Kuskus, Si Imut yang Jadi Spesies Kunci Jazirah Sulawesi
Klikhijau.com – Kuskus. Perkenalan saya dengannya cukup mengagetkan. Suatu malam, ketika kelambu telah terpasang, lampu telah padam, dan tubuh telah terbaring di tempat tidur. Sebuah suara cukup...
Klikhijau.com – Kuskus. Perkenalan saya dengannya cukup mengagetkan. Suatu malam, ketika kelambu telah terpasang, lampu telah padam, dan tubuh telah terbaring di tempat tidur.
Sebuah suara cukup nyaring terdengar dari dinding papan. Awalnya saya abaikan saja. Mengira itu kelakuan Pingky (nama kucing di rumah)—yang sedang mengejar tikus buruannya.
Namun, semakin lama suaranya semakin nyaring dan mencurigakan. Rasa penasaran membuat saya terbangun, menyingkap kelambu lalu menyalakan lampu.
Begitu lampu menyala, di ujung dinding paling atas kamar saya, terdapat satwa yang tak biasa. Itu bukan Pingky.
[irp]
Warnanya terlihat agak hitam. Saya tak tahu itu jenis satwa apa. Jarak saya dengannya sekitar 3 meter. Saya menatapnya, ia menatap balik—kami bersitatap. Aah romantis, bukan?
Saya beranjak perlahan ingin menangkapnya. Namun gagal, hanya bagian ekornya saja yang mampu tersentuh.
Ia berlari ke lego-lego (beranda), saya mengejarnya. Ia berhenti—mungkin karena silau oleh cahaya lampu di beranda rumah.
Ia berusaha sembunyi, namun tak mungkin. Saya leluasa melihatnya, bahkan sangat mungkin bisa menangkapnya, tapi dengan risiko yang tak sedikit, saya bisa saja jatuh dari ketinggian 3 meter jika melakukannya.
Saya masuk ke rumah mencari kayu, tapi begitu kembali ke lego-lego. Satwa itu telah tiada, lari ke atas para (bagian atas rumah panggung).
Dan perjumpaan saya dengannya pun berakhir. Saya hampir lupa peristiwa itu.
Hingga tanggal 4 Agustus 2021 lalu pada pukul 22.43 seseorang mengirimi saya foto via Whatsapp “Kalau ini, minatki?” tanyanya memberi keterangan pada fotonya.
“Apa itu?” tanya saya
“Memu.” Jawabnya.
[irp]
Endemik Sulawesi
Foto itu kemudian saya teruskan kepada Safira Arda Meyla, seorang mahasiswa tingkat akhir Insitut Pertanian Bogor (IPB)—yang belum lama ini meneliti tarsius di Kabupaten Maros. “Ini apa ya?” tanya saya pada keterangan foto yang meluncur kepadanya. “Ini kuskus, setahu saya ini di lindungi,” jawabnya Safira kemudian memberi saran bagaimana memperlakukan satwa yang masuk ke wilayah manusia, sebaiknya dibiarkan saja, mungkin akan kembali ke habitatnya di hutan. Namun, jika datang terus dan dikhawatirkan menimbulkn masalah sebaiknya di laporkan ke Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Tak hanya Safira, foto itu saya kirim pula ke Ismali, salah seorang petugas di Taman Nasional Bantimurung, Maros, juga kepada kepala BBKSDA Sulawesi Selatan, Thomas Nifinluri. Ismail berbaik hati, ia mengirimi saya ebook yang berjudul Manual Edintifikasi dan Bio-Ekologi Spesies Kunci Sulawesi 2020 yang ditulis oleh Abdul Haris Mustari. Di dalam buku itu terdapat juga kuskus. Saya berpikir kuskus hanya satu jenis, tapi dari buku digital yang dikirimkn itu, saya tahu ternyata ada tiga jenis kuskus yang menghuni jazirah Sulawesi dan merupaka satwa endemik yang dilindungi. Ini 3 jenis kuskus di tanah Sulawesi:-
Kuskus beruang Sulawesi
-
Kuskus beruang talaud
-
Kuskus tembung