Menularkan Spirit Hidup Hijau Versi penuh
Sastra Hijau

Menikmati 5 Puisi Beraroma Alam dari Asia Ramli Prapanca

Klikhijau.com – Ram, begitulah Asia Ramli Prapanca lebih akrab disapa. Ia lahir di Kampung Usuku, Kec. Tomia, salah satu nusa kecil terpencil di ujung timur pulau Buton tahun 1960. Ia berasal dari...

Oleh Tim Redaksi 20 Oct 2024 11:45 3 menit baca
Klikhijau.com – Ram, begitulah Asia Ramli Prapanca lebih akrab disapa. Ia lahir di Kampung Usuku, Kec. Tomia, salah satu nusa kecil terpencil di ujung timur pulau Buton tahun 1960. Ia berasal dari keluarga pelaut, dibesarkan di dalam lingkungan budaya pesisir. Sejak kecil bakat Ram di bidang teater sudah nampak Jenjang pendidikan SMPnya dikecap di Banyuwangi dan Pasuruan. Ia menamatkan SMAnya di Ambon pada sebuah perguruan Muhammadiyah. Setelah itu, ia memilih IKIP Ujungpandang (sekarang Universitas Negeri Makassar atau UNM) jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia sampai selesai. [irp] Selain main teater, Ram juga lihai menulis puisi, buku puisinya yang telah diterbitkan, satu di antaranya adalah Aku di Sini Saja. Kumpulan puisi ini tahun 1996. Puisi-puisi dalam buku Aku di Sini Saja, banyak beraroma alam, berikut 5 di antaranya:

Batang Pisang

  Di jembatan batu tua itu Kulepaskan batang pisang Air laut Mengalir Bila tiba di tengah samudera Panggillah ibuku yang hilang Menyusui adikku Panggillah pula gadisku Yang berumah di atas karang Yang tubuhnya bergaram airmata Makassar, 1989 [irp]

Di Sini Aku Selesai

  Bintang-bintang mengepungku di tengah malam Tubuhku separoh ditelan laut Burung menggaris leherku Hujan ! Aku mencari pulau di dalam hujan Pantai menyingkir meninggalkan azab Batu-batu menganga Siap menelan tubuhku Aku tak mendengar ombak Semua hilang bersama waktu Tali kegelapan erat mencekik bumi O, roh terbang ke mana-mana lengket di dinding lengket di pohon lengket di langit lengket di bulan lengket di matahari Burung datang menggores waktu membelah bumi pulau hitam dibungkus ombak putih Selamat tinggal anakku Selamat tinggal istriku Ibu, kujemput kamu Di alam yang tak pernah kukenal di sini aku selesai Tanjung Bira, 1995 [irp]

Pemimpi

  Di hutan Kubayangkan diriku Perambah paling kuat Pemakan panser dan batu gunung Di laut Kubanyangkan diriku Penyelam paling dalam Pemakan kapal dan batu karang Di angkasa Kulihat nyata diriku Pemimpi paling sukses Pemakan angin dan batu akik Makassar, 1989 [irp]

 Laut Malam

  Seorang penyair Berenang di lautan malam ditemani mimpi dan penderitaan Ditatapnya langit Bulan dan bintang karam dan tenggelam dalam kota Lautan malam Kerajaan Nafsu Seorang penyair muntah di atasnya Makassar, 1994 [irp]

 Jiwa Mengembara

  Dari tanah jiwaku bangkit Aku menengadah langit menekanku Aku berpaling bumi mencekikku Aku memohon halilintar menyambarku Jiwaku cemas Ribuan mata melotot padaku Ribuan kaki mendepak hidungku Ribuan bahu memanggul kapak Siap membelah ragaku Jiwaku cemas sempurna Aku ingin berlari Tapi ribuan telunjuk menghadangku di pintu Aku ingin membaringkan tubuhku Tapi tanah menolak tapakku Bertahun-tahun Bermil-mil Jiwaku mengembara Di laut selalu aku mengapung Di puncak selalu aku terjatuh Aku terkapar di rimba raya Bertahun-tahun Bermil-mil Berabad-abad Sepi lepaskan biarkan aku menukik Memagut bintang jadi nisanku ! Makassar, 1986 [irp]
Topik terkait
#puisi lingkungan #air laut #puisi ekologi #asia ramli prapanca