Kisah Inspiratif dari Sekolah Sawah di Gunung Merapi

Klikhijau.com - Jawa Tengah adalah provinsi yang dikelilingi oleh beberapa gunung api yang masih aktif, salah satunya Gunung Merapi yang terkenal dengan Wedhus Gembelnya. Siapa sangka, beberapa ora...

Kisah Inspiratif dari Sekolah Sawah di Gunung Merapi
Bacakan Artikel

Bahkan hingga saat ini sudah banyak anak-anak SD, SMP, SMA, Guru, bahkan Romo (pastur) dari berbagai daerah sudah mengikuti kegiatan sekolah sawah di lereng merapi yang dikemas dengan Live In.

Kegiatan terbaru terkait dengan sekolah sawah lereng merapi dapat kita ikuti melalui akun instagram mereka @tukmancur.

Pembukaan pelajaran sekolah sawah dimulai oleh FX Riyadi, guru di sekolah itu. Dia menjelaskan tentang berbagai jenis sayuran, seperti caisim, loncang (daun bawang), cabai, selada yang ditanam di teritis sekolah menggunakan beberapa batang pot bambu dan puluhan polybag.

Sekarang sekolah sawah sudah memiliki lahan untuk belajar sendiri yaitu terletak di Dusun Gemer, Desa Ngargomulyo, Dukun, Magelang.
Para siswa kelas III, IV, V, dan VI sekolah itu terlihat secara saksama memperhatikan penjelasan guru.

Selain menyangkut usia pertumbuhan, juga mengenai saat yang tepat menanam dan berbagai hama serta penyakit yang sering menyerang komoditas hortikultura tersebut beserta cara mengatasinya.

Beberapa di antara mereka juga diminta guru kelas IV sekolah itu untuk menghitung jumlah biji sayuran yang bisa ditangkar menjadi bibit tanaman.

Pelajaran tersebut untuk mendekatkan anak-anak sejak dini dengan lingkungan alam dan pertanian di kawasan Gunung Merapi. Apalagi sebagian besar masyarakat setempat hidup dari pengelolaan pertanian, terutama aneka hortikultura.

Tim Edukasi Tuk Mancur

Pengajar di sekolah sawah adalah tim yang terdiri dari masyarakat setempat yang disebut dengan tim edukasi Tuk Mancur.

Tim Edukasi Tuk Mancur kali ini memberikan bantuan berupa bakteri pengurai bahan-bahan untuk praktik pembuatan kompos dalam muatan lokal pelajaran sekolah sawah yang dijalani para siswa.

"Pelajaran pertanian ora ono pedhote, donya pertanian niku ora umum (tidak berkesudahan, dunia pertanian itu luas). Segudang," kata Sibang, panggilan akrab Parno, guru lainnya di sekolah sawah.

Parno yang juga Ketua Kelompok Tani Sedulur Merapi Dusun Gemer, Desa Ngargomulyo, itu menjadi pengampu utama muatan lokal sekolah sawah di sekolah tersebut, tanpa bayaran.

Seraya berseloroh, ia menyatakan tidak akan mengajarkan anak-anak tentang bagaimana mencari kayu bakar atau menambang pasir Gunung Merapi.

Dia mengatakan, kalau cuma cari kayu bakar, terlalu gampang dan setiap anak langsung bisa. Pergi ke hutan, kumpulkan kayu dan ranting kering, selesai.

Kalau menambang pasir, merusak lingkungan, tidak sesuai dengan yel-yel mereka, 'Semangat budaya punya harga diri'," katanya.

Dalam berbagai agenda kebudayaan pertanian yang dijalani anak-anak kawasan Gunung Merapi selama ini, mereka sering mengumandangkan yel-yel Anak Merapi, semangat budaya punya harga diri.

Muatan lokal sekolah sawah diselenggarakan melalui pembicaraan antara sekolah, orang tua murid, dan Tim Edukasi Tuk Mancur.

Alasannya, di sana merupakan areal pertanian yang subur karena Gunung Merapi. Budaya masyarakat adalah pertanian. Kelak anak-anak itu yang akan meneruskan menggarap pertanian.

Pilih Halaman:
  • 1
  • 2