Menilik Dinamika Pergulatan Bank Sampah dan TPS3R di Makassar

Menilik Dinamika Pergulatan Bank Sampah dan TPS3R di Makassar
Aktivitas di Bank Sampah Rasa Bersama-foto/Klikhijau
Bacakan Artikel
Suriani Mappong

Jurnalis, Pewarta ANTARA, Members SIEJ Simpul Sulsel

Suriani Mappong

Artikel terbaru dari Suriani Mappong (lihat semua)

Belum ada artikel terbaru lain dari penulis ini.

Klikhijau.com - Menyebut nama "Ballaparang" di Makassar di era 1990-an, bulu kuduk seketika berdiri dan bayangan rumah warga di sela semak-semak dan penghuni-penghuninya bertempramen yang memicu perkelahian antarkelompok sudah menjadi konsumsi informasi publik.

Namun di sela tantangan itu, Saharuddin Ridwan yang memiliki latar belakang jurnalis, tertantang masuk di tengah warga Ballaparang, Kecamatan Rappocini, Kota Makassar yang rerata berstatus ekonomi prasejahtera.

Upaya sosialisasi dan membangun kesadaran publik diakui sudah dilakukan sejak 2009, namun Bank Sampah Unit (BSU) perdana tercetus baru pada 2011. Warga Ballaparang yang semula kurang peduli sampah, akhirnya secara bertahap mulai mengumpulkan sampah anorganik untuk ditukar menjadi cuan ataupun beras.

Animo warga terus bertumbuh dan berlomba-lomba menjadi nasabah Bank Sampah. Semua transaksi tertulis di Buku Bank Sampah dan tabungan sampah yang dikonversi ke Rupiah atau beras itu terdata  dengan apik.

Sebelumnya, tumpukan botol plastik, kardus, kemasan makanan hingga berbagai jenis sampah rumah tangga kerap berakhir sebagai limbah yang dianggap tidak lagi berguna. Namun, di tangan pengelola bank sampah dan menyusul TPS3R (Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse dan Recycle), benda-benda yang dianggap tidak bernilai itu justru dapat berubah menjadi Rupiah bahkan emas.

Hal itu tergambar di satu sudut Kota Makassar. Sinar matahari ketika itu belum terlalu menyengat saat aktivitas memilah sampah dimulai di area belakang Kantor Kecamatan Tallo, Kota Makassar. Sampah yang dibawah tukang sampah ataupun perwakilan dari 15 kelurahan di kecamatan itu tidak serta-merta dibuang, tetapi satu per satu dipisahkan berdasarkan jenisnya.

Plastik, kertas, kardus, hingga material lain yang masih memiliki nilai ekonomi ditempatkan pada kelompoknya masing-masing.

Di sinilah konsep bank sampah bekerja. Bank sampah yang dominan mengolah sampah anorganik ini tidak sekadar menjadi tempat menampung sampah, tetapi menjadi bagian dari rantai pengelolaan sampah yang mempertemukan masyarakat sebagai penghasil sampah dengan pihak yang dapat mengolah kembali material tersebut.

Pengelolaan bank sampah di Makassar melibatkan jejaring yang cukup panjang. Dari masyarakat, sampah dapat dikumpulkan melalui Bank Sampah Unit (BSU) di tingkat kelurahan, kemudian bergerak menuju bank sampah sektoral (BSS) di kecamatan dan berlanjut ke bank sampah pusat (BSP) sebelum diteruskan kepada vendor atau mitra pengelola.

Pola tersebut membuat sampah yang sebelumnya berakhir di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) dapat kembali masuk ke dalam siklus ekonomi.

Baca Selanjutnya
Pilih Halaman:
  • 1
  • 2

Penulis, Editor in Chief Klikhijau