Menularkan Spirit Hidup Hijau Versi penuh
Sastra Hijau

Kopi Hilang di Meja Warkop

Sungai itu Mengalir ke Mata   sungai balantieng mengalir hingga ke matamu. bawa batu-batu, pasir, dan akar kayu, juga daun-daun tak mengering. di matamulah semua berakhir jadi masa lalu bu...

Oleh Irhyl R Makkatutu 04 Dec 2022 00:47 2 menit baca

Sungai itu Mengalir ke Mata

  sungai balantieng mengalir hingga ke matamu. bawa batu-batu, pasir, dan akar kayu, juga daun-daun tak mengering. di matamulah semua berakhir jadi masa lalu bukit-bukit tatapi donggia dengan pucat. bambu betung di pinggir jurang itu telah jadi dangau. tempat para petani menjaga jagung, kopi, sayuran, dan juga napasnya. orang-orang asing beraroma kini, di sabtu sore meraung-raungkan motornya. membawa tenda, karpet, dan buku agenda di kepalanya. mereka berbondong ke barat, ke donggia, ke sungai balantieng, menghanyutkan apa saja dalam kepalanya, juga isi perutnya. setelahnya mereka pulang, menuju laut—menikmati apa yang dihanyutkannya dengan rasa lapar dan haus kering Kindang, Desember 2022 [irp]

Sarabba di Meja Tamu

  segelas sarabba dan pisang goreng diletakkan kenangan di meja tamu meja yang bersepi-sepi setiap pagi sejak hujan kadang-kadang mulai tiba dengan pertanyaan-pertanyaan aku duduk menghadapi meja di ruang tamu itu bersepi-sepi sendiri hujan tiba dengan riang, menabuhkan diri di atap seng yang cokelat kehitaman tak ada tetangga akan bertamu bila hujan sejak obat flu banyak dijual di kakilima orang-orang mulai takut pada hujan hujan pagi selalu membawa segala perihal sungai yang meluap, kali yang tersumbat banjir yang merampas tulisan surat cinta para tetua pohon yang memisahkan diri dari akarnya dan, rindu yang meliar ke kepala segelas sarabba itu, kubuat semalam dari jahe yang mengendap-endap tumbuh di samping rumah di bawah pohon pisang yang buahnya menemaninya di atas meja tamu pagi ini pagi kini menghilangkan harapan dan mendatangkan kecemasan hujan tetiba menderas aku menarik selimut mendengar gemuruh di kali depan rumah aku menatap sepi di mata sendiri, cemas mencemaskan Kindang, Desember 2022 [irp]

Kopi Hilang di Meja Warkop

  bunga kopi berguguran sebelum tahu cara menjadi buah sejak musim lari dari prediksi para tetua kopi mulai lupa cara berbuah bagaimana di sebuah warkop di tengah kota sepasang kekasih berselfie ria pamerkan dua gelas kopi susu yang belum diaduk mereka menyelam ke mata masing-masing memetik kopi dalam pikirannya ketiadaan kemarau dan panjangnya rintik hujan meniadakan buah kopi lebah berdengung-dengung mengenaskan madu semakin mengering dalam sarangnya beburung penghisap nektar berkicau serak di reranting kopi mata meredup kopi akan segera menghilang dari meja tamu dari meja warkop, segera, bahkan sebelum kau sempat membaca puisi ini Kindang, Desember 2022 [irp]  
Topik terkait
#sastra hijau #kopi #puisi lingkungan #sastra ekologi #sastra lingkungan #sarabba #sungai balantieng