Kisah Maya Stolastika, Sarjana Sastra yang “Nyasar” ke Dunia Pertanian Organik

Klikhijau.com – Pertanian organik akhirnya jadi peraduan seorang Maya Stolastika. Boleh dibilang, ia benar-benar nyasar tiga ratus enam puluh derajat dari disiplin ilmunya, sastra inggris. Simak kisah...

Kisah Maya Stolastika, Sarjana Sastra yang “Nyasar” ke Dunia Pertanian Organik
Bacakan Artikel

Klikhijau.com – Pertanian organik akhirnya jadi peraduan seorang Maya Stolastika. Boleh dibilang, ia benar-benar nyasar tiga ratus enam puluh derajat dari disiplin ilmunya, sastra inggris. Simak kisah lengkap Maya, seorang petani muda asal Desa Mligi, Pacet, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur.

Saat memilih untuk kuliah di jurusan sastra Inggris, tak terbayang di benak Maya Stolastika, jika masa depannya justru ada di bidang pertanian. Terlebih, "tersasar"-nya Maya ke bisnis pertanian, justru bukan dimulai dari kesenangannya bertani, tetapi yoga.

Ceritanya, di tahun 2007, tepatnya di bulan Agustus, saat itu Maya dan beberapa kawannya, mengikuti kegiatan di Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Yoga. Nah, dari ikut kegiatan yoga ini, Maya dan kawan-kawannya sempat berkunjung ke Bali, untuk belajar yoga.

Nah, saat belajar yoga inilah, Maya dan kawan-kawannya mendapatkan pertanyaan yang 'mencerahkan'.

"Kami ditanya, apakah kehadiran mu di dunia ini sudah memberikan dampak positif, manfaat bagi orang lain, atau justru memberikan beban? Rasanya tertampar jiwa ini, di dunia ini saya mau ngapain?" ujar Maya.

Memilih pertanian organik

Maka, setelah itu, Maya bersama kawan-kawan pun mulai berpikir melakukan kegiatan agar hidup mereka di dunia menjadi berguna bagi sesama. Pilihan pun jatuh pada pertanian, khususnya pertanian organik.

"Kami mengenal filosofi pertanian organik, tidak hanya bicara tentang hasil bercocok tanam, tetapi juga proses budidaya bisa memberikan kebaikan sebesar-besarnya pada lingkungan," jelas Maya.

Tahun 2008, dengan modal hasil berjualan pulsa telepon seluler, Maya bersama empat kawannya, termasuk Herwita, memulai perjalanan mereka sebagai petani organik.

Perempuan yang kini menjabat sebagai Sekjen Aliansi Organis Indonesia (AOI) ini memulai usaha pertanian organik di lahan seluas 5000 meter persegi, dengan modal pengetahuan nol sama sekali.

"Saat 2008 kami punya kebun semua proses benar-benar dimudahkan Tuhan. Background sastra Inggris tidak mengenal dunia pertanian, apalagi organik, kami mulai bercocok tanam dengan tidak mengerti mau diapakan kebun ini," kata Maya.

Baca Selanjutnya
Pilih Halaman:
  • 1
  • 2