Dinamika Perjalanan Bank Sampah di Makassar Selama Pandemi Covid-19

Klikhijau.com - Pandemi covid-19 telah mengubah banyak kebiasaan rutin, termasuk di sektor pengelolaan sampah. Salah satu corong penanganan daur ulang sampah yang selama ini berkontribusi besar dalam...

Dinamika Perjalanan Bank Sampah di Makassar Selama Pandemi Covid-19
Bacakan Artikel

Klikhijau.com - Pandemi covid-19 telah mengubah banyak kebiasaan rutin, termasuk di sektor pengelolaan sampah. Salah satu corong penanganan daur ulang sampah yang selama ini berkontribusi besar dalam pengurangan sampah agar tidak semuanya terbuang ke TPA adalah bank sampah. Nah, bagaimana nasib bank sampah selama pandemi?

Artikel ini akan menuliskan tentang potret bank sampah di Makassar selama pandemi. Seperti diketahui, Kota Makassar merupakan satu kota di Indonesia yang dikenal memiliki geliat tinggi dalam pengembangan bank sampah.

Keberadaan bank sampah di Makassar sudah tersebar hingga ke tingkat RT/RW—komunitas bank sampah tersebut sekaligus menjadi elemen penting dalam upaya mengubah paradigma masyarakat dalam penanganan sampah yang semakin mencemaskan.

Bank sampah merupakan konsep pengumpulan sampah kering dan pemilahan dengan manajemen layaknya perbankan, tapi objek tabungan bukan uang melainkan sampah. Warga yang menabung juga disebut nasabah yang ditandai dengan buku tabungan. Skema bank sampah dilakukan dengan cara menimbang jenis sampah tertentu yang kemudian dihargai dengan uang.

Perkembangan pesat bank sampah

Bank sampah dibangun untuk meningkatkan kepedulian masyarakat agar dapat ‘berkawan’ dengan sampah dan mendapat manfaat ekonomi dari sampah. Selain itu, bank sampah diharapkan mendorong kesadaran warga untuk memilah sampah bahkan mengelolahnya secara mandiri demi mengurangi timbulan sampah di TPA.

Data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menunjukkan, bank sampah telah berkontribusi besar dalam mengurangi sampah hingga 1,7 persen pada 2017. Ini suatu potensi besar dalam penanganan sampah plastik.

Tak heran bila sejauh ini antusias warga untuk mendirikan bank sampah juga terus meningkat sebagai bagian dari tumbuhnya kesadaran mengelola sampah. Pada tahun 2014, bank sampah di Indonesia berjumlah sekira 1.172 unit, setahun kemudian meningkat jumlahnya menjadi 3.075 unit.

Penambahan terus terjadi, pada tahun 2016 menjadi 4.280 unit. Lalu, meningkat lagi menjadi 5.244 di tahun 2017 dan mengalami perkembangan pesat di tahun 2018 yakni menjadi 8.036 unit di seluruh Indonesia. Data terbaru yang terkonfirmasi dari Asosiasi Bank Sampah Indonesia (ASOBSI), bank sampah secara nasional hingga tahun 2020 sudah mencapai lebih dari 11.000 unit.

Semarak bank sampah yang dari tahun ke tahun mengalami peningkatan tentu cukup menggembirakan. Peran bank sampah tidak saja dalam hal pengurangan sampah yang berakhir di TPA, tetapi dalam upaya membangun kesadaran warga akan pentingnya menangani sampah secara benar.

Sayangnya, sejak masa pandemi Covid-19, bank sampah juga mengalami penurunan kinerja. Hal ini membuat distribusi sampah secara otomatis akan berakhir di TPA.

Geliat bank sampah di Makassar selama Pandemi

Di Kota Makassar misalnya, dari 800 bank sampah unit (BSU) yang ada (data ASOBSI), hanya ada 150-an yang aktif di masa pandemi. Dari total bank sampah di tersebut, rinciannya adalah 602 adalah BSU, 38 lainnya adalah bank sampah instansi/kantor dan ada 272 lainnya adalah bank sampah sekolah. Total nasabah dari 800 bank sampah tersebut cukup besar yakni lebih kurang 24.080 Kepala Keluarga.

Baca Selanjutnya
Pilih Halaman:
  • 1
  • 2