Memeluk Bumi di Sebatang Porang
Bulukumba di musim hujan selalu kelabu dan hawa dinginnya meresap ke tulang dan hati yang sendu. Kesedihan ditinggal nikah oleh kekasihnya membuatnya pasrah menjalani hidup. Setelah hampir tujuh ...
Bulukumba di musim hujan selalu kelabu dan hawa dinginnya meresap ke tulang dan hati yang sendu. Kesedihan ditinggal nikah oleh kekasihnya membuatnya pasrah menjalani hidup.
Setelah hampir tujuh tahun merajut kisah dengan seorang perempuan bernama En, gadis berdarah Bone dan Andi. En memutuskan menikah dengan pilihan orang tuanya dan tentu dengan tawaran uang panaik yang lebih menjanjikan. Sementara Rusdi memutuskan pulang ke kampung halamannya di Bontotanga. Sebuah kampung yang berjarak sekitar 13 kilo meter dari kota kabupaten Bulukumba.
Ia memulai kisah hidupnya yang baru. Sekian tahun akhirnya ia bisa leluasa memandangi wajah kampung halamannya dan wajah ayah ibunya yang sudah renta.
Rusdi, anak muda yang berkulit legam itu baru saja menamatkan pendidikannya di perguruan tinggi Islam di Makassar. Ia menyelesaikan studi dalam kurun waktu tujuh tahun. Nyaris didropout dari kampusnya.
Kini di waktu yang telah banyak berubah. Di tanah kelahirannya ia bisa menemukan hiburan dan jalan menemukan muara pengetahuan baru dan ingatan masa lalunya. Perihal kekanak dan hal-hal kecil lainnya yang ingin ia kunjungi.
Rusdi berusaha mengubur kenangannya bersama En. Ia memilih membudidayakan tanaman Porang. Pikirnya, tanaman porang itu akan memberi hiburan dan asa untuk tetap melanjutkan hidup ketimbang terus memikirkan perempuan bernama En.
[irp]
Perlahan tapi pasti. Hari-harinya mulai disibukkan dengan tanaman porang yang telah menghampar di pekarangan rumahnya yang sederhana. Di depan, samping dan belakang. Cukup untuk menampung ratusan hingga ribuan porang. Ia butuh waktu berbulan-bulan menyiapkannya. Kini tanaman itu sudah seperti teman. Ia merawatnya dengan baik. Ia telah membenamkan masa lalunya. Meski kadang di malam-malam yang sunyi ingatan tentang En diam-diam masih bersembunyi sesekali menghampiri. Tetapi tidak lama.
Membudidayakan tanaman porang bukan tanpa halangan. Di kampung, ketika telah sarjana dan menggeluti pekerjaan sebagai seorang pekebun ataupun petani dianggap sebagai "aib". Harusnya ia jadi seorang pegawai kantoran atau PNS. Jika tidak, maka kau dianggap tidak punya masa depan. Tapi Rusdi sudah tidak peduli dengan omongan orang lain atau tetanga-tetangga yang suka nyinyir, yang jelas apa yang dilakukannya halal dan masuk akal. Ia bahkan tidak peduli ketika ia mampir ke warung dan mendengar orang-orang yang duduk di sana sambil mengejeknya.
"Kamu jauh-jauh pergi sekolah, pulang ke kampung hanya pergi berkebun."
Namun, ia tahu itu hanya lelucon. Tidak perlu ditanggapi berlebihan. Ia hanya tersenyum. Baginya yang menjalani hidup adalah dirinya sendiri. Bagaimanapun Rusdi mencoba membuka jalan takdirnya. Jalan hidupnya. Tanpa perlu dieja oleh orang lain. Ia percaya dengan apa yang dilakukannya sebagai sesuatu yang membuatnya bertahan dari semua kehilangan.
[irp]