Green Life Style Versi penuh
Sastra Hijau

Kemarau Ingatan

Kemarau Ingatan   lampu kamar padam lebih awal semalam. kantuk tiba bacai semua pikiran. ruang tamu menanti datangmu bawa bunga-bunga. “air telah kering di mataku,” katamu “dirampas kem...

Oleh Irhyl 22 Oct 2023 04:15 2 menit baca

Kemarau Ingatan

  lampu kamar padam lebih awal semalam. kantuk tiba bacai semua pikiran. ruang tamu menanti datangmu bawa bunga-bunga. “air telah kering di mataku,” katamu “dirampas kemarau dan sedih,” lanjutmu semalam kau lupa menagih kecupan aku biarkan gelap asingkan ingatan. kita lupa saling mengunjungi. kau jauh dan ada di mana-mana. dipikiranku pun kau huruf merangkai dirinya sendiri jadi deburan ombak dan aku kemarau berkepanjangan dalam ingatanmu [irp]

Pohon Ranggas dalam Tubuh

  aku menulis ini tepat 17 menit setelah bangun di subuh buta aku duduk di kursi kayu buatan ayah kayu yang di tebang di dalam hutan sewaktu muda merenung aku cukup lama. di luar pekat dan cahaya berkejaran cericit burung-burung telah lama tiada sejak hutan-hutan berubah taman bunga sebenarnya mengisahkan pohon beringin di ujung kampung pohon mistis yang penuh ikatan tali rafia itu tempat menitip doa-doa tapi semalam, angin datang menebangnya dengan paksa setelah senja lindap itu, kau tak lagi berwajah hujan kau antar kemarau di ingatan kau pergi jauh, di mana sungai mengalir tak henti padahal, aku tahu tak ada sungai di kemarau [irp] aku berdiri mematung, kau melangkah, pohon-pohon dalam tubuhku meranggas pada tiadamu kucari sendiri senyum di puntung-puntung rokok di mana saja, bahkan ke dalam kepala kukumpulkan puntung rokok, merangkai namamu aku bayangkan matamu yang hijau daun di seberang jalan, reranting pohon melambai daunnya bergugur, selembar daunnya jatuh tepat di sisi kananku aku memungutnya lalu membayang, aku jadi daun diterbangkan angin menuju gunung dari gunung, aku ingin ke laut menangkap ikan teri dan kumpulkan gelas plastik di mana bekas bibirmu berumah ingin kuusaikan menulis namamu, tepat di menit ke 25 setelah kumulai sekarang tersisi lima menit, barangkali aku malas menghitung waktu sebenarnya, aku lebih suka menghitung berapa kali kau berkedip dalam semenit subuh mulai menjauh. burung-burung kehilangan cericit aku tak usaikan namamu, yang dirangkai dari puntung rokok puntung rokok itu di terbangkan angin menuju entah, barangkali pada kepalamu [irp]

Memanen Hujan dari Mata

  ada pohon tumbang di tepi jalan menuju rumahmu aku urung bertamu meski di sakuku, telah kulipat rindu berwarna bunga mawar aku memilih pulang memanen hujan dari mataku saat kemarau begini kubayangkan marahmu tumpah pada segelas kopi pahitnya akan sampai ke langit lalu menjadi lumut-lumut yang tak lagi disinggahi hujan. ………gersang yang rapuh….. aku tetiba saja ingin jadi mikroplastik menelusup ke dalam air darahmu jadi denyut, jadi abadi menyakiti seluruh tubuh dan pikiranmu [irp]
Topik terkait
#puisi lingkungan #kemarau #ingatan #sastra dan ekologi