JURnal Celebes: Pembalakan Liar Masif Terjadi di Luwu Timur

Klikhijau.com - Sejak pandemi Covid-19, pembalakan kayu di hutan Towuti, Luwu Timur terjadi masif, terutama di kawasan Mahalona Raya. Sejak pertengahan 2020, bunyi mesin chainshaw masih kerap terdenga...

JURnal Celebes: Pembalakan Liar Masif Terjadi di Luwu Timur
Bacakan Artikel

Klikhijau.com - Sejak pandemi Covid-19, pembalakan kayu di hutan Towuti, Luwu Timur terjadi masif, terutama di kawasan Mahalona Raya. Sejak pertengahan 2020, bunyi mesin chainshaw masih kerap terdengar di kawasan ini. Di sepanjang jalan ke Mahalona atau di desa-desa di kawasan Mahalona.

Hal ini mengemuka dalam Jumpa Media dan Diskusi yang digelar JURnal Celebes di Makassar, Minggu 30 Januari 2021.

Direktur JURnal Celebes, Mustam Arif menegaskan bahwa situasi pandemi justru dimanfaatkan aktor-aktor pembalak kayu melancarkan aksinya, termasuk di Luwu Timur.

Truk-truk mengangkut kayu bermuatan kayu log mondar-mandir setiap hari maupun terparkir di halaman rumah penduduk dengan muatan kayu log.

Bila menelusuri jalan dari Wawondula, ibukota Kecamatan Towuti ke kawasan Mahalona, akan menjumpai truk bermuatan kayu bulat atau kayu setengah jadi terseok-seok beban muatan.

Di jalan antar desa di Kawasan Mahalona, hampir setiap hari juga menjumpai warga yang membawa chainshaw.

Kondisi ini sudah lama terjadi di kawasan Mahalona. Tetapi, Ardi, warga setempat, aktivitas angkutan kayu log meningkat di sejak pandemi Covid-19. Penebangan kayu di hutan-hutan sekitar Mahalona makin meningkat dan masif.

Ini makin memperparah kondisi hutan Mahalona yang selama ini memang terjadi deforestasi (berkurangnya tutupan hutan) yang luar biasa. Selain ekspansi perkebunan dan pemukiman, deforestasi cukup parah di Kecamatan Towuti, juga akibat masifnya masyarakat membabat hutan untuk menam merica (lada).

Komodi ini sejak beberapa tahun terakhir, harganya mahal meski fluktuatif. masyarakat di Luwu Timur sangat antusias menanam merica.

Salah seorang warga Mahalona kepada pemantau independen menyatakan prihatin karena hutan-hutan di kawasan dataran rendah yang subur itu sudah nyaris tidak ada lagi. Aktivitas pengambilan kayu, menurut sumber tersebut, dilakukan oleh warga Mahalona sendiri dan juga dari luar.

Baca Selanjutnya
Pilih Halaman:
  • 1
  • 2