota dengan mengenakan pakaian kerja sembari membawa seragam sekolah di dalam tasnya.

Begitu usai menuntaskan kewajibannya menjaga kebersihan jalan, ia berganti pakaian lalu bergegas menuntut ilmu.

Dedikasi awal ini membawa jejak kariernya melenggang ke Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Makassar sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS). Puluhan tahun mengabdi di ranah birokrasi penanganan kebersihan tidak melunturkan kepekaan ekologisnya,justru pengalaman tersebut memperluas pemahamannya mengenai kompleksitas tata kelola sampah urban Makassar.

Saat memasuki masa purnabakti, alih-alih memilih istirahat tenang di usia senja, Saleh justru mengambil langkah berani pada tahun 2022 dengan menghidupkan kembali TPS3R Rusunawa Mariso yang sempat mangkrak dan vakum selama empat tahun.

Kondisi awal TPS3R saat Saleh pertama kali melangkah masuk, menurutnya, sungguh memprihatinkan. Area tersebut telah berubah menjadi gunungan sampah liar yang membusuk dan mencemari pemukiman padat di sekitarnya.

Tantangan pertama Saleh bukan dimulai dari rapat-rapat teknis, melainkan langsung bekerja membenahi tumpukan sampah yang menggunung.

“Dulu di sini sebelum saya kelola, ini sampah menumpuk di depan ada sekitar kurang lebih 2 meter kayaknya. Di dalam sini ada kurang lebih 1 meter tumpukan sampah, jadi pada saat itu saya masuk di sini itu saya bersihkan semua. Jadi langkah awal itu saya lakukan pembersihan sampah yang ada di depan itu. Itu hari pertama sekitar 25 truk sampah yang menumpuk di situ bercampur organik dan anorganik, terus hari kedua itu sekitar 10 truk, terakhir itu yang 5 truk,” tutur Muhammad Saleh mengenang aksi pertamanya.

Pembersihan marathon selama tiga hari tanpa kenal lelah tersebut menghasilkan pemindahan total 40 truk sampah. Aksi nyata ini sontak menyengat kesadaran warga pemukiman Rusunawa Mariso dan sekitarnya.

Melihat seorang pensiunan bersusah payah membersihkan lingkungan yang selama bertahun-tahun diabaikan menjadi titik balik perubahan perilaku (behavioral change) warga lokal.

Perlahan tapi pasti, masyarakat mulai tergerak untuk mengubah cara pandang mereka terhadap sampah dan menyadari betapa vitalnya menjaga daya dukung lingkungan pemukiman yang sehat.

Bagi Saleh, kebersihan fisik kawasan hanyalah fondasi awal. Lingkungan yang bersih dan tertata bukan sekadar enak dipandang atau bebas dari sarang penyakit, melainkan syarat mutlak untuk menciptakan ekosistem perkotaan yang berkelanjutan.

Meski diperhadapkan pada keterbatasan sumber daya manusia (SDM) dan tantangan literasi warga, semangatnya tak pernah surut dalam mengawal perubahan di tingkat tapak.

Restorasi Mindset di Tengah Pemukiman Padat dan Ekonomi Sirkular

Fasilitas Tempat Pengolahan Sampah Reduce-Reuse-Recycle (TPS3R) yang terletak di Jalan Ampera Raya, Kelurahan Panambungan, ini kini memancarkan denyut kehidupan yang berbeda dari beberapa tahun silam.

Di bawah kepemimpinan Saleh sebagai Ketua TPS3R Rusunawa Mariso, tempat yang dulunya kumuh kini telah merestorasi fungsi biologis dan ekonomis sampah.

Fasilitas tersebut berhasil berkembang menjadi salah satu pilot project pengelolaan sampah terbaik di Kota Makassar yang mengintegrasikan prinsip-prinsip ekonomi sirkular (circular economy).

Setiap harinya, TPS3R Rusunawa Mariso mengolah tak kurang dari 3 ton sampah yang berasal dari aktivitas domestik warga.

Sampah organik yang biasanya melepaskan gas metana berbahaya di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Tamangapa kini ditransformasikan menjadi berbagai macam produk bernilai guna dan berdaya jual tinggi.

Pengolahan dilakukan secara beragam, mulai dari biokonversi maggot Black Soldier Fly (BSF) untuk mendegradasi sampah dapur secara cepat sekaligus menghasilkan pakan ternak berprotein tinggi, pembuatan kompos organik serta metode teba guna mengembalikan nutrisi alami ke tanah, hingga proses fermentasi eco-enzyme dari sisa kulit buah-buahan segar sebagai cairan pembersih dan pembenah tanah alami.

Di antara semua lini pengolahan, produksi eco-enzyme membutuhkan kesabaran paling ekstra karena memerlukan waktu fermentasi terukur selama berbulan-bulan. Namun hasilnya sangat sepadan.

Saat ini, berbagai komunitas, peternak lokal, dan pegiat pertanian perkotaan (urban farming) telah menjalin kerja sama rutin untuk menyerap hasil olahan dari TPS3R Rusunawa Mariso, terutama dalam menyuplai pakan ayam dan pupuk organik murni.

Inisiatif pengolahan ini sekaligus menyebarkan pesan ekologis yang kuat kepada publik bahwa masa depan keberlanjutan pangan dan lingkungan Kota Makassar tidak lagi boleh bergantung pada pemupukan berbasis anorganik atau bahan kimia sintetis yang merusak struktur tanah. Dengan mengembalikan nutrisi organik ke rantai produksi pangan lokal, siklus kehidupan dapat dijaga tanpa merusak keseimbangan alam.

Menariknya, proses pengolahan sampah harian di TPS3R ini tidak hanya digerakkan oleh generasi tua, melainkan juga berhasil memikat keterlibatan anak muda setempat.

Kehadiran anak muda di area pengolahan sampah menjadi oase segar di tengah gempuran tren gaya hidup urban yang acapkali serba instan dan konsumtif.

Menjaga Keberlanjutan, Regenerasi Anak Muda

Langkah restorasi ekologis di kawasan pemukiman padat Panambungan tidak boleh berhenti pada sosok Muhammad Saleh seorang. Bagi Saleh, tantangan terbesar pengelolaan sampah perkotaan hari ini berakar pada transformasi perilaku dan regenerasi kepedulian lingkungan antar-generasi.

Ia menyadari sepenuhnya bahwa masa depan bumi Makassar berada di tangan generasi muda yang saat ini mendominasi struktur demografi kota.

Dalam pandangan Saleh, pembangunan fisik kota yang pesat tanpa diimbangi oleh pemahaman ekologis pada generasi muda hanya akan melahirkan krisis lingkungan yang lebih parah di masa depan. Ia menumpahkan harapannya dengan nada prihatin namun penuh optimism.

“Harapan saya untuk generasi selanjutnya agar seyogyanya supaya sadarlah sekarang ini bahwa yang namanya lingkungan ini sangat penting sekali karena sebagian saya lihat sekarang anak muda-anak muda cuek dengan lingkungan, padahal itu sangat penting karena hampir semua yang namanya pembangunan itu pasti punya kawasan lingkungan ini. Mungkin harus paham betul generasi muda sekarang,” tutur Muhammad Saleh dengan tatapan penuh kepedulian.

Transformasi pola pikir memang membutuhkan proses yang panjang dan konsisten. Keterlibatan aktif anak muda dalam kegiatan-kegiatan restorasi lingkungan merupakan kunci utama agar mereka memiliki sensitivitas ekologis sejak dini.

Bagi Saleh, mengubah cara pandang masyarakat agar mau memilah sampah langsung dari dapur adalah bentuk perjuangan literasi yang tak kenal henti.

Momentum restorasi perilaku ini kini makin diperkuat oleh pijakan hukum yang tegas. Pemerintah Kota Makassar telah menetapkan aturan wajib pemilahan sampah dari rumah tangga yang berlaku efektif sejak 1 Agustus 2026. Regulasi ini menjadi pendorong structures yang memaksa seluruh lapisan masyarakat untuk tidak lagi membuang sampah secara sembarangan, melainkan mulai memilahnya secara disiplin dari sumber pertama.

Ketegasan regulasi pemerintah, fasilitas TPS3R yang fungsional, dan dedikasi pembaharu lokal seperti Muhammad Saleh menciptakan rute baru bagi masa depan pengelolaan sampah di Makassar. Dari sebuah tempat penampungan yang dulunya terlupakan di Rusunawa Mariso, Saleh telah membuktikan bahwa tumpukan limbah dapat diubah menjadi sumber kehidupan baru, sekaligus membangkitkan kesadaran kolektif warga demi mewujudkan lingkungan perkotaan yang sehat, lestari, dan berkelanjutan.

Pilih Halaman:
  • 1
  • 2
Editor

Arman Jaya

Bergiat di isu-isu ekososial, pesisir dan pedesaan