Ketika Abrasi Merampas “Rumah Terakhir” Warga Takalar
Klikhijau.com – Ombak yang tiba menerpa pantai bagi sebagian orang adalah nyanyian merdu. Namun, bagi Warga Desa Sampulungan, Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan (Sulsel) adalah kerusahan dan petaka....
Klikhijau.com – Ombak yang tiba menerpa pantai bagi sebagian orang adalah nyanyian merdu. Namun, bagi Warga Desa Sampulungan, Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan (Sulsel) adalah kerusahan dan petaka.
Ombak yang datang menerpa pantai di desa itu mengakibatkan abrasi. Abrasi adalah proses pengikisan pantai oleh tenaga gelombang laut dan arus laut yang bersifat merusak.
Tersiar kabar di berbagai media, kerusakan akibat abrasi di Desa Sampulungan, Takalar tak hanya mengikis pantai, tapi juga merusak tempat pemakaman umum (TPU). TPU yang rusak tersebut memang berada di kawasan pesisir
Kerusakan TPU tersebut tentu menyebabkan keresakan yang berlipat bagi warga. Apalagi tersiar kabar pula jika kain kafan mulai kelihatan dan tulang belulang manusia “berserakan” di sana.
[irp]
Sekretaris Desa Sampulungan, Kaswandi mengatakan, terdapat dua rumah warga yang ambruk, satu rusak dan TPU terkikis. Kondisinya sudah sangat memprihatinkan, bahkan ada warga yang sampai melihat ada kain kafan serta tulang belulang di sana.
"Sekarang masyarakat bergotong royong membuat tanggul untuk penahan sementara, walau dengan bahan seadanya yang jelas ada usaha dulu," kata Kaswandi 15 Januari 2020 lalu.
Kaswandi juga mengungkapkan jika Sepekan terakhir ini, abrasi sudah mencapai lima meter dari bibir pantai. Jika terus menerus tergerus, dampak abrasi itu dipastikan akan masuk sepenuhnya ke kawasan pemukiman warga.
Rustan Muang yang menjabat sebagai Plt Kepala Desa (Kades) Sampulungan, Takalar mengungkapkan, ada beberapa titik di Dusun Sampulungan Caddi merupakan wilayah pekuburan. Ia membenarkan jika ada kain kafan kelihatan di pekuburan tersebut.
"Tapi yang kemarin 2018 itu banyak tulang-belulang berserahkan. Sekarang tidak ji, cuma kain kafan yang kelihatan. Tapi memang ada pekuburan di situ," kata Rustan, Rabu, 15 Januari 2020 lalu.
Abarasi atau erosi pantai yang melanda tersebut telah berlangsung selama kurun waktu dua tahun terakhir. Tepatnya sejak 2018 lalu dan kian memprihatinkan. Sebab, warga mulai mengalami kerugian materiil.
[irp]