Hari Keanekaragaman Hayati, Klikhijau, Tandabaca dan MTs Kindang Hadirkan Solusi dari Tingkat Tapak

Klikhijau.com - Memperingati Hari Keanekaragaman Hayati Internasional (International Day for Biological Diversity), Tandabaca dan Klikhijau menggelar serangkaian kegiatan edukasi lingkungan yang berpu...

Hari Keanekaragaman Hayati, Klikhijau, Tandabaca dan MTs Kindang Hadirkan Solusi dari Tingkat Tapak
Bacakan Artikel

Di sela-sela pemaparannya, Anis juga secara terbuka menyatakan kegelisahannya yang mendalam terhadap maraknya aksi perburuan liar, khususnya oleh oknum-oknum yang gemar menembaki burung dengan senapan angin.

Dari Tandabaca ruang kolektif di tapak, ia menyerukan gerakan bersama untuk menjaga satwa liar dengan tidak mengganggu ruang hidup mereka.

Anis mengajak seluruh peserta, terutama generasi muda Madrasah, untuk menjadi agen perubahan yang aktif mengedukasi keluarga dan warga di lingkungan sekitar agar tidak lagi sembarangan menembaki burung demi kelestarian alam masa depan.

Laju Kepunahan Flora dan Fauna

Pesan dari kaki Gunung Lompobattang ini menjadi sangat relevan jika dikaitkan dengan fakta global hari ini. Berdasarkan laporan ilmiah komprehensif dari Intergovernmental Science-Policy Platform on Biodiversity and Ecosystem Services (IPBES), bumi sedang menghadapi krisis kepunahan massal gelombang keenam (Sixth Mass Extinction).

Data IPBES menunjukkan bahwa sekitar satu juta spesies flora dan fauna kini terancam punah dalam beberapa dekade ke depan, sebuah laju kepunahan yang terjadi puluhan hingga ratusan kali lebih cepat dibandingkan rata-rata latar belakang alami selama sepuluh juta tahun terakhir.

Lebih lanjut, Living Planet Report yang dirilis oleh World Wildlife Fund (WWF) mengungkapkan fakta mencengangkan bahwa populasi satwa liar global (mamalia, burung, amfibi, reptil, dan ikan) telah mengalami penurunan rata-rata hingga 69% sejak tahun 1970.

Hari Keanekaragaman Hayati Internasional tahun ini merupakan alarm keras bahwa hilangnya satu mata rantai ekosistem, termasuk burung dan rumput yang kerap dianggap remeh, dapat meruntuhkan sistem penyangga kehidupan (ecosystem services), memicu ketidakseimbangan iklim, serta mengancam ketahanan pangan dan ketersediaan air bersih bagi miliaran manusia.

Oleh karena itu, kampanye dan edukasi lingkungan mutlak harus melibatkan siswa dan generasi muda di tingkat tapak (lokal). Masyarakat di tingkat tapak, termasuk para pelajar di wilayah perdesaan dan penyangga hutan seperti Kindang, adalah garda terdepan yang berinteraksi langsung dengan ekosistem riil.

Secara sosioekologis, melibatkan generasi muda sejak dini bukan sekadar mentransfer teori dari buku teks, melainkan bentuk investasi jangka panjang untuk membangun ecological attachment atau kedekatan emosional dengan tanah kelahiran mereka.

Ketika anak muda di tingkat tapak memiliki literasi ekologi yang kuat dan berbasis data ilmiah, mereka akan tumbuh menjadi benteng pertahanan utama yang melindungi kelestarian alam dari ancaman eksploitasi, degradasi lahan, dan aktivitas perburuan liar.

Dukungan Artificial Intellegence untuk Pelestarian

Menariknya, di era digital ini, aktivitas menjaga dan mempelajari alam di tingkat tapak kini menjadi jauh lebih mudah dan interaktif berkat kehadiran teknologi kecerdasan buatan (AI).

Peserta Exploring Flora dibekali tips praktis untuk mengeksplorasi manfaat spesies tanaman menggunakan fitur digital seperti Google Lens dan Google Gemini. Melalui integrasi teknologi ini, proses belajar keanekaragaman hayati tidak lagi kaku, melainkan menjadi petualangan sains warga (citizen science) yang instan dan akurat.

Langkah pertama dimulai dengan memahami pemanfaatan Google Lens sebagai alat identifikasi visual. Saat siswa menemukan tanaman asing di hutan Kindang, mereka cukup membuka aplikasi Google Lens, mengarahkan kamera ponsel ke bagian daun, bunga, atau batang tanaman tersebut, dan mengambil foto.

Dalam hitungan detik, teknologi pengenalan gambar berbasis AI ini akan memindai database global untuk mencocokkan karakteristik morfologi tanaman tersebut, lalu menyuguhkan informasi nama ilmiah, famili, hingga asal-usul spesies tanaman tersebut.

Setelah nama ilmiah tanaman berhasil diidentifikasi oleh Google Lens, siswa dapat mengembangkannya lebih jauh menggunakan Google Gemini sebagai asisten riset pribadi. Dengan memasukkan nama tanaman tersebut ke dalam platform Google Gemini, siswa bisa mengajukan pertanyaan mendalam, seperti kandungan senyawa aktif di dalamnya, potensi pemanfaatannya sebagai obat herbal tradisional, perannya dalam rantai makanan lokal, hingga bagaimana tanaman tersebut berkontribusi terhadap konservasi air di tanah.

Kombinasi kedua fitur digital ini tidak hanya memangkas jarak antara sains laboratorium dan masyarakat awam, tetapi juga mengubah ponsel pintar di tangan generasi muda menjadi alat advokasi lingkungan yang kuat.

Dari Madrasah untuk Pelestarian

Keterlibatan aktif pengurus OSIM MTs.S Kindang dalam seluruh rangkaian acara ini menjadi penggerak penting dalam menyebarkan pesan konservasi di tingkat lokal.

Hari Keanekaragaman Hayati ini menjadi pemantik aksi nyata yang berkelanjutan. Dengan slogan Let’s Protect Nature, Preserve Biodiversity, Build a Better Future seluruh elemen yang terlibat diajak untuk berkomitmen pada tiga pilar utama gerakan, yakni mencintai alam (Love Nature), menghormati kehidupan (Respect Life), dan bertindak nyata demi masa depan (Act for the Future).

Kesadaran yang tumbuh dari komunitas lokal di Kindang dengan sokongan literasi digital ini diharapkan mampu menjadi bagian dari kontribusi global dalam menyembuhkan bumi yang tengah sakit.

Pilih Halaman:
  • 1
  • 2