Memikirkan Ulang Penanganan Limbah Masker yang Bersumber dari Rumah Tangga

Klikhijau.com – Limbah masker yang bersumber dari rumah tangga meningkat tajam selama pandemi. Laporan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DKI Jakarta menunjukkan ada sekira 1,5 ton limbah masker dari rumah...

Memikirkan Ulang Penanganan Limbah Masker yang Bersumber dari Rumah Tangga
Bacakan Artikel

Terlebih dalam tiga bulan terakhir ini tren penggunaan masker sekali pakai meningkat pasca harga pasarannya mulai menurun.

Sebelumnya, masker sekali pakai sempat langka, sehingga mendorong banyak orang memilih masker kain. Belum lagi adanya minset baru mengenai penggunaan masker berlapis untuk perlindungan berlapis dari penularan Covid-19.

Putri Damayanti (19) seorang mahasiswa di Makassar mengakui jika dirinya memang sudah intens memakai masker sekali pakai beberapa bulan terakhir. Alasannya, akses mendapat masker sekali pakai saat ini sudah tersedia di mana-mana dengan harga terjangkau.

“Saya juga merasa lebih aman dan lebih nyaman memakai masker sekali pakai, daripada masker kain,” kata Putri yang dikonfirmasi (7/1/2021).

Penanganan minim perhatian

Terkait penanganan limbah masker, Putri mengaku hanya membuangnya di tempat sampah yang selanjutnya dijemput petugas kebersihan.

Apakah tindakan khusus untuk penanganan limbah masker yang bersumber dari rumah tangga dilakukan di semua daerah? Pantauan Klikhijau, di sejumlah daerah justru lalai dalam merespons hal ini. Limbah masker bahkan bercampur begitu saja dengan sampah rumah tangga lainnya.

Penyebab utamanya selain minimnya sosialisasi dan pemahaman masyarakat, skema pemilahan sampah berbasis rumah tangga juga belum banyak diterapkan. Akibatnya, limbah masker sekali pakai berpotensi mengancam lingkungan dan memperburuk keadaan bila tak tertangani dengan baik.

Sekretaris Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Majene Sulawesi Barat, Hikmah, ST, M.Si., mengatakan limbah masker sekali pakai berbahaya. Karenanya perlu ada semacam treatment khusus agar untuk dampaknya tidak meluas.

“Paling tidak, masker yang telah dipakai digunting menjadi potongan kecil. Lalu, dibungkus dengan kertas atau wadah kemudian dimasukkan ke dalam tempat sampah anorganik,” jelas Hikmah.

Worldwide Wildlife Fund (WWF) telah melaporkan kekhawatiran akan hal ini. Dilaporkan bahwa secara global, ada 129 miliar masker wajah dan 65 miliar sarung tangan plastik di setiap bulan.

“Jika hanya 1 persen dari masker yang dibuang secara tidak benar, ini akan menghasilkan 10 juta masker per bulan yang tersebar di lingkungan. Menimbang bahwa berat masing-masing masker adalah sekitar 4 gram, ini akan memerlukan dispersi lebih dari 40 ribu kilogram plastik di alam."

Dr Laura Foster (Head of Clean Seas) mengatakan, tempat terbaik untuk masker sekali pakai adalah tempat sampah, bukan sembarangan di tempat publik, seperti trotoar, taman, dan tempat umum lainnya.

“Jika Anda memilih untuk pakai masker sekali pakai, sesuai dengan petunjuk pemerintah dan WHO, maka pastikan untuk membuang masker dengan benar, dengan melemparkannya ke tempat sampah,” katanya, seperti dikutip dari The Independent.

Sejauh ini, sosialisasi mengenai penanganan masker sekali pakai memang masih minim. Selain masih tertangani sebagaimana sampah umum, limbah masker juga masih kerap terbuang bebas ke selokan, jalanan dan sangat mungkin berakhir ke sungai.

Saatnya membuat aksi serius akan hal ini dalam bentuk perhatian khusus dari pemerintah untuk meminimalisir aksi pembuangan sembarangan. Hal lainnya yang juga penting adalah sosialisasi ke masyarakat mengenai perlunya penanganan khusus limbah masker.

Pilih Halaman:
  • 1
  • 2