Kisah Bunga Dahlia dari Beranda Rumah Puang Roncing

Klikhijau.com – Dari beranda rumah Puang Roncing, saya menatap ke halaman sambil menyeruput kopi hitam tanpa gula. Di halaman rumahnya tumbuh bunga yang eksotis, daunnya hijau dan bunganya berwarna...

Kisah Bunga Dahlia dari Beranda Rumah Puang Roncing
Bacakan Artikel
Irhyl R  Makkatutu

Aktif menulis dan menyukai kopi di tengah kesibukannya mengaktivasi Taman Baca Masyarakat "tandabaca"

Klikhijau.com – Dari beranda rumah Puang Roncing, saya menatap ke halaman sambil menyeruput kopi hitam tanpa gula.

Di halaman rumahnya tumbuh bunga yang eksotis, daunnya hijau dan bunganya berwarna merah jambu. Saya tak tahu itu jenis bunga apa. Bunganya yang mekar hanya satu, beberapa sedang menguncup.

"Bunga apa injo sabbu’na (itu bunga apa namanya?)” tanya saya kepada Puang Roncing sambil menunjuk ke bunga yang tumbuh di halaman rumahnya.

Puang Roncing melihat ke halaman sambil  mengisap rokok tembakau yang dilinting sendiri. Saya memperhatikannya, umurnya telah senja, pendengarannya mulai kurang bagus.  Tapi, ia masih terlihat bersemangat mengisap rokoknya.

Puang Roncing, memang merupakan perokok aktif. Ia boleh dibilang termasuk perempuan yang “langka” karena merokok. Rokoknya pun tak sembarangan, hanya rokok tembakau alami yang dilinting sendiri.

Puang Roncing merupakan warga Desa Kahayya, Bulukumba, rumah panggungnya berdiri kokoh  di dekat  danau Lurayya, Kahayya.

"Tanre kuissei (saya tidak tahu),” jawabnya. “Lohemo ngallei injo anakna  (sudah banyak yang ambil anaknya)” tambahnya.

“Gammara mentio bungana  (bunganya memang bagus),” puji saya.

"Ngallemako punna a'rako (silakan ambil jika mau).”

Setelah kopi saya menyisa ampas. Saya pamit, menuruni tangga lalu berjalan ke arah bunga tersebut bersama ayah dan ibu.

Baca Selanjutnya
Pilih Halaman:
  • 1
  • 2