Menularkan Spirit Hidup Hijau Versi penuh
Sastra Hijau

Merenungi 3 Puisi Jalaluddin Rumi yang Berdiksi Alam

Klikhijau.com – Bagi penyuka puisi atau syair. Tentu tidak akan asing dengan nama Jalaluddin Rumi. Ia merupakan seorang penyair sufi Persia, teolog Maturidi, sekaligus ulama yang lahir di Balkh, Persi...

Oleh Tim Redaksi 04 Aug 2024 13:12 2 menit baca
Klikhijau.com – Bagi penyuka puisi atau syair. Tentu tidak akan asing dengan nama Jalaluddin Rumi. Ia merupakan seorang penyair sufi Persia, teolog Maturidi, sekaligus ulama yang lahir di Balkh, Persia Raya. Rumi lahir di Balkh, Afghanistan tepatnya pada tanggal 30 September 1207 dan wafat pada tanggal 17 Desember 1273 di Konya, Turki. Ia banyak memperkenalkan ajaran-ajaran agama Islam, ketuhanan, cinta, serta pengalaman kehidupan melalui puisi-puisinya. Puisi Rumi sangat indah, romantis, sarat makna dan renungan. Pada puisi-puisinya juga, kita dengan mudah menemukan diksi berbau alam. Berikut puisi-puisi Rumi yang bernapas alam yang bisa dinikmati dan renungi:  

Suatu Fajar Bersama sang Rembulan

  Rembulan muncul di langit fajar. Mengambang turun ia, seraya menatapku. Lalu, bagai seekor elang menyambar mangsanya, ia mencengkeramku dan menyeretku ke angkasa. Walau kucoba sekuat tenaga, tak mampu aku melihat diriku sendiri. Berkat keajaiban cahaya rembulan, telah lebur diriku kedalam jiwa murni. Dalam bentuk itu lah pengelanaanku berlangsung, bersatu dalam cahaya tak-terbatas. Lalu, rahasia dari pertunjukan abadi tergelar jelas di hadapanku. Kesembilan sfera langit, terliputi oleh cahaya. Wahana-jiwaku, melayang di Samudera tanpa pantai. Tiba-tiba samudera wujud beralih bentuk menjadi gelombang demi gelombang. Pikiran timbul: imaji bentuk bagai gelombang memecah di pantai. Lalu semuanya kembali seperti semula: bersatu dalam jiwa yang murni. Keberuntungan berupa penglihatan ini berasal dari Syamsudin al-Haqq dari Tabriz. Tanpa kemurahannya, tak ada yang dapat menunggang rembulan atau menjadi samudera tanpa batas. [irp]

Nyanyian Seruling Bambu

  Dengarkan nyanyi sangsai seruling bambu mendesah selalu Sejak direnggut dari rumpun rimbunnya dulu Alunan lagu pedih dan cinta membara Rahasia nyanyianku, meski dekat, tak seorang pun bisa mendengar dan melihat Oh, andai ada teman tahu isyarat Mendekap dengan segenap jiwanya dengan jiwaku Ini nyala cinta yang membakarku, ini anggur cinta yang mengilhamiku Sudilah pahami betapa para pecinta terluka Dengar, dengarkanlah rintihan seruling! [irp]

Saatnya untuk Pulang

  Malam larut, malam memulai hujan Inilah saatnya untuk kembali pulang Kita sudah cukup jauh mengembara Menjelajah rumah-rumah kosong Aku tahu: teramat menggoda untuk ditinggalkan saja Aku tahu: bahkan lebih pantas untuk menuntaskan malam di sini bersama mereka Tapi aku hanya ingin kembali pulang Sudah kita lihat cukup destinasi indah Dengan isyarat dalam ucap mereka Inilah rumah Tuhan Melihat butir padi seperti perangai semut tanpa ingin memanennya Biar tinggalkan saja sapi menggembala sendiri Dan kita pergi ke sana; ke tempat semua orang sungguh menuju Ke sana, ke tempat kita leluasa melangkah telanjang [irp]
Topik terkait
#puisi lingkungan #sastra dan ekologi #jalaluddin rumi #puisi jalaluddin rumi #agama islam