Kemajuan yang Mengancam, Menggugat Pangan Modern Demi Menyelamatkan Masa Depan Anak

Klikhijau.com – Kemajuan peradaban yang menjanjikan kemudahan hidup, generasi masa depan Indonesia justru terjebak dalam kelimpahan pangan yang mematikan, di mana semakin modern cara kita mengolah mak...

Kemajuan yang Mengancam, Menggugat Pangan Modern Demi Menyelamatkan Masa Depan Anak
Bacakan Artikel

Klikhijau.com – Kemajuan peradaban yang menjanjikan kemudahan hidup, generasi masa depan Indonesia justru terjebak dalam kelimpahan pangan yang mematikan, di mana semakin modern cara kita mengolah makanan, semakin purba kualitas kesehatan yang dihasilkan.

Dalam webinar internasional yang diselenggarakan oleh Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI) bersama para pakar global pada 23 April 2026, terungkap kenyataan pahit bahwa produk pangan ultra-proses yang diciptakan untuk memuaskan kebutuhan manusia justru menjadi ancaman utama yang melaparkan sel tubuh anak-anak dari nutrisi esensial.

Melalui seruan pembatasan makanan ultra-olahan dan penguatan regulasi seperti PP No. 28/2024, para ilmuwan menegaskan bahwa di dunia yang kian canggih ini, cara terbaik untuk maju melindungi kesehatan nasional adalah dengan kembali ke meja makan yang menyajikan kesederhanaan bahan alami.

Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI) melalui Komisi Ilmu Kedokteran (KIK), bekerja sama dengan EAT Foundation, FKUI, FK-KMK UGM, GAIN, dan FOLU Indonesia, menyelenggarakan webinar internasional bertajuk “Eat Real Food and Minimally Processed Diets for Child and Youth Health: Scientific Evidence on Ultra-Processed Foods, Dietary Guideline Alignment, Policy Gaps, and Global Responses”. Kamis, 23 April

Pertemuan strategis ini mempertemukan ilmuwan dunia, pembuat kebijakan, dan lembaga internasional untuk membahas bukti ilmiah serta aksi kebijakan yang dibutuhkan guna melindungi anak-anak dari ancaman produk pangan ultra proses (Ultra-Processed Foods/UPF).

Transformasi sistem pangan global dalam beberapa dekade terakhir telah meningkatkan ketersediaan dan pemasaran produk UPF yang tinggi gula, garam, dan lemak jahat, namun rendah nutrisi esensial. Konsumsi tinggi UPF terbukti secara ilmiah berkaitan erat dengan risiko obesitas pada anak, kekurangan mikronutrien, gangguan metabolik, hingga penyakit tidak menular (PTM) pada usia dini.

Daniel Murdiyarso, Ketua AIPI, menegaskan bahwa perubahan sistem pangan global telah mengubah pola konsumsi masyarakat secara signifikan.

“Lingkungan pangan global telah berubah dengan cepat. Makanan ultra-olahan kini semakin mudah tersedia, terjangkau, dan dipasarkan secara luas, termasuk kepada anak-anak. Kondisi ini menjadi tantangan besar bagi kesehatan masyarakat,” ujarnya.

Wakil Menteri Kesehatan, Dante Saksono Harbuwono dan Deputi Bappenas, Pungkas Bahjuri Ali menegaskan dukungan Pemerintah dalam melakukan transformasi kebijakan sistem pangan untuk peningkatan kesehatan masyarakat itu, membutuhkan kolaborasi bareng berbagai pihak untuk penyusunan kebijakan berbasis bukti ilmiah.

Acara ini menghadirkan pembicara kunci internasional, termasuk Neha Khandpur dari Wageningen University dan Juan Rivera Dommarco dari National Institute of Public Health Meksiko sekaligus Komisioner EAT-Lancet, yang memaparkan data global mengenai beban malnutrisi dan pentingnya membatasi makanan yang diproses berlebihan.

Baca Selanjutnya
Pilih Halaman:
  • 1
  • 2