Menaruh Asa Tinggi Pada Pemuda Adat Dalam Memberdayakan Daerahnya

Klikhijau.com - Dengan jumlah hanya sekitar 6,2 persen dari seluruh jumlah penduduk di dunia, Masyarakat Adat terbukti mampu menjaga dan mengelola lebih dari 80 persen biodiversitas bumi. Oleh kare...

Menaruh Asa Tinggi Pada Pemuda Adat Dalam Memberdayakan Daerahnya
Bacakan Artikel

Gerakan Pulang Kampung menjadi sebuah inisiatif yang sangat diperlukan, untuk menjaga kesinambungan upaya menjaga eksistensi wilayah adat. Pemuda adat menjadi penerus yang tidak tergantikan.

Potensi yang dimiliki oleh pemuda adat juga diakui oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), yang pada peringatan Hari Internasional Masyarakat Adat Sedunia (HIMAS) pada 9 Agustus tahun ini mengangkat tema khusus tentang peran penting pemuda adat dalam menentukan masa depan Masyarakat Adat di dunia. HIMAS yang ditetapkan jatuh pada setiap tanggal 9 Agustus, merupakan upaya PBB untuk terus mengingat kontribusi Masyarakat Adat pada dunia.

Sepakat dengan Mina, Staf Khusus Presiden RI Bidang Pendidikan, Inovasi dan Daerah Terluar Billy Mambrasar menyampaikan apresiasinya untuk Gerakan Pulang Kampung yang sudah dijalankan oleh AMAN dan BPAN.

Saat ini, Indonesia sedang berada dalam diskursus akibat perginya ribuan anak Indonesia untuk tinggal di Singapura. Namun, Gerakan Pulang kampung ini justru mendorong tren kembalinya anak-anak ke kampung halaman, salah satunya seperti di Luwu Utara dan membangun daerahnya agar meningkat dengan pesat.

“Pemuda-pemudi memiliki kesempatan untuk menjadi penggerak, pendorong, dan pendobrak ekonomi dari berbagai sektor di Kabupaten Luwu Utara. Sektor pertanian, kelautan, perikanan, dan pariwisata menjadi andalan. Anak-anak muda menjadi para local champion dan menginspirasi pemuda-pemudi lain untuk ikut terlibat. Mengambil kisah contoh sukses yang saya lakukan sebagai duta pembangunan berkelanjutan dan juga perintis dari konsep Papua Interactive Hub, di mana kami sedang menggerakkan ribuan anak Papua untuk kembali membangun provinsi paling timur di Indonesia ini, maka hal serupa dapat kita lakukan juga di daerah Luwu Utara dan daerah lainnya,” jelas Billy.

Charles Pasadjangan, Tokoh Anak Muda Rongkong, menjelaskan tentang upayanya mendorong kesediaan pangan di kampung, wilayah adatnya, dan mengajak anak-anak muda untuk kembali ke sana. Namun, ia juga menyadari bahwa sulit untuk mengajak para pemuda pulang dari rantau karena keterbatasan lapangan pekerjaan. Pandemi COVID-19 tiga tahun lalu menjadi titik balik yang menarik anak muda untuk pulang hingga saat ini.

“Kami menyadari bahwa tanah kami punya potensi karena subur dan sangat luas. Lalu, kami menggalang anak muda adat Amboan di Kecamatan Rongkong, Kabupaten Luwu Utara, yang tergerak untuk melakukan penanaman sayur, buah dan budidaya Ikan Mas. Melihat hasilnya, semakin banyak yang tertarik ikut menanam. Akhirnya bukan hanya kelompok pemuda yang menanam sayuran, tetapi masyarakat juga ikut menanam. Produksi menjadi tinggi sehingga pedagang datang untuk mengambil stok di Rongkong. Kami sempat mencapai produksi sebanyak 1 ton cabai per-minggu,” kata Charles.

Banyak yang merasakan manfaat dari Gerakan Pulang Kampung, seperti adanya manfaat ekonomi bagi pemuda dan masyarakat. Inisiatif ini semakin membuka cara pandang anak-anak muda tentang potensi ekonomi dan bahwa lapangan pekerjaan sesungguhnya itu juga ada di kampung. Jika wilayah adat dikelola dan dikembangkan dengan baik, bisa mendatangkan manfaat bagi pemuda dan Masyarakat Adat untuk mandiri secara ekonomi. Selain itu, mereka juga dapat menjaga tanah-wilayah adat titipan leluhurnya.

Pilih Halaman:
  • 1
  • 2