Ketika Museum Bermetamorfosis sebagai Solusi Mengatasi Sampah

Klikhijau.com – Museum, mendengar namanya di imajinasi kita terpampang sederet barang berharga. Barang yang harus dilndungi dengan segenap jiwa dari pencuri dan kerusakan. Barang-barang yang dimasu...

Ketika Museum Bermetamorfosis sebagai Solusi Mengatasi Sampah
Bacakan Artikel

German Khilchenko yang menjabat Direktur museum tersebut meyakini sangat penting untuk membantu warga  agar  tidak banyak menghasilkan sampah.

Menurutnya, ketika pengunjung masuk ke museum dan berjalan melalui eksibisi. Mereka akan merasa  seperti melewati labirin—berjalan-jalan dan akhirnya keluar ke masa depan ramah lingkungan yang baru nan cerah.

“Ini dapat dikaitkan dengan sampah sebagai sumber daur ulang.  Karena dengan memasukkan sampah ke sirkulasi ekonomi, kita dapat mengurangi jumlah sampah yang dikirim ke TPA.  Semakin sedikit sampah yang tertampung di TPA, tentu akan semakin sedikit pula kerusakan yang disebabkan sampah tersebut terhadap lingkungan,” terangnya.

Di museum sampah tersebut, pengunjung dapat melihat tata cara menyelesaikan masalah TPA dengan bantuan reklamasi. Kreator museum itu menawarkan konsep yang bisa dibangun di lokasi bekas TPA, semisal resor ski atau lapangan golf.

"Secara keseluruhan misi proyek kami merupakan satu hal sederhana. Sampah bukanlah sekadar sampah, tetapi sampah merupakan sumber daya dan bahan baku untuk membuat produk-produk yang lebih berguna,” terangnya.

Perusahaan Synergy+ memiliki  mimpi memopulerkan pendauran ulang dan cara pemilahan sampah. Tak hanya menyasar individu, tetapi juga akan menyasar  pabrik dan perusahaan.

Harus lebih banyak lagi

Seorang pengunjung bernama Sergei Bochin mengatakan, dirinya  merasa hal itu sangat baik dan positif.

“Museum seperti ini harus lebih banyak lagi yang dibuka.  Ini bahkan dapat dibuat pada tingkat pemerintah, bukan hanya oleh sektor swasta atau investor swasta saja,” katanya menyarankan.

Di museum itu terdapat sebuah aula untuk memamerkan teknologi pengelolaan sampah. Namun, tak berhenti pada teknologinya saja,  karena pengunjung juga dapat belajar mengenai sejarah sampah, misalny gua sampah yang ditinggalkan seorang lelaki primitif.

Pengunjung lain bernaman Svetlana Krasova mengungkapkan, jika pada awalnya dirinya merasa berada di era Uni Soviet.

“Ini seperti mengingatkan pada masa kanak-kanak kita. Dan kita menyadari bahwa pada pada masa lalu kita sangat peduli terhadap planet kita. Namun,  sekarang sangat disayang, karena semua ini terlupakan dan ketika kita datang ke museum ini, di mana TPA berada, kita terasa semakin menyedihkan.  Kita akan mulai bertanya-tanya kontribusi apa yang bisa kita berikan untuk lingkungan,” ujarnya.

Sepertinya Indonesia harus menyontek Rusia dalam hal pengelolaan sampah, yang sampai dibuatkan muesum.

Namun, pertanyaannya apakah akan ada pengunjungnya, mengingat museum yang memajang sejarah bangsa ini saja kekurangan pengunjung? hmmm

Sumber: voaindonesia

Pilih Halaman:
  • 1
  • 2