Menularkan Spirit Hidup Hijau Versi penuh
Sastra Hijau

Ibu Nurhayati dan Hutan Adat di Ujung Kampung

Ibu Nurhayati dan Hutan Adat di Ujung Kampung   abu panas merapi telah sampai ke hatimu pikiranmu lakumu sulit diredam-padamkan meski hujan meski gelombang sirami dengan rindu bergelimp...

Oleh Irhyl 17 Jun 2023 23:01 2 menit baca

Ibu Nurhayati dan Hutan Adat di Ujung Kampung

  abu panas merapi telah sampai ke hatimu pikiranmu lakumu sulit diredam-padamkan meski hujan meski gelombang sirami dengan rindu bergelimpang abu di hatimu tetap menggumpal tak terkikis, tak ada sesal wajahmu riang, sakumu mendalam kau tak henti mendulam cerita terus berkejaran abu panas di hatimu terus merambat ikuti lakumu atau tepatnya memerintahmu hasilnya… hutan adat di ujung desa ikut pula kau babat dan ciptakan sekat-sekat “ini tuk sejahterakan warga,” katamu tapi jerit rakyat tak kau hirau mula-mula hanya air yang keruh lalu sawah kering, ladang-ladang tandus, kehidupan rapuh kemudian pohon-pohon meranggas, lepuh dan puncaknya, ah itu bukan puncak di tiap musim hujan, banjir menjenguk longsor lihai menari, menggeliak di kemarau, kering keropos warga kian meranggas kampung kita berlangganan bencana namun abu panas di hatimu tetap kau tabur, tak ada iba musim hujan kali ini, rumah Ibu Nurhayati, guru SMP kita yang selalu mengajarkan pentingnya hutan dilestarikan dan dipelihara tertimbun longsor sawah dan ladang warga pun disapu banjir namun abu panas di hatimu tak juga beku, tetap kau tabur kau tak juga puasa membabat hutan adat di ujung kampung membiarkan jerit-jetit warga kian nyaring Bulukumba, Februari 2011 [irp]

Kali Belakang Rumah

  aku ingin mengajakmu ke kali di belakang rumah agar kamu bisa bercermin, melihat wajahmu memerah-putih ketika kanak, aku sering bermain di kali itu airnya jernih, aku bisa lihat wajah luguku karenanya, kelak aku ingin mengajakmu tapi kemarin, ketika aku pulang dari rantau kudapati kali itu kering, wajahku juga hilang di dalamnya, aku risau kubayangkan kecewamu untungnya, aku urung mengajakmu ke kampungku kamu tahu penyebabnya apa? di hulu kali itu, pohon-pohon telah dimangsa oleh mereka yang ingin cicipi empat sehat lima sempurna namun tak pernah merasa cukup hingga pohon-pohon itu pun di santap, sangat lahap maaf sayang, kau tak lagi bisa melihat kenangan masa kecilku di kali belakang rumah jika berkunjung ke kampungku kali itu telah tiada untukku dan untukmu Bulukumba, 16 Februari 2011 [irp]
Topik terkait
#puisi lingkungan #hutan adat #sastra lingkungan #abu panas #panas