Kemajuan yang Mengancam, Menggugat Pangan Modern Demi Menyelamatkan Masa Depan Anak

Klikhijau.com – Kemajuan peradaban yang menjanjikan kemudahan hidup, generasi masa depan Indonesia justru terjebak dalam kelimpahan pangan yang mematikan, di mana semakin modern cara kita mengolah mak...

Kemajuan yang Mengancam, Menggugat Pangan Modern Demi Menyelamatkan Masa Depan Anak
Bacakan Artikel

Selain itu, berbagai pakar lintas sektor juga memberikan perspektif yang komprehensif untuk perbaikan sistem pangan untuk anak dan remaja pada diskusi panel yang terdiri dari Dian Lenggogeni (Direktur Kesehatan dan Gizi Masyarakat Bappenas), Siti Nadia Tarmizi (Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular, Kementerian Kesehatan), Dina Kania (Pejabat Profesional Nasional untuk Kebijakan dan Legislasi WHO Indonesia), David Colozza (UNICEF Indonesia), Ibnu Budiman (Global Alliance for Improved Nutrition), dan Supra Wimbarti (Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia). Diskusi panel dimoderatori oleh Yodi Mahendradata, anggota KIK AIPI yang juga Dekan FKKMK UGM.

Butir-butir Penting dan Agenda Kebijakan:


  • Implementasi PP No. 28/2024 tentang Peraturan Pelaksanaan Undang-Undang Kesehatan: Indonesia memiliki peluang besar melalui regulasi ini untuk memperkuat kebijakan pelabelan gizi pada bagian depan kemasan (front-of-pack labelling) serta pengendalian konsumsi gula, garam, dan lemak (GGL) secara sistematis.

  • Perlindungan Anak dari Pemasaran Agresif: Webinar ini menyoroti urgensi melindungi anak dari paparan pemasaran pangan yang kompleks, terutama di ruang digital dan lingkungan sekolah.

  • Kebijakan Fiskal dan Cukai: Selain wacana cukai minuman berpemanis (MBDK), para pakar mendorong kebijakan fiskal untuk meningkatkan keterjangkauan pangan sehat.

  • Promosi Isi Piringku dan Makanan Asli: Mendorong konsumsi makanan asli (real food) berbasis bahan lokal yang segar, sejalan dengan panduan nasional dan kerangka global Planetary Health Diet.


Pada kesempatan Seminar Internasional Hibrida ini, Rina Agustina, anggota KIK AIPI yang juga Komisaris EAT-Lancet, menyatakan bahwa kualitas diet anak kini tidak lagi hanya dinilai dari kandungan gizinya, tetapi juga dari tingkat pengolahannya.

Rina menekankan bahwa pengetahuan saja tidak cukup karena anak-anak hidup dalam lingkungan yang lebih mendukung akses terhadap UPF dibandingkan dengan pilihan sehat. Karena itu, kebijakan harus mampu membedakan jenis pemrosesan makanan dan memprioritaskan keterjangkauan pangan bergizi.

Sebagai tindak lanjut, webinar ini akan menghasilkan policy brief yang merangkum bukti ilmiah serta rekomendasi kebijakan untuk Indonesia. Akan disusun pula rencana aksi jangka pendek, menengah, hingga panjang untuk memperkuat kebijakan pangan dan meningkatkan kualitas diet anak di Indonesia.

“Jika kita mampu menciptakan lingkungan pangan yang lebih sehat—di mana makanan bergizi mudah diakses dan terjangkau—anak-anak akan tumbuh dan berkembang secara optimal,” ujuar Herawati Sudoyo, Ketua KIK AIPI, menyampaikan kata penutup acara. Herawi menegaskan bahwa menciptakan lingkungan pangan sehat adalah langkah nyata untuk melindungi masa depan generasi Indonesia.

 

 

 

 

Pilih Halaman:
  • 1
  • 2