Menularkan Spirit Hidup Hijau Versi penuh
Sastra Hijau

Ikan Tak Menangis

Tak Perlu Khawatir Nasib Tetumbuhan   Deru knalpot dibunyikan sangat pagi dari rumah tetangga Di depan rumah sepohon mangga manalagi berbunga malas Bercakap tentang kemarau yang sebentar la...

Oleh Nona Reni 30 Jul 2023 06:48 2 menit baca

Tak Perlu Khawatir Nasib Tetumbuhan

  Deru knalpot dibunyikan sangat pagi dari rumah tetangga Di depan rumah sepohon mangga manalagi berbunga malas Bercakap tentang kemarau yang sebentar lagi datang Memanggang semua mimpi dan panen jagung Di lapangan yang malih rupa jadi ladang jagung Jagung berumur dua minggu saling berbisik dalam cemas Akan jadi apa mereka nanti? Setiap kali paruh ayam tetangga menyisakan mereka sehelai dua helai daun Yang mengantar rasa perih jadi air mata Tapi manusia tak patut khawatir dengan nasib tetumbuhan, kan? Seperti mata rantai makanan, berulang dan akan selalu seperti itu. Yang lemah dimangsa si kuat. Selalu Yang kuat dimangsa maut, jadi penyubur bagi yang lemah Tak usah kalut Entah pohon mangga berbuah sedikit atau tidak Di pasar kau bisa membeli berkilo-kilo buah yang kau senangi Tak usah kalut Jika kemarau bertandang dan sumur bor-mu kering lagi. Belajar saja berpuasa tak mandi, Dan berlulur daki Juli 2023 [irp]

Ikan Tak Menangis

  Seorang anak kecil berlarian dalam dapur sempit rumah bantuan pemerintah Lihai saja dia melihat ikan berenang dalam penggorengan Ikan kecil itu didapat kakaknya dari dalam sungai Sungai yang airnya berwarna kopi susu Anak kecil itu tak pernah suka makan ikan Tapi di dada pagi, ia selalu berharap kakaknya datang membawa sebaskom ikan Di tengah gigil ia akan belajar menghitung Satu, dua , sepuluh Lalai ia dengan bilangan lain yang belum dihafalnya Pagi setelah hujan besar Anak kecil itu berlarian di halaman Halamannya menjelma sungai Dan kakaknya belum lagi pulang dari sungai Anak kecil itu mulai menangis Tapi ikan tidak pernah ikut menangis. [irp]

Mangsa Kemarau

  Menulislah puisi saat kenyang Sebab lapar selalu menunda kata untuk menjadi apa-apa Jika sudah kenyang, perutmu terpenuhi hajatnya, kepalamu akan lebih ringan Otakmu akan lebih pintar bermain Menulislah puisi saat kenyang Meski tetangga kanan-kirimu sedang menangis memikirkan takdirnya hari esok Kemarau barangkali tak pandai memangsa harta bendamu Hanya memangsa tetumbuhan di halaman rumah, di kebun, dan di matamu Seperti kau, kemarau itu pun lapar Dimakan saja apa yang ada di depannya Ladang, sawah, empang tak bersisa Sepertimu yang tak berhenti menguyah Meski kau tahu pemilik ladang, sawah dan empang itu harus puasa ketika di dapurnya tak ada lagi apa-apa. Selain isak tangis dan lagu dangdut di perut. [irp]
Topik terkait
#puisi lingkungan #knalpot kendaraan #kemarau #puisi alam #ikan #sastra dan ekologi