Green Life Style Versi penuh
Sastra Hijau

Membuang Sampah ke Kepala

Sebagai Akar Sebuah puisi bangkit jadi pohon-pohon Melepaskan diri dari pelukan dan retakan tanah Ia sedang belajar merelakan hidupnya, menyerap segala polusi Seperti embun meninggalkan dedaun...

Oleh Nona Reni 11 Aug 2024 13:59 3 menit baca

Sebagai Akar

Sebuah puisi bangkit jadi pohon-pohon Melepaskan diri dari pelukan dan retakan tanah Ia sedang belajar merelakan hidupnya, menyerap segala polusi Seperti embun meninggalkan dedaunan Demi napas seorang anak kecil Ada keinginan, bising dalam kepala jadi gemuruh hujan Melantun jadi melodi alam, lagu yang tak ingin selesai Mewartakan hutan, laut, udara jadi kuburan Minggu pagi jalan pemuda ramai sekali Para remaja sibuk mengingat jalan dan nama pahlawan Dan nama-nama pohon yang telah ditebang, jadi perumahan para pejabat Ada yang pernah kita lalui sebagai kita, sebagai akar yang menyerap air Saat lalulintas belum tersendat Di persimpangan jalan kesatria-tempat lenganmu melepaskan diri Dari barisan dan sangsi-sangsi esok hari Di taman makam pahlawan yang rimbun Tempat yang diyakini semua petualangan harus berakhir Ada epitaf menyusun diri sedemikian rupa Aku berhenti jadi pelupa Seluruh puisi di kepalaku menjadi batu Di atasnya: tubuhmu memeluk jaraknya sendiri Pohon-pohon sekarat, laut menghangat, udara menghitam. Kita sekarat dalam pelukan sendiri 2024 [irp] --

Membuang Sampah ke Kepala

  Hujan reda Kenangan masih deras di kepala Juga kopi dan mimpi yang luput dari mata gunungmu Kisah dari masa depan sibuk mencari alamat tujuan Ke manakah sampah-sampah harus dibuang? Ragu yang kusingkap dari dada sendiri Terbuang--tumbuh menjadi perdu putri malu Malu-malu bertanya, ke mana berumah pohon di pinggir jalan yang di tebang tengah malam itu Keriangan masa lampau adalah rute seekor rayap Terperangkap pada rak-rak bukuku Jadi tanah, tempat segala asal bermula Tempat kembali memulai Aku tenggelam dalam punggung waktu Jalan setapak peninggalan masa muda Getir sampai ke ujung lidahku, sesaat ingatan akan adamu begitu ganjil Hujan reda, dan semua bersorak Sebelum banjir tiba membawa air mata Sebelum sampah dibawa ke kepala Seperti duka yang selalu meneriaki diri sendiri untuk tabah Tanpa sekalipun memberi arah Lalu ke manakah sampah harus dibuang Kalau bukan ke dalam kepala? 2024 [irp] __

Hutan dan Tahun yang Panjang

  Tak ada yang lebih gelisah dari pagi hari Selain burung-burung yang kehilangan makanan Ketakutan terlambat tiba dan kemacetan tak kunjung henti Dan kau Kau adalah suara yang membawa bising ke kepala Membuat satwa terjaga larut malam Kau berlalu-lalang dalam kepala jadi ilalang Sesekali hilang tanpa aba-aba Dan namamu jadi sarang laba-laba Jalanan tiba-tiba menjadi lengang, untuk dadaku yang mencipta gesekan daun-daun kering di kemarau Di sinilah aku sekarang Menekuri hutan dan tahun panjang yang ditelan wabah Berjuang senantiasa tabah Tunggui gabah tiba di rumah Seharusnya kunyalakan kembang api Meski tidak untuk merayakan apa-apa Selain keluh kesah karena gagal panen Tunggulah tibaku depan pintumu Di mana rindu berhenti berisik dan berbisik Mengabarkan harga sembako melangit lagi Sebab lengang dadaku merindu lapang pelukmu Seperti ganjil yang ingin tergenapi Seperti tanaman jagung menunggu hujan, halaman rumah yang berdoa tak dikunjungi banjir 2024 [irp]
Topik terkait
#pohon #sampah #puisi lingkungan #puisi berdiksi alam #puisi tentang sampah