Mengenal Bencana Sedimen, Faktor Penyebab dan Strategi Mitigasinya
Klikhijau.com – Bencana sedimen didefinisikan sebagai suatu fenomena yang memicu terjadinya kerusakan baik secara langsung maupun tidak langsung pada kehidupan manusia dan harta benda, ketidaknyamanan...
Klikhijau.com – Bencana sedimen didefinisikan sebagai suatu fenomena yang memicu terjadinya kerusakan baik secara langsung maupun tidak langsung pada kehidupan manusia dan harta benda, ketidaknyamanan bagi kehidupan masyarakat, dan atau kerusakan lingkungan, melalui suatu skala besar pergerakan tanah dan batuan.
Bencana sedimen dapat menimbulkan sejumlah kerusakan antara lain: (1) hilangnya bangunan dan lahan pertanian akibat longsor dan erosi; (2) kerusakan bangunan rumah dan infrastruktur lainnya akibat daya rusak tanah dan batuan; (3) rumah dan lahan pertanian terkubur di bawah tanah oleh akumulasi skala besar sedimen; (4) meningkatnya endapan di dasar sungai yang mengundang banjir, gangguan fungsi air dan kerusakan lingkungan.
Bencana sedimen dapat dibedakan berdasarkan sumber sedimen (ontite) dan tempat deposisi sedimen (off site). Sumber sedimen meliputi tanah longsor akibat gempa, longsor akibat aktivitas vulkanik, longsor akibat hujan, gunung runtuh, lahar panas dan lahar dingin.
Adapun tempat deposisi sedimen meliputi sedimentasi dam/waduk, sedimentasi sungai, sedimentasi danau, erosi dan abrasi pantai.
Perlu diketahui bahwa volume besar tanah dan pasir dapat dihasilkan oleh erosi, akan tetapi tidak selalu akan menimbulkan bencana dari erosi tersebut. Sebagai contoh, jika jumlah tanah dan pasir lebih kecil dibanding dengan sedimen yang diperkenankan atau sedimen tidak berbahaya, maka bencana tidak terjadi.
[irp]
Faktor penyebab bencana sedimen
Secara umum, bencana sedimen dipicu oleh faktor mekanis dan faktor pendorong yang berkontribusi terhadap terjadinya bencana sedimen. Faktor mekanis adalah kontribusi internal suatu tempat yang dapat menyebabkan bencana sedimen terjadi. Sedangkan, faktor pendorong adalah kekuatan dari luar yang dapat menyebabkan bencana sedimen terjadi. Dalam konteks ini, bencana sedimen sangat erat kaitannya dengan bencana longsor. Berdasarkan prosesnya, tanah longsor dapat dibagi ke dalam 6 bagian yakni: longsoran translasi, longsoran rotasi, pergerakan blok, runtuhan batu, rayapan tanah, dan aliran bahan rombakan. Secara detail dapat dijelaskan berikut ini:- Longsoran translasi yakni bergeraknya massa tanah dan batuan pada bidang gelincir terbentuk rata atau menggelombang landai.
- Longsoran rotasi yakni bergeraknya massa tanah dan batuan pada bidang gelincir berbentuk cekung.
- Pergerakan blok yakni perpindahan batuan yang bergerak pada bidang gelincir berbentuk rata. Longsoran ini disebut pula longsoran translasi blok batu.
- Runtuhan batu yakni fenomena yang terjadi ketika sejumlah besar batuan atau material lain bergerak ke bawah dengan cara jatuh bebas. Umumnya peristiwa ini terjadi di di lereng yang terjal dan menggantung khususnya di wilayah pantai.
- Rayapan tanah yakni jenis tanah longsor yang bergerak lambat. Jenis tanahnya berupa butiran kasar dan halus. Jenis tanah longsor ini hampir tidak dapat dikenali. Namun, dalam waktu lama, longsor jenis rayapan dapat menyebabkan pepohonan dan rumah miring ke bawah.
- Aliran bahan rombakan yakni jenis tanah longsor yang terjadi ketika massa tanah bergerak karena didorong oleh air. Kecepatan aliran tergantung pada kemiringan, lereng, volume dan tekanan air dan jenis materialnya.
Penyebab terjadinya longsor
Bencana longsor di Indonesia sangat kerap terjadi khususnya saat musim hujan. secara umum, penyebab bencana longsor di Indonesia dapat diuraikan sebagai berikut:-
Hujan
-
Tanah yang kurang padat
-
Lereng terjal
-
Jenis tata lahan
-
Getaran
-
Adanya beban tambahan
-
Erosi
-
Masalah tata ruang
-
Bekas longsoran lama
-
Batuan yang kurang kuat
-
Kerusakan dan penggundulan hutan
-
Daerah pembuangan sampah
Mekanisme terjadinya gempa sedimen
Permukaan tanah yang miring dan membentuk sudut tertentu terhadap bidang horisontal disebut sebagai lereng (slope). Lereng dapat terbentuk secara alamiah juga dapat dibentuk oleh campur tangan manusia. Jika permukaan membentuk suatu kemiringan maka komponen massa tanah di atas bidang gelincir cenderung akan bergerak ke arah bawah akibat gravitasi. Jika komponen gaya berat yang terjadi cukup besar, ini akan mengakibatkan longsor pada lereng. Kondisi ini dapat dicegah jika gaya dorong (driving force) tidak melampaui gaya perlawanan yang berasal dari kekuatan geser tanah sepanjang bidang longsor. [irp] Kegagalan lereng dapat terjadi dalam setiap lereng yang curam. Faktor pendorong kegagalan lereng terutama yang bersifat mengurangi resistensi geser tanah pada lereng, seperti curah hujan dan meningkatnya tingkat air tanah.Strategi mitigasi bencana sedimen
Perlu diketahui bahwa Indonesia merupakan negara yang termasuk rawan bencana (hazard potency). Potensi bencana di Indonesia dapat dikelompokkan menjadi 2 yakni potensi bahaya utama (main hazard) dan potensi bahaya ikutan (collateral hazard). Potensi bahaya utama ini dapat dilihat antara lain pada peta potensi bencana gempa di Indonesia yang menunjukkan bahwa Indonesia adalah wilayah dengan zona-zona gempa yang rawan, longsor, gunung api, tsunami, banjir dan lainnya. Di samping itu, Indonesia juga rawan potensi bahaya ikutan. Potensi ini sangat besar terjadi di wilayah perkotaan yang memiliki kepadatan penduduk dan kondisi pemukiman, industri berbahaya dan lainnya. Sebagai catatan, bencana sedimen sangat dominan terjadi di hampir seluruh wilayah di Indonesia setiap tahunnya. Lalu, bagaimana model mitigasi bencana yang bisa dilakukan? Mitigasi bencana adalah istilah yang dipakai untuk merujuk pada semua tindakan untuk mengurangi dampak dari suatu bencana yang dapat dilakukan sebelum bencana terjadi, termasuk kesiapan dan tindakan pengurangan risiko jangka panjang. Berikut beberapa strategi mitigasi bencana sedimen yang dapat dilakukan: [irp]-
Pemetaan
-
Pemantauan
-
Literasi bencana
-
Sosialisasi dan penyuluhan
-
Peringatan dini