Menularkan Spirit Hidup Hijau Versi penuh
Ragam

Filosofi Pasang Surut ala Ibu Djamrud: Merawat Akar Mangrove, Menjaga Masa Depan Untia

Klikhijau.com - Dari kawasan pesisir Untia, Kecamatan Biringkanaya, Kota Makassar, garis pantai bukan sekadar batas geografis tempat bertemunya air asin dan daratan lumpur. Bagi Djamrud Damayanti,...

Oleh Arman Jaya 23 May 2026 17:18 5 menit baca

Klikhijau.com - Dari kawasan pesisir Untia, Kecamatan Biringkanaya, Kota Makassar, garis pantai bukan sekadar batas geografis tempat bertemunya air asin dan daratan lumpur.

Bagi Djamrud Damayanti, seorang local champion perempuan yang telah mendedikasikan hidupnya sebagai pelindung ekosistem pesisir, hamparan hijau itu ia maknai sebagai ruang interaksi ekososial, sebuah sistem terpadu di mana dinamika sosial masyarakat nelayan melekat erat pada ketahanan ekologis hutan mangrove.

Lebih dari dua dekade, Djamrud memandang vegetasi intertidal ini melampaui fungsi fisik tanaman hiasan bibir pantai. Ia merumuskan sebuah analogi filosofis yang mendalam mengenai keterhubungan manusia dan alam.

Anatomi Ekologis dan Paradigma Sosial Restorasi Mangrove Untia

"Mangrove itu ibarat kita, manusia, yang hidup di antara pertemuan laut dan daratan. Ia hidup di titik pasang surut, namun ia selalu kuat," ujar Djamrud dengan nada penuh penghayatan. Kamis, 21 Mei 2026

[irp]

Bagi kita yang mengamati, metafora ini merefleksikan realitas kehidupan masyarakat pesisir yang dinamis, sering kali berada dalam posisi rentan atau surut secara ekonomi maupun sosial dan krisis iklim, namun dituntut memiliki daya resiliensi tinggi untuk bertahan menghadapi ketidakpastian lingkungan.

Ketangguhan filosofis yang disampaikan Djamrud tersebut nyatanya berakar pada karakteristik biologis dan mekanis yang rigid dari vegetasi mangrove itu sendiri.

Secara ilmiah, kawasan Untia didominasi oleh genus Rhizophora (bakau) dan Avicennia (api-api). Spesies-spesies ini dibekali dengan adaptasi morfologi luar biasa untuk bertahan di zona intertidal, wilayah ekstrim yang secara berkala tergenang air laut salinitas tinggi dan dihantam energi gelombang.

Sistem perakaran tunjang (stilt roots) pada Rhizophora bertindak seperti jangkar tiga dimensi yang saling mengunci di dalam substrat lumpur yang labil. Ketika gelombang pasang atau badai melanda, anyaman akar ini berfungsi sebagai sistem peredam kejut hidrolik. Struktur mikro ini memecah energi kinetik gelombang hingga lebih dari 66% saat melewati kerapatan vegetasi, sehingga melindungi daratan di belakangnya dari erosi masif dan abrasi pantai.

Benteng Senyap di Kala Terlelap

Ketika malam tiba dan sebagian besar warga pesisir Untia beristirahat dalam kenyamanan rumah mereka, benteng ekologis ini bekerja dalam keheningan tanpa henti.

[irp]

"Bahkan mangrove inilah sebenarnya yang anjagaiki (menjaga kita), khususnya yang ada di pesisir. Mangrove itu penuh makna, ada waktu ia tetap tegak menahan saat dihempas ombak dan badai di saat kita terlelap tidur," ungkap Djamrud.

Konsistensi Djamrud dalam merawat pelindung senyap ini diakui secara luas, Akbar Talib, memberikan kesaksian bahwa dedikasi sang pelopor telah mengakar sejak lama.

"Yang saya ingat, Ibu itu mengurus mangrove sejak saya masih SD, sekitar tahun 2005. Waktu itu masih jamannya Pak Freddy Numberi (Menteri Kelautan dan Perikanan 2004–2009)," kenang Akbar.

Konsistensi lintas dekade ini membuktikan bahwa gerakan konservasi di Untia bukanlah respons momentum atau seremonial belaka, melainkan komitmen jangka panjang yang tangguh.

Dalam perjalanannya, Djamrud menyadari bahwa konservasi kawasan pesisir yang luas tidak dapat bertumpu pada aksi individu tunggal. Model gerakan di Untia berkembang menjadi aksi kolektif berbasis komunitas (community-based mangrove management).

Djamrud bergerak beriringan dengan warga sekitar, di antaranya terdapat nama Daeng Sampara dan Daeng Saleh yang mengambil peran krusial di lini depan.

[irp]

Daeng Saleh, yang sehari-harinya menghadapi dinamika laut sebagai nelayan tradisional Untia, kini aktif memimpin unit pembibitan (nursery) mangrove lokal.

Keterlibatan aktif nelayan seperti Daeng Saleh menunjukkan pergeseran penting: pelaku ekonomi pesisir tidak lagi memandang mangrove sebagai penghambat akses perahu, melainkan sebagai wilayah asuhan (nursery ground) bagi komoditas tangkapan mereka seperti ikan, kepiting bakau, dan udang.

Akurasi Zonasi dan Potensi Karbon Biru

Gerakan swadaya dari akar rumput di Untia ini berkelindan erat dengan prinsip-prinsip restorasi ilmiah moderen. Mashud Azikin, Ketua Divisi Lingkungan Hidup Yayasan Butta Porea Indonesia, dalam keterangan tertulisnya, menggarisbawahi bahwa efektivitas pelestarian ekosistem ini sangat bergantung pada ketepatan metodologi di lapangan. Sabtu, 23 Mei 2026.

"Restorasi mangrove tidak bisa dilakukan asal tanam. Setiap jenis mangrove memiliki zona hidup yang berbeda berdasarkan ombak, pasang surut, dan jenis tanah. Salah tanam, bibit mati. Tepat zonasi, mangrove tumbuh menjadi pelindung kehidupan pesisir," papar Mashud.

Secara ekologis, kegagalan banyak proyek restorasi di berbagai belahan dunia disebabkan oleh pengabaian terhadap hukum zonasi alami ini. Di pesisir Sulawesi Selatan, termasuk Untia, struktur zonasi hutan mangrove secara umum terbagi menjadi beberapa sabuk ekologis utama berdasarkan tingkat toleransi terhadap penggenangan air asin dan karakteristik mekanis substrat.

Menjaga Iklim - Kesejahteraan

Di samping fungsi pertahanan fisik, nilai penting ekosistem mangrove Untia kini meluas ke sektor mitigasi krisis iklim global melalui kontribusinya dalam siklus biogeokimia.

[irp]

Mashud Azikin menjelaskan bahwa hutan mangrove merupakan salah satu penyerap karbon biru (blue carbon) paling efektif di planet bumi. Melalui proses fotosintesis yang intensif, vegetasi mangrove menyerap karbon dioksida (CO2) dari atmosfer secara masif.

Berbeda dengan hutan daratan (green carbon) yang menyimpan sebagian besar karbonnya pada biomassa kayu di atas tanah, ekosistem mangrove mengunci mayoritas karbon di dalam tanah sedimennya yang anaerobik (miskin oksigen).

Kondisi tanpa oksigen di bawah air pasang memperlambat proses pembusukan bahan organik secara drastis, sehingga karbon dapat tersimpan dengan aman selama ribuan tahun. Riset menunjukkan bahwa kapasitas penyimpanan karbon per hektar pada hutan mangrove mampu mencapai 3 hingga 5 kali lebih besar dibandingkan dengan hutan tropis daratan.

Peluang ekologis ini, lanjut Mashud, membuka dimensi baru yang sangat menarik: nilai ekonomi yang berkelanjutan. Di era digital saat ini, tata kelola mangrove tidak lagi melulu tentang konservasi yang restriktif, melainkan membuka ruang bagi peningkatan kesejahteraan ekonomi masyarakat lokal melalui beberapa skema:

Skema Perdagangan Karbon (Carbon Trading): Insentif finansial global bagi komunitas yang berhasil menjaga dan meningkatkan stok karbon di wilayahnya.

Pengembangan Ekowisata Berbasis Edukasi: Pemanfaatan jasa lingkungan tanpa merusak tegakan pohon.

Diversifikasi Produk Olahan Pesisir: Pemanfaatan buah mangrove jenis tertentu (seperti sirup atau bedak tradisional dari Sonneratia) serta pewarna batik alami dari kulit kayu sisa, yang diolah tanpa merusak pohon induk.

Melalui integrasi antara filosofi resiliensi lokal Djamrud Damayanti, aksi nyata pembibitan komunitas oleh Daeng Saleh, pesisir Untia sedang menulis ulang narasi masa depannya.

Menjaga mangrove di wilayah ini bukan lagi sekadar upaya konservasi lingkungan yang terisolasi. Ini adalah manifesto pembangunan pesisir yang holistik, sebuah ikhtiar terpadu yang secara simultan mengamankan kestabilan iklim global, kesehatan ekosistem laut, ketahanan ekonomi rumah tangga nelayan, serta keselamatan generasi mendatang dari ancaman kenaikan permukaan air laut.

Ekosistem mangrove yang terjaga dengan baik memastikan bahwa garis pantai Untia tetap menjadi tempat di mana kehidupan manusia dan alam dapat terus tumbuh beriringan secara harmonis.

Topik terkait
#mangrove #aktivis lingkungan #benteng pesisir untia #ekososial