Menularkan Spirit Hidup Hijau Versi penuh
Sastra Hijau

Menakar Seduhan Kopi untuk Ayah

Menakar Seduhan Kopi untuk Ayah   aku baru saja mengantar ibu ke kebun tempat segala mimpinya tumbuh bertumbuh pohon-pohon kopi tanpa buah menyambut lesu, ibu terdiam, ditatapinya pohon...

Oleh Idris Makkatutu 29 Jan 2023 05:47 2 menit baca

Menakar Seduhan Kopi untuk Ayah

  aku baru saja mengantar ibu ke kebun tempat segala mimpinya tumbuh bertumbuh pohon-pohon kopi tanpa buah menyambut lesu, ibu terdiam, ditatapinya pohon kopi itu buah kopi telah lama menghilang tepat sejak kemarau lupa berkunjung gulma tumbuh subur, sergapi kopi di kebun ibu dua atau tiga ekor lintah darat mendarat di kulit darah menetes basahi tanah tanah bisa menerima semua yang ditumpahkan, segala yang ditanam, seluruh yang dibuang senyum ibu menghilang, lenyap ditelan pohon kopi tiada buah itu hujan kini lebih bersetia berkunjung dari kemarau penanda musim hilang tiada bekas tetua mulai sakit kepala mata ibu, kini berubah pula musim hujan air matanya adalah kopi susu kesukaan orang kota tempat segala pasal-pasal dimuntahkan ibu berjalan ke kebun, menatapi pohon-pohon kopi itu, menghitung berapa biji kopi dalam satu pohon. cukupkan diseduh untuk ayah? ibu menakarnya dengan pelukan Januari 2023 [irp]

Belajar Buang Sampah

  ia menenteng nasi padang itu ke meja. duduk lalu melahapnya, tanpa cuci tangan. tak ada kobokan di meja makan, hanya ada sendok dan garpu, juga sumpit. tiada pula air dalam gelas, tiada asap rokok ia melahap nasi padang itu, orang-orang datang dan pergi. yang pergi membawa sampahnya sendiri membuang pada tempat semestinya buang sampah sendiri itu kesopanan sopan itu tak merepotkan orang lain seusai makan, ia meneguk air dari tumblernya mencuci tangan sekadarnya memunguti sampahnya, membawanya ke tempat sampah ia tersenyum, singapura mengajarinya membuang sampah pada tempatnya. Januari 2023 [irp]

Hujan Resah Meresahkan

  sepotong video pendek kau kirimkan aku memutarnya, kupikir itu video menjemur pakaian atau video porang mulai hijau di kebunmu porang yang kau bawa bibitnya dari kampungku di bulan juli. setelah membujuk jaringan yang ditelan hujan berhari-hari, video itu terbuka seorang ibu meraung, air coklat susu telah mengepungnya menyapu segala yang dilaluinya hujan telah tiba sejak seminggu lalu air hujan puyeng mengalir ke mana air itu mampir di rumah ibu itu menari di halamannya hingga ke kamar tidur, juga dapur anak si ibu dalam video itu menyemangati ibunya "sabar ibu, kuat ibu" anak itu terus merekam ibunya yang gigil dalam kepungan banjir. terus saja hujan mulai tiada menentu tibanya tiba dengan resah meresahkan Januari 2023 [irp]
Topik terkait
#kopi #ekologi sastra #puisi lingkungan #pohon kopi #kebun