Daun yang Gugur dan Ingatan Tentang Sekolah
Klikhijau.com - Di teras rumah, saya menyeruput kopi Toraja sambil menyaksikan halaman rumah yang banyak dipenuhi dedauanan kering yang terjatuh ditiup angin. Kelopak-kelopak bunga berupaya bertahan menangkap matahari yang masih ranum di pagi hari. Debu-debu menutupi daun-daun yang masih bertahan. Setiap melihat daun-daun gugur saya teringat masa kecil.
Tahun 1998
Jika pagi telah tiba dan mendengar kata “sekolah”. Saya selalu mencari alasan untuk tidak pergi ke sekolah: pura-pura sakit kepala atau sakit perut. Apa saja yang bisa saya jadikan alasan untuk tidak ke sekolah. Saya malas sekali ke sekolah. Sekolah itu membosankan bagi saya. Tidak ada yang menarik.
Saya lebih suka bermain di pinggir kali, bermain perosotan di lereng gunung, atau memanjat pohon dan bergelantungan. Tapi Ibu saya seperti pokok pohon jati di musim kemarau: tegar dan tidak mudah roboh, selama masih bisa ditahan maka ia akan berkata kalau di sekolah nanti sakitnya hilang sendiri. Atau karena malas mandi dan tidak berkehendak bangun dari tempat tidur, maka Ibu akan menggendong saya menuju sumur atau gumbang yang tersedia air. Meski udara dingin, ia akan menyirami badan, wajah dan kepala saya dengan air. Jikalau hujan, maka ibu akan mencari daun pisang atau daun keladi yang lebar, orang di kampung saya menyebutnya daun suli, yang berukuran besar untuk dijadikan payung.
Sambil menggenggam tangan saya, ia akan bilang, “Pokoknya kamu harus ke sekolah. Kamu mau jadi apa kalau tidak sekolah?”
Ibu sudah menyiapkan seragam sekolah, buku dan pensil untuk dimasukkan ke dalam tas. Alhasil saya pergi sekolah dalam keadaan hujan mencurah dan terpaksa.
Lonceng berbunyi saat saya tiba di sekolah. Terlihat beberapa siswa sudah berbaris rapi di depan kelas untuk diperiksa kukunya dan bersalaman dengan ibu guru. Siswa yang terlambat diberikan hukuman berdiri dengan satu kaki sementara siswa yang kukunya panjang dipukul dengan penggaris. Ibu guru galak, di kelas kapurnya bisa terbang seperti burung ababil yang melemparkan batu.
Di sekolah saya mulai belajar dan pelajaran hanya diikuti oleh hampir semua siswa. Saya bukanlah siswa yang pintar, jika diukur dengan ranking. Biasanya siswa yang pintar mengisi bangku-bangku paling depan. Kalau saya lebih memilih duduk di bangku tengah.
Kali ini saya menyimak pelajaran bahasa Indonesia. Membaca.
Itu Ani dan Budi
Itu Ibu Budi
Itu Bapak Budi
Ani kakak Budi
Ibu Budi pergi ke pasar
Di ruang kelas saya, terdapat peta Indonesia, globe, rak buku, gambar-gambar pahlawan, foto presiden dan wakil presiden yang dipisah oleh gambar pancasila di tengah yang tertempel di dinding di atas papan tulis serta daftar nama-nama menteri yang wajib dihafal waktu itu. Tidak ada yang berani bicara kalau belum dipersilakan. Ibu guru biasanya marah dan melempar kapur yang berbentuk lonjong seukuran jari telunjuk orang dewasa yang digunakan sebagai alat untuk menulis di papan tulis yang berwarna hitam. Kapur yang melayang lebih daripada kata-kata penyemangat.
Suasana kelas menakutkan sekali. Kami sangat berhati-hati mengucapkan kata-kata. Saya menjadi pucat setiap kali tatapan Ibu guru mengarah ke saya hingga akhirnya saya tidak bisa menolak tatapan Ibu guru yang menakutkan itu seperti bidikan anak panah yang siap dilesatkan ke target. Ia menunjuk saya untuk membaca. Tapi saya membacanya masih gagap, terpotong-potong dan kadang berhenti.
“Dasar bodoh.” Kata Ibu guru.
Saya bertahan di depan kelas. Saya berdiri dilihat teman kelas hingga lonceng berbunyi tanda istirahat. Keluar main. Betapa memalukannya. Kini, saya merasa bebas.
Di luar kelas awan masih gelap dan air masih meloncat-loncat dari tanah. Tidak ada waktu untuk bermain seperti biasa. Di musim penghujan, bunga-bunga asoka dan kembang sepatu tumbuh, berkembang dan berbunga mekar di depan kelas. Rumput-rumput tumbuh dengan liar menutupi mata kaki. Bel kembali berbunyi dan pelajaran dilanjutkan dengan mengenal bahasa daerah atau lontara’ oleh pak Anwar, guru bahasa daerah.
Ia suka melucu dan sering usil dengan siswi perempuan dengan memegang tangan siswa perempuan ketika berkeliling memantau siswa-siswa belajar. Meski dianggapnya sebagai candaan, tapi sepertinya ia mengidap penyakit. Tidak hanya sekali. Sering kali begitu. Tidak satupun siswa yang berani melapor ke orang tuanya. Guru adalah penguasa. Sebagaimana pohon beringin tumbuh rindang dan gambar beringin menempel di ruang-ruang kelas.
Hanya ada satu hari yang yang saya senangi adalah hari Jumat selain karena cepat pulang juga karena hari di mana saya belajar pelajaran kesenian dan menggambar, atau hari Ketika guru tertentu tidak hadir, maka guru yang menggantikan akan meminta kami menyiapkan buku gambar atau membagikan selembar kertas kosong untuk menggambar. Dan ajaibnya saya selalu menggambar dua gunung bersampingan dan matahari yang tersenyum di tengahnya dan pohon kelapa di tepi jalan. Hamparan sawah membentang melengkapi pemandangan. Sebagai anak yang tumbuh di kampung dekat gunung, pohon jati dan pohon kelapa sudah menjadi sekolah sewaktu kecil.
Suatu ketika di lain hari saat pelajaran matematika, sebuah pelajaran yang tidak saya senangi, saya ditunjuk oleh Ibu guru mengerjakan soal perhitungan, penjumlahan bersusun di papan tulis. Saya mengerjakannya tetapi jawaban saya salah. Sial. Ibu guru memarahi saya, mendekatkan penghapus ke wajah saya lalu menampar wajah saya. Saya terpelanting. Wajah saya memerah karena bekas telapak tangan Ibu guru. Saya menahan tangis. Saya takut dengan Ibu guru. Saya kembali ke tempat duduk dalam keadaan menunduk. Kali ini bukan hanya ibu guru yang tertawa. Teman-teman ikut mengejek.
“Masih saja bodoh. Itu-itu terus,” bisik seorang anak paling pintar di kelas depan.
Saya ingin berteriak. Ingin keluar dari kelas dan tidak kembali. Tapi saya ingat kata Ibu: “Pokoknya kamu harus sekolah. Kalau tidak, kamu mau jadi apa?”
Ibu saya juga pernah berpesan jika ada yang memegang bagian kepalamu dengan maskud merendahkan, jangan diam saja. Kamu harus melawan. Tapi bagaimana saya bisa melawan. Ibu sendiri yang menitip saya di sekolah dan patuh kepada guru. Perasaan saya gamang. Sekolah macam apa ini.
Ibu di rumah tidak tahu apa yang telah terjadi dengan anaknya di sekolah, yang ia tahu anaknya sedang belajar agar bisa pintar seperti Habibie. Ibu saya punya harapan tinggi terhadap saya meski saya termasuk anak yang terbelakang dalam menangkap pelajaran di sekolah. Ibu ingin saya jadi orang, punya jabatan atau pekerjaan yang terpandang.
Dulu Ibu saya sangat ingin jadi guru, cita-cita Ibu yang tidak sempat tercapai walau pendidikan sudah dituntaskannya di PGA. Ibu lebih memilih menjadi Ibu rumah tangga setelah menikah dengan ayah saya. Sebenarnya kalau dilihat dari garis keturunan, Ibu saya adalah seorang keturunan bangsawan tapi menikah dengan Ayah saya yang berasal dari keluarga petani. Atas nama cinta Ibu saya rela menikah dengan Ayah meski tanpa restu dari kakek, Ayah dari Ibu saya. Ia melepaskan segala bentuk embel-embel kebangsawanannya. Tidak banyak orang yang tahu. Ibu dan Ayah lebih memilih merahasiakannya. Menutup rapat-rapat rahasia masa lalunya. Dengan demikian garis keturunan bangsawan berhenti pada saya.
Namun itu tidak penting. Saya juga tidak begitu peduli. Di sekolah saya tidak pernah masuk dalam sepuluh besar dari dua puluh delapan siswa. Teman-teman juga sering menjauhi kami, siswa yang tidak begitu pandai. Mereka hanya ingin berteman dengan anak-anak yang pintar, kaya dan punya garis keturunan yang baik atau berdarah biru. Guru-guru juga pilih kasih dalam memberi nilai. Seolah-olah siswa yang tidak begitu pandai dianggap ata. Saya benar-benar membenci itu semua. Dikiranya kita ini masih budak Belanda.
Sejak saat itu saya mulai bersemangat untuk belajar. Malam itu, saya menatap buku. Saya mencoba mengeja huruf satu per satu. Mulai berlatih membaca dan berhitung di rumah. Kakak saya mengajari saya meski dengan susah payah. Keras dan bertalu. Ia mewarisi sifat ibu, jika Ibu seperti pokok pohon jati maka kakak Perempuan saya seperti pokok pohon mangga. Apakah mahluk bernama perempuan memang demikian? Kadang kakak saya menyuruh mengeja S ditambah E, tapi saya baca SEKOLAH.
“K ditambah U.” kata Kakak saya sambil menunjuk buku belajar membaca. Saya baca KUDA.
Yah! Saya sepertinya memang lamban dalam belajar. Kakak saya menyerah untuk mengajari saya waktu itu. Hingga suatu hari saya mulai pandai membaca dengan baik, saya sangat senang.
Kini saya jadi murid yang paling rajin ke perpustakaan. Saya pinjam buku apa pun yang bisa saya bawa pulang. Saya mulai lancar membaca dan bisa menjawab soal matematika. Pelan-pelan, saya keluar dari ruang kelas Saya mulai sering berkunjung ke perpustakaan sekolah. Meminjam buku-buku cerita, ilmu alam dan sosial. Saya membawa buku-buku itu di bawah pohon Ketapang yang rindang lalu membacanya. Saya melahap bacaan yang ada. Ketika mobil perpustakaan keliling mampir ke sekolah, saya begitu antusias untuk meminjam buku untuk dibaca di taman baca. Pikiran saya mulai terbuka. Tumbuh dan berkembang. Gairah belajar saya bertambah. Saya membaca, saya melawan. Jika membaca membuat saya tidak bisa melawan, saya akan berhenti bersekolah. Itu janji saya dulu.
Setamat SD, Ibu menyarankan saya masuk pesantren untuk belajar ilmu agama. Sekolah di SD saja demikian menakutkan di masa itu. Guru-guru yang mengajar seperti orang yang baru keluar dari barak. Apalagi ini di pesantren. Kenapa ibu tidak mendaftarkan saya sekalian jadi tentara. Saya merasa kesal pada Ibu waktu itu. Tetapi Ibu menginginkan saya menjadi ustaz. Tapi saya menolak. Di benak saya, sudah terbayang bagaimana kehidupan di sana. Saya lebih memilih masuk di sekolah umum. Di sekolah itu saya jauh lebih beradaptasi, mengalahkan anak-anak yang tumbuh di lingkungan perkotaan. Tanpa sekat kelas sosial dan identitas.
***
Di teras rumah saya melihat anak-anak masih pagi-pagi sudah berangkat ke sekolah. Saya tahu, di antara mereka ada anak yang dulu seperti saya: bodoh, lamban, dijauhi. Tapi saya juga tahu: setiap anak bisa tumbuh. “Tugas manusia adalah menjadi manusia.” kata Multatuli. Dan bagi saya sekolah terbaik bukanlah ruang kelas dengan fasilitas terbaik yang kelak hanya menghasilkan kelas-kelas pekerja yang didoktrin menyesuaikan kebutuhan industri, tetapi melainkan hutan, gunung dan tanah lapang yang diam-diam mendidik saya menjadi manusia. Gugurnya daun bukanlah tanda kejatuhan melainkan upaya untuk berganti dan bertumbuh.