Kisah Baco, Paruh Baya Pejuang Sampah di Pesisir Pantama Kajang

Klikhijau.com - Baco, sapaan akrab pria paruh baya yang bermukim di pesisir Dusun Lombok, Desa Pantama, Kecamatan Kajang. Kesehariannya adalah mengumpulkan sampah plastik yang hanyut terbawa ombak saa...

Kisah Baco, Paruh Baya Pejuang Sampah di Pesisir Pantama Kajang
Bacakan Artikel
Anjar S. Masiga

Pegiat Lingkungan. Ia Aktif di Komunitas Kolaborasi Biru

Perilaku membuang sampah sembarang tempat, dengan proses panjang, umumnya mereka akan berakhir di laut. Tindakan kejahatan lingkungan harusnya tidak dapat ditoleransi.

Kejahatan lingkungan dilakukan dengan sangat sederhana dan sepele seperti dengan abai terhadap urusan sampah masing-masing. Padahal menyelamatkan lingkungan adalah tugas bersama, termasuk menyelamatkan laut kita dari pencemaran. Laut sebagai tempat manusia bergantung dan mencari sumber protein.

Semakin banyak yang peduli lingkungan, semakin ramah bumi ini bagi mahluknya. Langkah-langkah yang dapat dilakukan selain seperti yang dilakukan Baco dalam kesehariannya, kita dapat memulai dengan mengurangi produksi sampah plastik misalnya membiasakan diri membawa tumbler atau botol air minum untuk isi ulang, membawa kantong belanjaan yang dapat dipakai kembali, mengganti sedotan plastik dengan stainless steel.

Upaya penyemalaman lingkungan bersama

Selain aksi pungut sampah yang dilakukan Baco, menjelang akhir Juli lalu kolaborasi pemuda memperkuat sabuk hijau di pesisir pantama.

Lokasinya disekitar tempat Baco biasa mengumpulkan plastik. Upaya penyelamatan lingkungan itu digelar serentak di 10 kabupaten di SulSel dalam rangka Jambore Mangrove yang dilaksanakan WWF (World Wide Fund for Nature) di Hari Mangrove Sedunia.

Di Bulukumba kegiatan digerakkan Organisasi Mapaska (Mahasiswa Pemerhati Alam dan Seni Budaya) Kajang. Sebanyak 50 an volunteer dari berbagai komunitas turut mengambil peran dalam aksi cinta lingkungan yang bertema “Kolaborasi Menjaga Kelestarian Mangrove Sebagai Benteng Pesisir Sulsel”.

Sejumlah komunitas yang terlibat di antaranya Karang Taruna Pammulai, Sabtu Keren, Gonrongers, Lintas Pelosok Ilmu, Lakpesdam PCNU Bulukumba, KMBPL, Gudang Alam, Lingkar Pemuda Kreatif, KKMB Unibos, Karang Taruna Buwung Pitue, Karang Taruna LPB, Geografi UNM, KKN Gelombang 106 Unhas, FDC Unhas, PMR Unit 209 SMAN 5 Bulukumba, Duta Wisata, Karang Taruna Bawakaraeng Kindang, IAP Pasca UNM, PJKR UNM, IKOM UMI, Kerukunan Pemuda Bonto Puang, Komunitas Fotography Bulukumba, Sirumpun, Komunitas Anak Lereng, dan lainnya. Kegiatan sendiri dibuka oleh Kepala Desa Pantama, Syarifuddin.

Bagi Syarifuddin, momen tersebut menjadi ajang edukasi bagi pemerintah desa kepada masyarakat pesisir untuk melihat nilai positif dari mangrove itu sendiri. Selain baik untuk lingkungan juga bisa dimanfaatkan untuk peningkatan nilai ekonomi dan pangan.

"Di Kajang ada mangrove tertentu yang buahnya bisa kita makan, itu dicampur dengan lawara," jelasnya.

Harapan lainnya dari penaman mangrove, bisa menjadi investasi pariwisata. Empat atau lima tahun ke depan bisa dikelola menjadi wisata mangrove. Itu sebabnya, lokasi penanaman tidak jauh dari spot rintisan wisata desa, di Pantai Lombok.

"Pantama juga merupakan desa yang memiliki pesisir terluas di Kajang," klaimnya.

Pilih Halaman:
  • 1
  • 2