Gerakan Masyarakat Sipil Peduli Banjir Medan Menyoal Daya Dukung Lingkungan di Sumatera Utara

Klikhijau.com – Koalisi masyarakat sipil peduli banjir Medan menyoal masalah lingkungan di balik banjir yang terjadi akhir-akhir ini. Koalisi ini terdiri dari sejumlah organisasi dan individu antara l...

Gerakan Masyarakat Sipil Peduli Banjir Medan Menyoal Daya Dukung Lingkungan di Sumatera Utara
Bacakan Artikel

Klikhijau.com – Koalisi masyarakat sipil peduli banjir Medan menyoal masalah lingkungan di balik banjir yang terjadi akhir-akhir ini. Koalisi ini terdiri dari sejumlah organisasi dan individu antara lain ARTICULA, FORMASSU, Yayasan Srikandi Lestari, YAPIDI, Akademisi Siti Khadijah Pulungan, dan Koalisi Perempuan Indonesia (KPI Sumut).

Koalisi mengungkapkan keresahannya terhadap kondisi kota Medan, Provinsi Sumatera Utara yang terendam air di beberapa titik bahkan hingga 5 meter. Air banjir sejak dinihari Jumat tanggal 4 Desember 2020 bertahan hingga Sabtu, 5 Desember 2020 dengan ketinggian  terpantau antara 30 cm hingga 60 cm.

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menginformasikan prakiraan dini cuaca pada 4 hingga 6 Desember 2020 wilayah Sumatera Utara merupakan salah satu wilayah yang berpotensi hujan lebat yang dapat disertai kilat atau petir dan angin kencang, sehingga menyebabkan Sungai Babura dan Sungai Deli meluap.

Empat kecamatan terdampak banjir yaitu Kecamatan Medan Johor, Kecamatan Medan Maimun, Kecamatan Medan Sunggal dan Medan Tuntungan.

Data Pusat Pengendalian Operasi per 06 Desember 2020, menyebutkan bahwa banjir yang terjadi di Medan mengakibatkan 5 orang meninggal dunia, 2 hilang dan 4.249 KK atau 12.783 jiwa terdampak.

[irp]

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Medan bersama tim gabungan telah mengevakuasi 181 jiwa, diantaranya anak-anak 67 jiwa dan lansia 26 jiwa. Sedangkan kerugian materiil sebanyak 1.493 unit rumah warga, 1 mesjid dan  69 hektar lahan terendam saat kejadian.

Banjir dan alih fungsi lahan

Direktur Eksekutif Yayasan Srikandi Lestari, Sumiati Surbakti menjelaskan bahwa deforestasi sudah hampir terjadi diseluruh wilayah Sumatera Utara. Bencana banjir yang terjadi di Kota Medan dan Deli Serdang bukan hanya karena curah hujan yang cukup tinggi namun karena sudah tidak ada lagi hutan penyanggah yang mampu menahan dan menyimpan air.

Alih fungsi lahan terjadi secara massif, baik sebagai hotel, tempat hiburan, penelantaran daerah aliran sungai, bahkan proyek strategis nasional Lau Simeme juga berperan dalam kerusakan ini.

Akibatnya banjir bandang, longsor terjadi dimana-mana. Siapa yang terkena imbasnya? Tentunya rakyat kecil dan rentan yang paling menderita dan menerima dampaknya.

Sementara penguasaan dan eksploitasi tanah dan hutan dilakukan oleh para pemilik modal bahkan penguasa negeri ini. Perempuan dan anak adalah kelompok yang paling rentan dan paling terdampak akibat musibah ini.

Baca Selanjutnya
Pilih Halaman:
  • 1
  • 2