Kenalkan, Ini 8 Orang Penerima <em>Conservation Award </em>2019 dari BBKSDA Sulsel

[hijau]Mereka mencintai alam demi napas yang lebih panjang[/hijau] Klikhijau.com - Kursi telah berjejer di taman depan Museum La Galigo ketika saya datang. Kursi-kursi itu menghadap ke sebuah spand...

Kenalkan, Ini 8 Orang Penerima <em>Conservation Award </em>2019 dari BBKSDA Sulsel
Bacakan Artikel
Irhyl R  Makkatutu

Aktif menulis dan menyukai kopi di tengah kesibukannya mengaktivasi Taman Baca Masyarakat "tandabaca"

Irhyl R  Makkatutu

Artikel terbaru dari Irhyl R Makkatutu (lihat semua)

[hijau]Mereka mencintai alam demi napas yang lebih panjang[/hijau]

Klikhijau.com - Kursi telah berjejer di taman depan Museum La Galigo ketika saya datang. Kursi-kursi itu menghadap ke sebuah spanduk berwarna jingga.

Pada spanduk itu, tertulis rangkaian kegiatan yang telah dan akan dilaksanakan Balai Besar Konservsi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Sulsel dalam rangka Hari Konservasi Alam Nasional 2019.

Salah satu rangkaian acaranya adalah pemberian penghargaan konservasi atau Conservation Award 2019 kepada delapan orang yang dianggap telah berjasa melakukan konservasi alam.

Kedelapan orang itu adalah para pejuang konservasi yang mengorbnkan waktu, tenaga, bahkan hidupnya untuk melestarikan alam.

Menariknya latar belakang kedelapan penerima itu berbeda. Berikut sekilas tentang mereka:



  • Timous (Bapak Daud)



Usianya telah 84 Tahun. Nama lengkapnya Timotius. Ia kelahiran Mamasa, lebih dikenal masyarakat sekitarnya dengan Bapak Daud yang artinya bapaknya Daud. Beliau tinggal dan dibesarkan di Mamasa.

Bidang keahliannya adalah medis bekerja sebagai mantri sejak jaman penjajahan serta pernah menjabat sebagai Lurah dan Kepala Desa di Taupe, Mamasa.

Sebagai tokoh masyarakat yang dituakan (dihormati) di tempatnya, Bapak Daud mengajak masyarakat ikut menanam pohon di sekitar Kawasan TN Gandang Dewata.

Alasannya, karena hasilnya dapat digunakan sebagai bahan bangunan juga untuk memenuhi kebutuhan bahan bakar kayu yang paling banyak digunakan oleh masyarakat.

Dia pernah hilang selama 1 bulan di gunung dan kembali dengan selamat, tidak ada yang lebih mengenal seluk beluk Gunung Gandang Dewata selain Bapak Daud.



  • Saparuddin Daeng Talli



Nama lengkapnya Saparuddin Daeng Talli atau Daeng Talli. Dia lahir 31 Desember 1973 di Desa Barugaya, Takalar.

Baca Selanjutnya
Pilih Halaman:
  • 1
  • 2