Di Balik Kebakaran Hutan Bukan Salah Kemarau Semata, Mengapa Bentang Alam Kita Rapuh?

Di Balik Kebakaran Hutan Bukan Salah Kemarau Semata, Mengapa Bentang Alam Kita Rapuh?
Personil pemadam kebakaran hutan yamg tengah berjuang keras melakukan pemadaman - Foto: Ist
Bacakan Artikel

Klikhijau.com - Ketika pertengahan tahun menyapa dan udara Agustus mulai terasa menyengat, narasi yang paling sering berulang di ruang publik adalah tuduhan terhadap cuaca. Angin kencang, suhu udara yang melonjak, serta vegetasi yang mongering kerap dituduh sebagai terdakwa utama dalam setiap peristiwa kebakaran hutan dan lahan.

Narasi lama ini seolah menempatkan bencana tahunan tersebut sebagai takdir alam yang tak terelakkan, sebuah siklus rutinitas musiman yang harus diterima dengan pasrah. 

Tahun ke tahun hal ini berulang, dinamika ekologis ini seolah ada hal lain yang ditanggalkan dari fakta yang paling mendasar, bahwa alam hanya menyediakan kondisinya, sementara kelalaian manusia, minimnya pengawasan di garis tapak, dan pengabaian tanggung jawab tata kelola adalah pemantik sejati yang menyalakan kobaran api.

Berdasarkan pemutakhiran data resmi dan laporan terkini per Agustus 2026, gambaran dinamika kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menunjukkan kompleksitas yang tidak bisa lagi dipandang secara dangkal. Merujuk pada pemantauan berkala yang dihimpun oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) serta verifikasi Staf Utama Operasi (Stamaops) Polri per 23 Agustus 2026, total akumulasi indikasi luas lahan yang terbakar secara nasional sepanjang tahun berjalan telah menembus angka 64.341 hingga 72.798 hektare.

Di saat yang sama, Sistem Pemantauan Karhutla (SIPONGI) Kementerian Kehutanan mengonfirmasi lonjakan tajam titik panas (hotspot) di mana ratusan titik baru terus bermunculan dalam hitungan hari. Di balik deretan angka puluhan ribu hektare tersebut, pertanyaan terbesarnya bukanlah seberapa terik sinar matahari di bulan Agustus, melainkan mengapa bentang alam kita bisa begitu rapuh dan mudah terbakar dari tahun ke tahun.

Mengurai Anatomi Kelalaian di Lahan Gambut

Untuk memahami mengapa api begitu mudah menjalar, kita mesti melihat kembali bagaimana bentang alam gambut yang mulanya basah dan terlindungi kini berubah menjadi hamparan bahan bakar raksasa. 

Membedah peta sebarannya, fenomena kebakaran selama Agustus terkonsentrasi kuat di wilayah dengan jejak intervensi manusia yang masif. 

Dari data BNPB dan Kepolisian Republik Indonesia per 23 Agustus 2026, Kalimantan Barat menduduki peringkat tertinggi dalam luasan area terdampak karhutla dengan total area terbakar mencapai lebih dari 38.310 hektare. Provinsi Riau menyulam angka luasan terbakar hingga 16.249 hektare, disusul Kalimantan Selatan sebesar 8.019 hektare, Kalimantan Tengah sebesar 7.634 hektare, serta wilayah Sumatera Selatan dan Jambi yang turut menyumbang ribuan hektare lahan gosong.

Sebagian besar kawasan yang hangus di provinsi-provinsi ini adalah ekosistem gambut yang telah rusak akibat kanalisasi yang tidak terkontrol. Pengeringan gambut demi pembukaan lahan perkebunan maupun pertanian skala besar telah menurunkan tinggi muka air tanah secara drastis.

Baca Selanjutnya
Pilih Halaman:
  • 1
  • 2