Green Life Style Versi penuh
Ragam

Manusia, Tersangka Utama Atas Hilangnya Keanekaragaman Hayati di Setiap Ekosistem

Klikhijau.com – Keanekaragaman hayati berada dalam kritis. Tidak hanya satu jenis saja, tapi semua spesies yang menghuni dunia ini. Pun tidak hanya pada satu ekosistem, tetapi pada semua ekosistem....

Oleh Tim Redaksi 29 Mar 2025 13:29 4 menit baca
Klikhijau.com – Keanekaragaman hayati berada dalam kritis. Tidak hanya satu jenis saja, tapi semua spesies yang menghuni dunia ini. Pun tidak hanya pada satu ekosistem, tetapi pada semua ekosistem. Manusia diduga kuat merupakan biangkerok atas keterpurukan keanekaragaman hayati. Hal tersebut terungkap dalam sintesis lebih dari 2.000 penelitian. Universitas Zurich (UZH) dalam siaran persnya mengungkapkan bahwa keanekaragaman hayati sedang terancam. Semakin banyak spesies tumbuhan dan hewan yang punah di seluruh dunia, dan manusia bertanggung jawab atas hal ini. Namun, hingga saat ini, belum ada sintesis mengenai sejauh mana campur tangan manusia terhadap alam dan apakah dampaknya dapat ditemukan di mana-mana di dunia dan pada semua kelompok organisme. [irp] Karenanya, sebuah analisis global yang menyeluruh tidak menyisakan keraguan tentang dampak dahsyat yang ditimbulkan manusia terhadap Bumi, menurut para peneliti dari Institut Federal Swiss untuk Sains dan Teknologi Akuatik (Eawag) dan Universitas Zurich. Studi tersebut mencakup hampir 100.000 lokasi di seluruh benua. Para peneliti menemukan bahwa aktivitas manusia telah mengakibatkan “dampak yang belum pernah terjadi sebelumnya pada keanekaragaman hayati” “Ini adalah salah satu sintesis terbesar dampak manusia terhadap keanekaragaman hayati yang pernah dilakukan di seluruh dunia,” ungkap Florian Altermatt, profesor ekologi perairan di Universitas Zurich dan kepala Eawag. Tim tersebut mengamati habitat darat, air tawar, dan laut, serta menyertakan semua kelompok organisme, termasuk mikroba, jamur, tumbuhan, invertebrata, ikan, burung, dan mamalia. [irp] Para peneliti menemukan bahwa tekanan manusia secara jelas mengubah komposisi komunitas (pada dasarnya, spesies mana yang hidup di mana) dan mengurangi keanekaragaman hayati lokal. Rata-rata, jumlah spesies di lokasi yang terdampak manusia hampir 20% lebih rendah daripada di lokasi yang tidak terdampak manusia. Menurut laporan tersebut, kerugian yang sangat parah tercatat terjadi pada reptil, amfibi, dan mamalia. Populasi mereka seringkali lebih kecil daripada invertebrata, yang meningkatkan kemungkinan kepunahan.
5 faktor penurunan
Analisis tersebut mencakup lima pendorong penurunan: perubahan habitat, eksploitasi sumber daya secara langsung (seperti berburu atau memancing), perubahan iklim, spesies invasif, dan polusi. “Temuan kami menunjukkan bahwa kelima faktor tersebut memiliki dampak yang kuat terhadap keanekaragaman hayati di seluruh dunia, di semua kelompok organisme dan di semua ekosistem,” kata François Keck, penulis utama dan peneliti pascadoktoral di kelompok penelitian Altermatt. [irp] Perubahan habitat dan polusi  yang sering kali disebabkan oleh pertanian, memiliki dampak negatif yang sangat besar terhadap keanekaragaman hayati. Pertanian intensif, khususnya pertanian lahan kering melibatkan sejumlah besar pestisida dan pupuk, yang mengakibatkan penurunan keanekaragaman hayati, tetapi juga mengubah komposisi spesies. Dampak penuh perubahan iklim dan bagaimana hal itu memengaruhi spesies belum sepenuhnya dipahami.
Dampak bervariasi
Meskipun dampak keseluruhan campur tangan manusia bersifat negatif, beberapa ambiguitas tetap ada. Dampak manusia terhadap satwa liar bervariasi berdasarkan lokasi, seperti halnya tingkat di mana keanekaragaman hayati dihomogenkan oleh aktivitas manusia, kata para peneliti. “Bukan hanya jumlah spesies yang menurun. Tekanan manusia juga mengubah komposisi komunitas spesies,” tegas Keck. [irp] Di daerah pegunungan, misalnya, tanaman khusus digantikan oleh tanaman yang biasanya tumbuh di dataran rendah. Proses ini dikenal sebagai "lift menuju kepunahan" karena tanaman dataran tinggi tidak punya tempat lain untuk dituju. Ini bisa berarti bahwa meskipun jumlah spesies mungkin tetap sama, keanekaragamannya berkurang. "Menahan laju hilangnya dan perubahan keanekaragaman hayati kontemporer merupakan salah satu tantangan terbesar yang dihadapi masyarakat kita," kata para peneliti. Mereka mengatakan bahwa makalah tersebut harus menyediakan "patokan penting" untuk pengembangan dan penilaian strategi konservasi di masa mendatang. Sementara itu, Lynn Dicks, profesor ekologi di Universitas Cambridge mengatakan bahwa temuan tersebut sebagai analisis yang berguna dan penting, tetapi mengatakan temuan tersebut tidak mengungkapkan “kejutan besar”. [irp] “Kita tahu bahwa manusia mengubah keanekaragaman hayati secara besar-besaran di seluruh planet ini, menyebabkan terbentuknya komunitas tumbuhan, hewan, dan mikroba yang baru dan berbeda, yang dapat mengatasi kondisi yang terkadang sangat keras yang kita ciptakan,” katanya. Dicks juga mengatakan bahwa kekhawatiran terbesarnya adalah bagaimana memastikan bahwa spesies yang dapat hidup berdampingan dengan kita, yang banyak di antaranya menyediakan fungsi ekologis penting seperti penyerbukan, dekomposisi, dan penyebaran benih, memiliki populasi yang cukup besar dan keragaman genetik yang cukup untuk terus berevolusi.” Sedangkan Profesor Alexandre Antonelli, direktur sains di Kew Gardens, mengatakan makalah yang diterbitkan di Nature tersebut menunjukkan dengan "kejelasan yang belum pernah terjadi sebelumnya pengaruh negatif yang ada di mana-mana dari aktivitas manusia terhadap alam". “Ini adalah penelitian luar biasa yang menunjukkan pentingnya inklusi biologis – dari tumbuhan dan jamur hingga mamalia dan ikan – dalam menilai dampak manusia terhadap keanekaragaman hayati pada skala lokal, regional, dan global,” tandasnya. [irp] Dari: The Guardian
Topik terkait
#ekosistem #keanekaragaman hayati #konservasi #air tawar #kelompok organisme #inklusi biologis