Masyarakat Pulau Tomia di Wakatobi Bangkitkan Tradisi “Heole-Ole’a”
Klikhijau.com – Masyarakat Hukum Adat (MHA) di lingkup wilayah adat (kawati) Pulau Tomia, Kabupaten Wakatobi, Sulawesi Tenggara, melaksanakan “Deklarasi Penangkapan dan Pengelolaan Ikan Ole dalam Wil...
Klikhijau.com – Masyarakat Hukum Adat (MHA) di lingkup wilayah adat (kawati) Pulau Tomia, Kabupaten Wakatobi, Sulawesi Tenggara, melaksanakan “Deklarasi Penangkapan dan Pengelolaan Ikan Ole dalam Wilayah Kelola Adat Kawati Pulau Tomia”, Selasa 17 November 2020.
Acara ini dilaksanakan di Tomia dengan mengikuti protokol kesehatan dan diikuti oleh para pemangku adat di wilayah MHA Kawati Pulau Tomia. Kegiatan ini didukung oleh Balai Taman Nasional Wakatobi (BTNW), Pemerintah Kabupaten Wakatobi, Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Wakatobi, Komunitas Nelayan Tomia (KOMUNTO), dan Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN).
Ikan Ole adalah spesies yang diduga endemik di Pulau Tomia yang biasanya hanya muncul pada bulan Juni-September. Sesuai tradisi, ikan ole ditangkap dengan prosesi adat tersendiri.
”Untuk menangkap ikan ole ini menggunakan alat tangkap tradisional, yaitu jala dan jaring insang, serta dipimpin oleh seorang parika. Parika merupakan seorang pemangku adat yang ditugaskan mengatur segala hal yang berhubungan dengan penangkapan ikan ole,” jelas La Mahawani selaku Konta Bitara Kawati Tongano atau juru bicara lingkup wilayah adat Kawati Tongano, Pulau Tomia.
[irp]
Menurut La Mahawani, peran Parika sangat penting yakni mulai dari tata cara penangkapan, lokasi penangkapan, waktu penangkapan, mengatur hasil tangkapan, dan berkoordinasi dengan lembaga adat sebelum melakukan penangkapan.
Parika juga akan mengamati proses naiknya ikan ole ke suatu lokasi sampai selesai bertelur. Setelah ada komando dari parika, nelayan baru boleh menangkap ikan ole. Prosesi penangkapan ikan ole inilah yang disebut dengan Heole-Ole’a,”.
Seiring perkembangan zaman, tradisi Heole-Ole’a perlahan terlupakan. Padahal, tradisi ini sarat nilai luhur dalam mengelola sumber daya hayati yang lestari.
“Metode penangkapan ikan ole kini sudah tidak lagi menunggu masa proses bertelur selesai. Selain itu juga telah dilakukan modifikasi alat tangkap ikan yang cenderung melakukan penangkapan berlebih dengan menggunakan mata jaring yang lebih kecil. Jika dibiarkan terus-menerus, dikhawatirkan populasi ikan ole akan punah,” kata Abas, selaku Koordinator KOMUNTO.
Oleh karena itu, lanjut Abas, perlu segera diambil langkah untuk mengatur penangkapan dan pengelolaan ikan ole secara berkelanjutan, karena sejatinya nelayan di Pulau Tomia sejak dahulu memegang prinsip penangkapan berbasis kearifan lokal yang mengedepankan prinsip keberlanjutan.
[irp]
Ikan ole hasil tangkapan nelayan -Foto/Abas, Komunto[/caption]
“Adanya peraturan adat ini menjadi titik balik pengelolaan ikan ole secara berkelanjutan, yang selama ini terlupakan. Diharapkan, di musim ikan ole terdekat, peraturan ini sudah bisa dilaksanakan dan kita semua bisa mengawalnya agar berjalan dengan baik,” kata Kepala UPTD Kelautan dan Perikanan Pulau Tomia Sahawari.
Inisiatif pengelolaan ikan ole secara berkelanjutan ini memerlukan dukungan dan sinergi banyak pihak agar saat diimplementasikan bisa berjalan dengan baik.
[irp]
“BTNW mengucapkan selamat dan sukses atas “Deklarasi Penangkapan dan Pengelolaan Ikan Ole dalam Wilayah Kelola Adat Kawati Pulau Tomia”. Sejak awal kami selalu mendukung upaya penguatan MHA dalam hal pengelolaan sumber daya alam secara berkelanjutan. Kami juga berharap, ke depannya akan semakin banyak pihak yang mendukung upaya mulia seperti ini untuk menuju pengelolaan Taman Nasional Wakatobi yang lebih lestari dan memberikan manfaat baik bagi lingkungan dan masyarakat,” tutur Iwanuddin, selaku Kepala Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) Wilayah III Tomia Binongko - Balai Taman Nasional Wakatobi.
Perlindungan terhadap wilayah daratan dan perairan merupakan salah satu agenda prioritas konservasi YKAN, yang menjadi bagian dari upaya mitigasi dan adaptasi perubahan iklim.
Revitalisasi adat ini pun menjadi salah satu langkah penting untuk menciptakan Indonesia yang lestari hingga generasi masa depan.